Kisah Kelompok Minoritas dalam Pusaran Politik di Indonesia

RESENSI BUKU

Judul buku      : Suara-Suara Sunyi: Kisah Kelompok Minoritas dalam Pusaran Politik di Indonesia

Penulis            : Andrean Yudo Pramono, Bambang Muryanto, Bhekti Suryani, Emi La Palau, Findamorina Muhtar, Gafur Abdullah, Irawan Sapto Adhi, Iwan Arifianto. Januardi Husin, Mahardini Nur Afifah, Mariyana Ricky PD, Muhammad Syaifullah, Riska Farasonalia, Rohman Wibowo, Sekarwati, Shani Ramadhan Rasyid, Sirojul Khafid, Pito Agustin Rudiana, Yuwantoro Winduajie

Penerbit           : AJI Yogyakarta

Tahun Terbit    : 2024

Jumlah Halaman : 458 Halaman

Buku Suara-Suara Sunyi yang di terbitkan oleh AJI Yogyakarta dengan dukungan Yayasan Keadilan dan Perdamaiana Indonesia adalah sebuah antologi karya kolaborasi 19 jurnalis yang mendalami kehidupan kelompok minoritas di Indonesia pada tahun politik 2024. Dengan konteks politik identitas yang sering memperuncing perbedaan, buku ini mengupas berbagai tantangan, perjuangan, dan harapan dari sudut pandang minoritas gender, agama, kepercayaan, hingga orientasi seksual.

Buku Suara-Suara Sunyi adalah cermin realitas yang menampilkan potret kehidupan kelompok minoritas di Indonesia. Melalui berbagai kisah yang disusun dengan mendalam, buku ini mengajak pembaca untuk melihat isu keberagaman dengan empati dan kesadaran kritis. Buku ini penting dibaca bagi siapa saja yang peduli pada isu hak asasi manusia, keberagaman, dan keadilan sosial di Indonesia.

Bab 1: Pemilu antara Ancaman dan Harapan bagi Kelompok Minoritas

Bab ini menyoroti dinamika politik yang dihadapi kelompok minoritas di tengah tahun politik. Dalam konteks pemilu, kelompok minoritas sering kali menjadi objek politisasi dan diskriminasi. Beberapa kisah penting di bab ini meliputi:

Suara Penghayat Kepercayaan di Yogyakarta: Kisah para penghayat kepercayaan yang terus berjuang melawan diskriminasi dengan memanfaatkan ruang politik sebagai upaya menyuarakan hak mereka, meskipun sering kali diabaikan oleh partai politik.

Penghayat Laroma di Minahasa Selatan: Kelompok ini kehilangan hak pilih karena penolakan mereka untuk mencantumkan agama mayoritas pada KTP. Diskriminasi ini mengungkap tantangan dalam birokrasi dan politik.

Narasi Kembar Tolak LGBT di Soloraya: Menjelang pemilu, kelompok LGBTQ dihadapkan pada meningkatnya tekanan sosial dan politik, menunjukkan bagaimana identitas gender dimanfaatkan untuk kampanye elektoral.

Bab ini juga menyampaikan bagaimana kelompok seperti perempuan Tionghoa di Semarang mencoba memasuki dunia politik untuk membawa aspirasi komunitas mereka, menciptakan harapan di tengah ancaman yang ada.

Bab 2: Praktik Diskriminasi Kebijakan terhadap Kelompok Minoritas

Bab ini memperlihatkan bagaimana kebijakan yang ada sering kali memperparah diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Berbagai artikel dalam bab ini mencatat beberapa kasus penting:

Diskriminasi Berlapis di Kota Belimbing: Minoritas agama di kota ini menghadapi berbagai hambatan struktural, mulai dari kebijakan yang bias hingga perlakuan diskriminatif dari aparat negara.

Jemaah Ahmadiyah di Jawa Tengah: Mereka terus dirundung diskriminasi meskipun hak-hak mereka sebagai warga negara dijamin oleh konstitusi.

Raperda Anti-LGBTQ di Kota Bandung: Upaya untuk menciptakan regulasi diskriminatif terhadap komunitas LGBTQ memicu ketakutan di kalangan minoritas gender di wilayah tersebut.

Bab ini menyajikan gambaran bahwa diskriminasi terhadap kelompok minoritas bukan hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga dari kebijakan pemerintah yang seharusnya melindungi.

Bab 3: Kisah Kelompok Minoritas Melestarikan Keberagaman

Di bab ini, buku menghadirkan sisi positif dari keberagaman di Indonesia melalui kisah-kisah inspiratif:

Anak Muda Pembawa Pelita Damai di Aceh Singkil: Generasi muda di Aceh Singkil berupaya menciptakan ruang damai di tengah perbedaan agama yang sering kali memicu konflik.

Narasi Sejarah Hindu dan Tionghoa di Demak: Menggali sejarah keberagaman yang sering kali tenggelam oleh narasi dominan, khususnya terkait peran komunitas Hindu dan Tionghoa di masa lalu.

Tradisi Umat Buddha di Jatimulyo: Komunitas Buddha di desa ini menggunakan tradisi lokal untuk memperkuat harmoni sosial, memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dirayakan melalui budaya.

Bab ini menjadi pengingat bahwa meski ada tantangan, selalu ada individu dan komunitas yang berupaya menjaga dan merawat keberagaman.

Bab 4: Potret Transpuan Hidup Berdampingan dengan Qanun Aceh

Bab ini berfokus pada kehidupan transpuan di Aceh yang harus bertahan hidup di tengah hukum syariat Islam yang ketat. Artikel-artikel di bab ini menyajikan tiga perspektif:

Transpuan Aceh dan Keluarga: Kisah perjuangan mereka untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan dari keluarga serta masyarakat.

Diskriminasi di Bawah Bayang-Bayang Qanun: Realitas pahit diskriminasi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam akses pekerjaan dan tempat tinggal.

Ikhtiar Berdaya: Upaya komunitas transpuan di Aceh untuk membangun kemandirian ekonomi dan melawan stigma sosial melalui pelatihan dan solidaritas komunitas.

Bab ini memberikan pandangan mendalam tentang keberanian dan ketahanan transpuan di lingkungan yang tidak ramah.

Bab 5: Ancaman Marginalisasi Penghayat Marapu di Sumba Timur

Bab terakhir membahas perjuangan kelompok penghayat Marapu yang masih menghadapi marginalisasi, terutama dalam hal pendidikan dan hak asasi manusia.

Nestapa Penghayat Marapu: Konflik antara konservasi lingkungan dan hak masyarakat adat menjadi isu sentral. Banyak dari mereka terpaksa kehilangan tanah leluhur atas nama pelestarian alam.

Kesulitan Akses Pendidikan: Anak-anak penghayat Marapu sering kali kesulitan mendapatkan pendidikan yang mengakomodasi kepercayaan mereka, menunjukkan kurangnya inklusivitas dalam sistem pendidikan.

Bab ini menggambarkan betapa pentingnya pengakuan terhadap hak-hak kelompok adat untuk menciptakan keadilan sosial.

Untuk merasakan pengalaman yang lebih mendalam dari cerita-cerita yang ditulis oleh teman-teman Jurnalis, kalian bisa membaca Ebook-nya melalui tautan berikut ini: https://forms.gle/FUhRRuvRMq7nPBwy8.

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...