Mencari Kartini

0
335

Suatu pagi di bulan April, aku terbangun dengan perasaan yang berbeda. Entah kenapa, pikiranku langsung melayang pada satu nama, Kartini. Ya, sebentar lagi akan memasuki hari peringataanya. Namun, selain lagu yang sering dinyanyikan sewaktu kecil “Ibu kita Kartini” apa lagi yang aku tahu tentangnya? bahkan lirik yang ku anggap khatam akannya, hanya sepenggal tinggal di kepala, sepenggal lainnya mungkin di rampas oleh waktu atau tertinggal pada debu ruang kelas sekolah dasar. Entahlah!

Udara masih terasa lembap sisa hujan semalam. Diiringi cahaya matahari yang mengintip malu-malu dari balik tirai. Selain kelembapan, sisa hujan semalam melalui air rembesannya juga telah menggambar dinding kamar dengan gaya abstrak. Sambil menatap langit-langit kamar, aku bermonolog. Siapa itu Kartini? Mengapa namanya begitu harum, tapi tidak diketahui penyebab keharuman namanya.

Oleh karena tak menemukan jawaban, aku bangkit dari tempat tidur, merapikannya perlahan, sembari merapikan kecoak-kecoak yang berkeliaran di pikiran. Langkahku membawa ke sudut rumah untuk mencuci muka, berharap dinginnya air bisa membangunkan kesadaran lebih dalam dan keingintahuan yang sudah lama tidur.

Dan pagi itu, aku keluar rumah tanpa tujuan. Sebuah perjalanan yang hanya mengikuti naluri. Sebab, orang bijak pernah berkata, perjalanan bisa membuka mata dan hati. Oleh karenanya, siapa tahu, aku bisa menemukan Kartini di jalan. Di tiap-tiap wajah yang aku temui atau di wajah-wajah perempuan yang kulihat.

Hanya bercelana pendek dan jaket rajut, aku mengendarai motor untuk berkeliling Meulaboh, negerinya Teuku Umar. Namun tak satupun pemandangan yang mampu menggugah pikiran. Pada akhirnya aku berhenti di warung kopi yang ada di perempatan Desa Kuta Padang, salah satu desa di Meulaboh, Aceh, Indonesia. Sebuah warung kopi langganan yang baru tiga jam lalu aku tinggalkan. Langkah kembali membawaku ke sini. Aku duduk di sebuah kursi kayu di tengah warung, tepat di depan kasir yang tidak jauh dari dapur warung.

Tak berselang lama, ibu pedagang kue datang bersama anaknya yang memakai seragam sekolah. Si ibu buru-buru membawa kue ke lemari kaca di pojok warung, kemudian menata dagangannya. “Mungkinkah Kartini ada dalam dirinya?, dalam ketekunan, dalam semangat mencari nafkah untuk menghidupi anaknya?” Entahlah, aku sedang mencari Kartini!

Kemudian pandanganku beralih pada anaknya yang sedang menunggu sembari membaca buku. Entah buku apa yang ia baca, mungkin buku pelajaran berisi materi yang akan diajarkan oleh guru saat di kelas. Mungkin juga novel atau buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun, satu hal yang pasti, si anak dengan khusyuk membaca. Wajahnya serius, tatapannya fokus pada buku yang dipegangnya. Terkadang sembari membaca, ia mengernyitkan dahi. Kemudian ia tutup bukunya lalu melihat sekeliling, tak lupa ia bercermin di spion motor, melihat dirinya sendiri. Berulang kali ia melakukannya, sembari menunggu ibunya.

Entah apa maksud anak itu. Mungkin ia kesulitan mencerna isi buku, mungkin takut terlambat ke sekolah, mungkin juga sama sepertiku, ia sedang merapikan kecoak-kecoak dalam kepalanya. Mungkin ia berpikir tentang kerudung bergo yang telah keluar bulu-bulu halus, atau tentang baju putih yang telah menguning di sekitaran ketek, atau tentang rok yang telah banyak tambalannya, atau tentang sepatu buluk warisan dari kakaknya atau juga tentang penggunaan seragam yang melegitimasi kesenjangan atas nama kesetaraan. Entahlah, aku sedang mencari Kartini!

Selagi aku tenggelam dalam dugaan-dugaan, si ibu telah selesai dengan urusan perkueannya. Tangannya kini sibuk menggulung plastik-plastik kosong, mengangkat nampan, dan memastikan tak ada yang tertinggal. Ia menghampiri anaknya yang duduk di motor bebek tua tak jauh dari pintu warung. Lalu dengan cekatan, ia starter motor dan knalpot terbatuk-batuk kecil sebelum akhirnya motor itu hidup. Mereka pun berlalu, pelan-pelan menyusuri jalan yang mulai ramai.

Aku masih mematung di tempat dudukku. Mungkin wajahku penuh tanya, atau mungkin sorot mataku menyiratkan keingintahuan yang tak mampu kusembunyikan. Entah bagaimana, pemilik warung menghampiriku, membawa sepancung kopi yang aromanya kuat tapi lembut. Ia duduk di bangku sebelah, seraya berkata, “Mantap kali ibuk tu, Deuk!”

Aku menoleh, tak ingin memotong kalimat yang akan meluncur selanjutnya. “Suaminya pergi begitu saja, tinggalkan dia dan anaknya tanpa kabar, tanpa alasan. Sudah bertahun-tahun begitu. Sekarang, dialah yang jadi segalanya buat anak itu. Pagi-pagi buta dia antar kue ke beberapa warung, lalu lanjut jualan nasi pagi di Simpang Empat Runding. Kadang, kalau ada sisa dagangan, itu yang dibawa pulang buat makan malam mereka.” Aku menyimak, diam, sesekali menganggukkan kepala, seraya membiarkan kata-katanya menggantung dalam benak. “Orang cuma lihat dia bawa nampan, antar kue. Tapi aku tahu, setiap langkahnya itu berat, sebab dia tetanggaku.” lanjut pemilik warung.

Seketika, ruang dadaku terasa sempit. Cerita itu menjentik kesadaran yang nyaris tertidur dalam kenyamanan hidupku. Aku mengangguk pelan, tak ingin terlihat terlalu terenyuh, tapi juga tak bisa pura-pura kuat. Lalu terlintas satu kalimat dalam benakku, sesuatu yang lahir dari hal yang menyenangkan pun belum tentu berakhir dengan kesenangan juga. Ah, entahlah, aku sedang mencari Kartini!

Seraya menyeruput kopi, kuketikkan nama “Kartini” di mesin pencari. Dan seperti biasa, muncullah potret seorang perempuan bersanggul, berwajah tenang, mengenakan kebaya. Di bawahnya tertulis: Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia. Namun di sanalah aku selami kebingungan lebih lanjut. “Bukankah Kartini pernah menolak gelar itu? Ia tak ingin dikenang karena darah biru. Ia menolak feodalisme, baik dalam masyarakat maupun dalam cara pandang terhadap perempuan. Ia memilih kesederhanaan, meninggalkan simbol kebangsawanan yang baginya hanya menjadi sekat antara manusia. Bahkan dalam cara kita mengenangnya, masih ada upaya endemik dan laten dalam melegitimasi feodalisme pada sunyinya diam”, Gumamku.

Semakin aku membaca, semakin terasa bahwa ada upaya untuk menjinakkan Kartini. Ia serupa simbol yang aman, dihias rapi dengan sanggul dan kebaya, disandingkan dengan senyum tenang, diperingati setahun sekali dengan pidato. Namun di balik segala kemeriahan itu, adakah ruang untuk benar-benar mendengar ide atau gagasannya? Bukankah Kartini menulis berbagai gelisah yang mempertanyakan banyak hal yang dianggap lumrah oleh masyarakat di zamannya? tentang pernikahan paksa, pendidikan yang dibatasi, dan peran perempuan yang dikurung dalam rumah? Namun hari ini, di tengah gempita peringatan yang katanya untuk mengenangnya, suara kritis itu nyaris tak terdengar. Ia dipuja, tapi tak dibaca. Dikenang, tapi tak diperjuangkan ulang.

Ada yang lebih menyedihkan, mungkin telah banyak orang sibuk mempertahankan citra Kartini sebagai sosok ideal yang sudah selesai, alih-alih melihatnya sebagai pemikir yang gelisah. Telah banyak orang memandangnya sebagai ikon budaya, bukan sebagai pemantik perlawanan. Seakan-akan perjuangan sudah selesai, cukup dengan merayakan. Padahal, ketidakadilan yang ia lawan masih menjelma dalam rupa yang berbeda, upah yang timpang, kekerasan yang dilanggengkan, akses pendidikan yang belum merata, permainan gelar-gelaran, dan suara-suara perempuan yang masih kerap dibungkam dengan cara halus maupun kasar. Lalu aku bermonolog dalam hati, “Kalau begitu, apa gunanya peringatan ini? Apa artinya mengunggah foto Kartini, mengenakan kebaya, atau menyisipkan kutipan dari Habis Gelap Terbitlah Terang, kalau setelah itu, tak ada yang berubah?”

Terlintas di pikiran bahwa jangan-jangan peringatan hari Kartini bukan untuk meneruskan semangatnya, tapi untuk menenangkan rasa bersalah karena belum benar-benar mewujudkan cita-citanya. Peringatan semacam pelipur lara kolektif: “Lihat, kami sudah merayakanmu. Sudah cukup, bukan?”

Pada akhirnya, aku pun menutup mesin pencari, meletakkan ponsel beriringan dengan matahari yang mulai berani menampak diri. Dengan pikiran yang masih berputar-putar, aku pun bangkit dari kursi, bersiap meninggalkan warung. Namun belum sempat melangkah jauh, suara pemilik warung menyusul dengan lantang: “Peng kupi ka bayeu!” (Uang kopinya dibayar dulu!). Kimbeknya. baru kusadari, aku datang hanya bermodal celana pendek, jaket rajut, dan segudang pikiran yang penuh tanya. Selain gagal menemukan Kartini, aku juga gagal menemukan uang untuk membayar secangkir kopi.

Penulis: Abdurrahman Addakhil, peserta Magang Youth Across Diversity YKPI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini