Krisis Air & Lahan Hijau Yogya: Orang Muda Serukan Keadilan Iklim ke Walikota

0
257
Asiang Young People for Action (AYA) Regional Yogyakarta menggelar audiensi dengan Walikota Yogyakarta, pada 2 Juli 2025. (Dok. Foto Jangkar LPM Arena)

Yogyakarta, 7 Juli 2025 – Memanfaatkan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup, otrang muda yang tergabung dalam Asiang Young People for Action (AYA) Regional Yogyakarta menggelar audiensi dengan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pada 2 Juli 2025. Audiensi bertajuk “Merawat Bumi Lewat Kata dan Aksi” ini bertujuan membuka ruang dialog langsung antara orang dengan pemangku kebijakan terkait aksi nyata menghadapi krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan di Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program “Climate Reading” sebelumnya, di mana orang muda menuliskan keresahan dan harapan mereka tentang isu iklim pada postcard yang ditujukan kepada pemangku kebijakan. Audiensi menjadi puncak penyampaian suara kolektif tersebut, sekaligus menekankan pentingnya literasi lingkungan sebagai basis untuk membangun pemahaman, empati, dan gerakan bersama.

Krisis Nyata di Yogyakarta, Orang muda menyoroti berbagai krisis lingkungan parah yang dihadapi Yogyakarta: cuaca ekstrem, penurunan kualitas air tanah, alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan industri dan properti, serta ancaman kekeringan dan banjir tak menentu. Krisis ini, tegas mereka, berdampak paling keras pada kelompok rentan: perempuan, masyarakat adat, petani kecil, nelayan, dan warga miskin kota. Perempuan, misalnya, menanggung beban ganda ketika akses air bersih sulit atau gagal panen mengancam ketahanan pangan keluarga. Sayangnya, kelompok ini seringkali tersisih dari proses pengambilan keputusan.

Rose Merry, perwakilan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia yang mendampingi AYA, mengapresiasi gerakan lingkungan orang muda yang sudah ada, seperti isu sampah, Kawasan sungai, dan polusi udara. Namun, ia mencatat gerakan ini masih terpencar. “Gerakan-gerakan tersebut masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung dalam kerja kolaboratif yang terfokus pada isu iklim,” ujarnya. Ia berharap gerakan muda bisa bersinergi dengan program pemerintah.

Wahyu Aji dari AYA lebih tegas mendesak pelibatan aktif orang muda dalam perumusan kebijakan iklim. “Keterlibatan orang muda dapat diwujudkan dalam sektor transisi energi bersih, pembuatan ruang terbuka hijau yang inklusif, serta penyediaan fasilitas publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” jelasnya. Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai abai terhadap lingkungan dan mengabaikan partisipasi masyarakat. “Kami menuntut pemerintah melibatkan orang muda, perempuan, dan kelompok rentan dalam menyelesaikan krisis iklim,” tegas Wahyu.

Alih-alih merespons positif aspirasi dan tawaran kolaborasi, Walikota Hasto justru melontarkan kritik terhadap gerakan orang muda. Meski mengawali dengan apresiasi atas kepedulian mereka, Hasto menyatakan orang muda sekarang hanya pandai berwacana dan berdiskusi tanpa aksi nyata.

“Saya juga tahu banyak organisasi langitan. Organisasi yang tidak menyentuh bumi. Hanya di langit-langit saja. Kritik saya begitu, kita terlalu banyak organisasi langitan, yang ke bumi gak ada. Ya sepi buminya,” ujar Hasto, seperti dikutip dalam audiensi.

Walikota kemudian menantang orang muda untuk turun langsung ke tingkat komunitas paling dasar, seperti Rukun Warga (RW). “Sebaiknya orang muda lebih banyak bergerak di tingkat komunitas masyarakat, serendah-rendahnya adalah di tingkat RW, melakukan edukasi pilah sampah dan kelola sampah dengan bijak. Ini adalah tantangan untuk kalian orang muda,” pesannya.

Gerakan Meluas ke Aceh dan Kupang
Audiensi iklim ini bukan hanya terjadi di Yogyakarta. AYA Indonesia mengonfirmasi kegiatan serupa akan digelar di Aceh dan Kupang dalam waktu dekat, menegaskan bahwa perjuangan melawan krisis iklim memerlukan kolaborasi lintas daerah dan melibatkan banyak elemen, termasuk pemerintah daerah.

Kegiatan audiensi di Yogyakarta ini juga diliput oleh Presma Arena sebagai upaya memperluas kesadaran publik. AYA Desak Aksi Nyata Pemerintah Hadapi Krisis Iklim – Kancah Pemikiran Alternatif

Audiensi ini menyisakan pertanyaan besar: akankah suara orang muda dan kelompok rentan yang terdampak paling parah oleh krisis iklim benar-benar didengar? Ataukah mereka akan terus dihadapkan pada retorika dan tuntutan turun ke “bumi” tanpa dukungan kebijakan yang memadai dari pemangku kekuasaan?

Krisis iklim tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan satu pihak. Dibutuhkan sinergi nyata, kebijakan berpihak pada keadilan ekologis, dan ruang partisipasi yang bermakna bagi semua, terutama mereka yang paling terdampak dan generasi muda pemilik masa depan.

Dukung terus gerakan orang muda peduli iklim di daerahmu! Ikuti perkembangan aksi AYA di Aceh dan Kupang, serta sampaikan dukunganmu agar pemerintah daerah serius membuka ruang dialog dan kolaborasi untuk aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan. Bumi butuh aksi kita semua, bukan sekadar wacana!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini