Apakah teman-teman sudah tahu bahwa meditasi mindfulness atau berkesadaran dapat membantu melawan diskriminasi dan ketidakadilan termasuk rasisme, patriarki dan eksploitasi terhadap alam? Barangkali teman-teman pernah mendengar atau bahkan pernah mencoba meditasi sebagai cara untuk mengurangi stres, kecemasan atau kemarahan dan meningkatkan kemampuan untuk lebih fokus dan hadir dalam pekerjaan atau dalam waktu bersama keluarga dan kerabat. Semua ini sah dan sangat penting tetapi belum menggambarkan keseluruhan potensi bahwa meditasi juga sebagai jalan pembebasan dari kebencian termasuk bias implisit[1] atau “implicit bias”, sebagai sekumpulan tindakan, kepercayaan, pengetahuan, dan stereotip yang dimiliki oleh sekelompok sosial dan dapat mempengaruhi apa yang kita lakukan dan katakan tanpa disadari.[2]
Pesan-pesan toksik
Dalam masa serba online ini, kita dibanjiri nyaris tiap saat oleh pesan-pesan tertentu melalui media sosial, iklan di TV, radio, papan iklan serta secara tidak langsung oleh semua orang sekeliling kita yang juga mungkin tanpa sadar mengulangi dan menyebar pesan-pesan tadi. Tentu saja semua konten dan iklan ini tidak bebas nilai dan malah dapat mengandung nilai yang memperkuat diskriminasi dan ketidakadilan Contohnya iklan krim pemutih yang mempersembahkan bentuk ideal kecantikan tertentu termasuk lebih menghargai kulit putih daripada warna kulit yang lebih gelap. Banyak iklan rokok menyajikan bentuk maskulinitas yang toksik di mana laki-laki idaman mesti kekar, agresif, menaklukkan lawan, perempuan dan alam. Kita dibanjiri oleh konten dan iklan toksik dan tidak heran kalau nilai-nilainya menancap di kesadaran kita, apalagi misalnya di anak-anak remaja ketika mereka sedang mencari bentuk jati dirinya.
Dengan demikian nilai dan konsep ini menjadi bagian dari pikiran kita yang pada gilirannya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Secara tidak sadar kita dapat menjadi agen dalam penyebaran maskulinitas yang toksik, konsep peran dan bentuk perempuan yang membatasi, serta lebih menghargai warna kulit tertentu bersama ide dan konsep lain terkait disabilitas, ras/etnis, agama/kepercayaan dan banyak konsep lain terkait keunggulan/inferioritas seseorang atau kelompok orang atau komunitas. Lalu apa yang dapat dilakukan dan bagaimana peran meditasi?
Bukan saya
Satu hal yang dilakukan dalam meditasi adalah melihat berbagai perasaan dan pikiran dan menyadari bahwa mereka bukan kita dan memang tidak kekal. Menurut penelitian, emosi atau pikiran kita bertahan kurang lebih selama 90 detik[3] kecuali kita sendiri mengulang-ulang pikiran yang sama sehingga bertahan berjam-jam atau berhari-hari. Jadi dalam meditasi kita berlatih untuk melihat pikiran kita sendiri bukan terbawa dan tersesat dalam emosi dan perasaan agar tidak diulang-ulang dan dapat diurai dan dilepaskan. Jalaluddin Rumi dalam sajaknya berjudul “Wisma Tamu” menggambarkan keadaan emosional kita serta cara menyikapinya:
Manusia laksana wisma tamu.
Setiap pagi ada pendatang baru.
Sukacita, depresi, kekejaman, kesadaran sesaat
ialah pengunjung tak terduga.
Sambut dan hibur mereka!
Meski mereka sekumpulan duka,
yang menghempas isi rumahmu
mengosongkan perabotannya,
Tetap perlakukan mereka dengan terhormat.
Ia mungkin membawakanmu oleh-oleh kesenangan baru.[4]
Pikiran gelap, rasa malu, kedengkian.
Sambutlah mereka dengan tawa,
dan undang mereka masuk.
Bersyukurlah atas siapa pun yang datang,
karena masing-masing dikirim sebagai pemandu dari luar.
Jadi dalam meditasi kita belajar mengamati emosi dan perasaan bukan sebagai diri kita melainkan sebagai “tamu” atau sesuatu yang terpisah dari diri kita. Kita juga tidak menolak kedatangan tamu-tamu ini meskipun ada yang bersifat negatif. Malah disuruh Rumi untuk “sambut dan hibur mereka”.
Pembebasan
Untuk melihat dan menghadapi berbagai emosi dan perasaan yang terkadang intens dan negatif butuh kekuatan dan ketahanan. Dua hal ini juga dilatih dalam meditasi. Dengan perhatian yang lembut dan luwes kita coba berulang-ulang untuk dapat melihat dengan jelas apa saja yang di dalam diri kita termasuk perasaan dan pikiran negatif seperti dengki dan kebencian. Menurut Viktor Frankl, neurolog dan psikiater Austria serta korban Holocaust yang selamat[5].
Di antara stimulus dan respons terdapat ruang. Di sanalah letak kuasa kita untuk memilih respons. Dari respons kita tercermin perkembangan dan kebebasan kita.[6] Manfaat dari meditasi adalah untuk memperkuat kemampuan untuk menyadari ruang, lalu memilih respons yang bijak dalam perjalanan ke kebebasan.
Dari “self-care” ke “we-care” ke “all-care”
Self-care[7] sangat penting apalagi bagi kelompok atau populasi yang seringkali kurang diperhatikan atau diakui oleh masyarakat secara umum. Misalnya perempuan yang sangat sering dipuji sebagai kaum yang mengasuh anak, orang tua dan pasangan tapi bisa saja dirinya terlupakan dalam upaya untuk mempedulikan dan mengurusi semuanya. Jadi self-care dalam konteks seperti dapat dikatakan adalah bentuk pengakuan diri serta kebutuhannya. Meskipun demikian dengan sendirinya self-care tidak memadai karena kita hidup bersama di mana kesejahteraan kita berhubungan orang lain. Jadi meskipun kita mulai dengan dirinya sendiri, pada tahap tertentu bagian dari proses meditasi adalah menyadari dan memperdulikan keadaan orang lain secara organik dan nyata. Dalam meditasi kita merasakan keadaan orang lain sebagai bagian dari keadaan kita, dan makin lama makin merasa akrab dan terhubung dengan orang lain. Kesadaran dan kesejahteraan bersama ini tidak dibatasi kepada manusia lain saja karena manusia hanya salah satu makhluk dalam komunitas makhluk-makhluk lain termasuk satwa dan fauna yang hidup dalam keterkaitan.
Pengalaman saya dengan pembebasan dari konsep gender
Dalam proses meditasi saya dapat melihat dan menyadari banyak konsep dan kepercayaan terkait maskulinitas seperti mestinya laki-laki tidak menangis, atau laki-laki mesti kuat dan siap menghadapi segala hal, atau laki-laki tidak boleh kalah atau lemah. Dalam meditasi saya dapat mengamati dan mengurai energi dari konsep dan kepercayaan ini dan merasakan betapa kaku, membatasi dan mengekang energi diri saya. Di sisi lain ketika saya menutup mata dan bermeditasi saya sadari pada saat itu tidak ada keharusan lagi terkait diri saya dan untuk sementara saya bebas dari nilai dan konsep maskulinitas toksik yang menentukan diri saya secara kaku dan kejam. Jadi tiap kali bermeditasi saya dapat makin melihat dengan jelas nilai dan konsep negatif dan menyadari itu bukan diri saya. Dengan kesadaran tersebut memilih untuk tidak meneruskan dan sedikit demi sedikit dapat dilepaskan. Proses itu berjalan terus, sudah dua puluh tahun lebih dan belum selesai. Tapi makin lama makin menipis. Dan ketika terjerat lagi saya bisa menyadari bahwa bukan salah saya karena nilai dan konsep ini tidak berawal dengan saya. Meskipun bukan salah saya tetap menjadi tanggung jawab saya untuk menyadari dan melepaskan agar tidak diturunkan ke anak-anak saya atau orang lain.
Penutup
Semoga tulisan pendek ini membantu menerangkan meditasi sebagai praktek pembebasan yang tentu saja butuh waktu dan ketekunan. Perjalanannya bisa terasa panjang tetapi kita juga bisa hadir dan merasakan tiap langkah dan tiap detik yang sangat berharga dan tanpa nilai. Sebagaimana terucap oleh Thich Nhat Hanh, seorang biksu dari Vietnam dan aktivis perdamaian ternama: “Saya telah tiba. Saya sudah pulang. Di sini. Dan saat ini.”
Penulis: Jiway Tung, Praktisi Mindfulness
[1] Bias Implisit, Bias yang Tak Pernah Anda Sadari Melekat pada Diri
[2] Ibid
[3] Feel It for 90 Seconds: The Surprising Lifespan of Emotions – Trauma Aware AmericaTrauma Aware America
[4] The Guest House by Jalaluddin Rumi – Scottish Poetry Library
[5] Viktor Frankl – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
[6] Viktor E. Frankl – Between stimulus and response there is…
[7] Pentingnya Self Care dan Self Love untuk Kesehatan Mental – Student


