Peringatan Hari Kartini pada 21 April, masih banyak berfokus seremoni yang bersifat simbolik tanpa ruang refleksi mendalam semangat pemikiran Kartini kerap tenggelam dalam perayaan yang lebih menonjolkan tampilan luar ketimbang substansi. Padahal, inti dari perjuangan Kartini adalah akses terhadap pendidikan, kesetaraan hak, dan kebebasan berpikir bagi kaum perempuan. Nah, di balik kemeriahan seremonial tersebut, kita patut bertanya “Apakah Kartini hari ini masih hidup dalam gagasan, atau hanya sekadar menjadi simbol dalam bingkai foto?”
Kartini sejatinya bukan hanya perempuan berkebaya yang senyumnya terpajang di dinding sekolah atau kantor pemerintahan. Kartini adalah pemikir muda yang kritis dan berani menggugat ketidakadilan, menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan, dan membayangkan sebuah masyarakat yang lebih setara.
Namun sayangnya, warisan pemikiran Kartini sering kali tenggelam di balik perayaan yang lebih menonjolkan visual daripada substansi. Sementara gagasan-gagasan Kartini yang kritis justru terlupakan. Padahal, di sanalah kekuatan sejati berada yaitu pada suara yang dituliskannya, bukan semata-mata pada citra yang dipajang.
Membaca Ulang Kartini dalam Bingkai Budaya Populer
Jika kita menelaah lebih dalam, fenomena perayaan Kartini hari ini mencerminkan terjadinya pergeseran makna. Sosok Kartini tidak lagi sepenuhnya dikenang sebagai pemikir progresif dan pejuang ide, melainkan lebih sering direpresentasikan secara visual sebagai figur perempuan berkebaya dalam bingkai foto-foto atau parade busana tradisional.
Dalam tulisan ini, pendekatan semiotika akan digunakan sebagai alat analisis untuk memahami bagaimana makna tentang Kartini dibentuk, disebarkan, dan diwariskan dalam budaya populer. Dengan melihat Kartini sebagai tanda (sign), kita bisa menelusuri bagaimana simbol ini dimaknai ulang oleh masyarakat dari waktu ke waktu yang sering kali terlepas dari konteks pemikiran kritis yang Kartini perjuangkan.
Ketika kita hanya melihat foto Kartini, pemahaman kita tentang dirinya menjadi terbatas pada apa yang tampak secara visual. Melalui pendekatan semiotik, kita dapat menganalisis berbagai elemen dalam foto. Mulai dari ekspresi wajah, apakah Kartini terlihat lembut, tegas, atau penuh tekad? Kemudian, dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan Kartini, kebaya dan sanggulnya bukan hanya menandakan status sosial, tapi juga menjadi simbol ‘kewanitaan’ yang sering direduksi ke aspek penampilan.
Selain itu, pose dan gestur tubuh Kartini yang duduk tenang, menatap lurus, hal ini sering kali dipahami sebagai citra perempuan yang anggun dan patuh. Begitupun dengan latar belakang dan properti, setting foto yang digunakan pun turut membentuk narasi tentang Kartini, baik sebagai bangsawan maupun sebagai perempuan ‘ideal’. Semua elemen ini membentuk sebuah konstruksi makna yang disampaikan kepada penonton.
Dalam hal ini, teori Ferdinand de Saussure, seorang tokoh linguistik struktural dan pendiri semiotika modern, memberikan dasar penting. Ferdinand membagi tanda menjadi dua: penanda (signifier) yakni bentuk fisik seperti gambar atau kata, dan petanda (signified) yaitu konsep atau makna yang diasosiasikan dengannya. Maka, foto Kartini sebagai penanda membawa petanda tentang “perempuan terpelajar”, “lembut”, atau bahkan “nasionalis”, tergantung bagaimana Kartini ditampilkan dan diterima oleh publik.
Namun, makna visual tersebut belum tentu merepresentasikan gagasan asli Kartini. Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya menulis tentang adat dan kebudayaan, tapi juga menyuarakan kegelisahan sosial dan kerinduan akan kebebasan berpikir. Salah satu kutipan terkenalnya menyatakan: “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua kata yang ringkas itu telah mendorong aku melintasi gunung keberatan dan lautan keberatan.” (Surat kepada Nyonya Abendanon, 1902)
Kutipan ini menunjukkan semangat perlawanan, keberanian melampaui batas tradisi, dan keyakinan pada kekuatan tekad, sebuah karakter Kartini yang jauh lebih kuat daripada yang terlihat di foto-foto kebaya yang terpampang tiap bulan April. Melalui pendekatan semiotika, kita belajar bahwa foto Kartini bukanlah representasi netral dari kenyataan, melainkan hasil konstruksi sosial dan budaya yang membawa makna-makna tertentu. Representasi visual ini bisa sangat berbeda dari realitas gagasan dan perjuangan Kartini yang autentik.
Kita pun tidak bisa menutup mata bahwa kenyataan hari ini masih jauh dari harapan Kartini. Di berbagai pelosok negeri, masih banyak perempuan yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena alasan ekonomi atau budaya. Kekerasan berbasis gender masih marak, representasi perempuan dalam politik masih rendah, dan stereotip peran domestik masih melekat kuat pada perempuan.
Kartini lebih dari sekadar wajah dalam bingkai foto. Kartini adalah pemikir besar yang mengangkat pena sebagai senjata. Sosok Kartini sebagai pembawa suara perubahan yang masih relevan hingga kini. Jika kita ingin benar-benar menghormatinya, maka tempatkanlah Kartini dalam gagasan dan tindakan bukan hanya dalam gambar.
Jika kita terus menempatkan Kartini hanya dalam bingkai foto, maka kita berisiko melanggengkan sosok simbolik yang indah namun kosong makna. Sudah saatnya peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi ajang visualisasi simbolik, tapi juga ruang untuk menggali ulang pemikiran dan perjuangannya. Dengan membaca surat-suratnya, memahami gagasannya, dan menerapkannya dalam konteks kekinian, kita bisa menjadikan Kartini bukan sekadar ikon, melainkan sumber inspirasi intelektual dan moral.
Sudah saatnya kita memaknai ulang Hari Kartini. Bukan sekadar ajang lomba kebaya atau seremonial tahunan, tapi sebagai momentum untuk membuka ruang-ruang diskusi yang kritis dan inklusif tentang peran perempuan, kesetaraan akses pendidikan, literasi, hingga pemberdayaan komunitas. Kartini tidak hanya ingin perempuan belajar membaca dan menulis. Ia ingin perempuan berpikir, bersuara, dan bertindak.
Mari kita ajak generasi muda untuk membaca kembali surat-surat Kartini, mendalami semangatnya, dan menjadikannya inspirasi yang hidup di ruang kelas, ruang kerja, ruang publik, dan ruang digital. Perubahan tidak datang dari perayaan satu hari. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif yang terus dipupuk. Dan Hari Kartini bisa menjadi salah satu titik awalnya.
Penulis: Elsa Tri Wahyuni, Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI


