Jembatan dalam Sunyi: Sebuah Percakapan Perjalanan Seorang Juru Bahasa Isyarat Memperjuangkan Akses

0
45

“Dulu, saya hanya tertarik pada bahasa. Bagaimana sebuah kata bisa punya kekuatan, punya nyawa,” begitu ia membuka percakapan kami. Namun, minat linguistiknya itu menemukan konteks yang sama sekali baru pada tahun 2016, di sebuah diskusi pada salah satu kampus di Yogyakarta.

Diskusi tentang disabilitas itu menjadi pencerahan. “Saya melihat langsung bagaimana informasi yang bagi saya mengalir begitu saja, bagi mereka terhalang dinding yang tak terlihat. Saat itulah, ketertarikan berubah menjadi kesadaran.”

Tanpa jalur pelatihan formal yang jelas, ia memilih jalan yang intuitif: mendekat. “Saya memutuskan untuk belajar langsung dari sumbernya: dari teman-teman Tuli sendiri. Itu satu-satunya cara untuk bukan sekadar memahami bahasa isyarat, tetapi juga budaya, ekspresi, dan cara mereka memandang dunia.”

Atas permintaannya, nama dan identitas kampusnya kami lindungi. “Bukan tentang saya,” tegasnya. “Ini tentang peran Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan pesan yang perlu didengar semua orang.”

“Kami Bukan Pendamping, Kami Adalah Jembatan”. Suaranya menjadi jelas dan tegas ketika menjelaskan perannya. “Pertama, perlu diluruskan. JBI itu bukan pendamping,” ujarnya, menekankan setiap kata. “Pendamping membantu urusan mobilitas dan personal. Sementara kami, JBI, adalah profesional komunikasi. Posisi kami harus netral. Tugas kami memastikan dua dunia yang berbeda yaitu dunia Tuli dan dunia dengar agar bisa bercakap dengan setara. Setiap pesan, setiap nuansa, harus sampai utuh.”

Motivasinya, katanya, sederhana saja: “Cinta pada bahasa, dan keinginan untuk berteman dengan mereka yang berbeda. Saya tumbuh di lingkungan yang homogen. Pertemanan dengan komunitas Tuli memperluas dunia saya.” Komitmen itu membawanya pada titik di mana, sejak 2019, ia resmi dipercaya sebagai JBI di kampusnya, dan kemudian bergabung dengan Pusat Layanan JBI DIY pada 2020.

Ia menggambarkan tantangan mendasar dengan sederhana yang mencengangkan. “Bayangkan, hampir semua informasi vital hari ini mulai pengumuman resmi, materi kuliah, konsultasi dokter dan sebagainya, semua disampaikan dalam bentuk suara. Bagaimana jika Anda tak bisa mendengar? Anda akan terasing di tengah keramaian.”

Di sinilah JBI masuk, menjadi penyalur akses. “Dengan JBI, teman Tuli akhirnya bisa benar-benar hadir,” ujarnya. “Mereka bisa menuntut ilmu di kelas, memperjuangkan hak di pengadilan, mendapatkan layanan kesehatan yang layak, dan sekadar tertawa dalam diskusi santai. Itu hal mendasar yang sering dilupakan orang dengar.”

Namun, jalan menuju akses ini tak mulus. “Tantangan terbesarnya struktural,” keluhnya. “Belum ada sertifikasi bagi JBI, hal ini kadang dipertanyakan Ketika JBI bertugas di pengadilan, maka Langkah yang kami ambil adalah minta surat tugas dari organisasi Tuli atau pusat layanan JBI, terlihat bahwa kesadaran institusi masih rendah, dan yang paling menyakitkan… honorarium kami sering dianggap sedekah, bukan pengakuan atas keahlian profesional.” Ia berhenti sejenak. “Aksesibilitas itu hak dasar, bukan bonus yang bisa dihilangkan jika anggaran ketat.”

Di Balik Layar: Saat Kata-Kata Harus Dirakit Ulang. Pekerjaannya, ternyata, jauh lebih rumit dari sekadar menerjemahkan kata demi kata. “Tantangan teknisnya banyak,” akuinya. “Contohnya, istilah ilmiah atau asing. Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) itu hidup dan dinamis, tapi banyak istilah teknis yang belum punya padanan baku.” Ia lalu mencontohkan strateginya: “Kami harus kreatif. Mengeja, memakai analogi visual, atau berkoordinasi cepat dengan pembicara sebelum acara. Makanya, mendapatkan materi persiapan itu sangat membantu.”

Tantangan lain justru datang dari dunia dengar. “Pembicara yang bicara terlalu cepat, atau pakai bahasa yang terlalu tinggi, itu hambatan besar,” jelasnya. “Kami biasanya minta waktu briefing singkat untuk mengatur tempo dan menyederhanakan diksi.”

Tak kalah kompleks adalah memahami “dialek” isyarat setiap Tuli. “Setiap orang punya gayanya sendiri. Ada yang cepat, ada yang pakai variasi lokal. Butuh keakrapan dan kepekaan untuk bisa menangkap maksudnya dengan tepat.”

Meski lelah, harapannya untuk masa depan tetap membara. Dua hal ia sebutkan. “Pertama, saya mimpi suatu hari nanti petugas puskesmas, polisi, atau bank punya kemampuan dasar Bisindo,” katanya. “Ini bukan hal mustahil. Bayangkan betapa manusiawinya jika dalam situasi darurat, petugas bisa berkomunikasi minimal. Itu akan mengubah segalanya.”

“Kedua,” lanjutnya dengan serius, “Bisindo harus diakui secara hukum sebagai bahasa isyarat nasional. Pengakuan ini akan jadi pondasi: untuk anggaran yang jelas, peningkatan kualitas JBI, dan pengembangan kurikulum yang standar. Dan dalam hal ini, komunitas Tuli adalah guru utama kami. Mereka penjaga bahasa.”

Mendekati akhir perbincangan, “Kadang orang berpikir kesetaraan itu soal program besar atau teknologi canggih. Saya belajar, kesetaraan seringkali dimulai dari hal sederhana: dari kemauan untuk hadir dan menjadi jembatan.”

“Hari Disabilitas Internasional,” tambahnya, “bukan sekadar seremoni. Itu pengingat bagi kita semua: bahwa akses adalah hak, bukan kemewahan. Dan bahwa dunia yang inklusif bukan dunia yang seragam, tapi dunia yang merayakan perbedaan, dan memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal dalam kesunyian.”

“Pada akhirnya, pekerjaan saya ini hanya pengingat sederhana: bahwa setiap manusia berhak didengar, dalam caranya sendiri.”

Catatan Redaksi:

Artikel ini berdasarkan hasil wawancara langsung dengan seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang aktif di Yogyakarta. Atas permintaan narasumber dan untuk menjaga fokus pada substansi perjuangan, identitas pribadi dan detail institusi sengaja tidak disebarluaskan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini