Imam Maliki adalah penggerak sosial yang berkomitmen membangun kesadaran masyarakat Desa Sooko agar lebih berdaya. Aktif memimpin berbagai kegiatan sosial yang mengusung konsep keberagaman, toleransi, dan demokrasi sejak tahun 2021 hingga saat ini.
Perjalanannya dimulai dengan pendekatan sensing—mendengarkan keluh kesah warga, memahami akar masalah, lalu mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Tantangan terbesarnya adalah menghidupkan kembali jaringan penggerak desa yang sempat renggang. Dengan tekun, ia merangkul kembali para Gusdurian dan penggerak desa untuk bersama-sama menyusun regulasi sebagai landasan gerakan sosial.
Saung: Warung Kopi sebagai Pusat Konsolidasi
Bersama Gusdurian, Imam Maliki menjadikan Saung—warung kopi miliknya—sebagai ruang konsolidasi. Tempat ini bukan sekadar untuk nongkrong, melainkan pusat diskusi, perencanaan strategi, dan penguatan solidaritas. Makan bersama di sini menjadi simbol kebersamaan yang menjaga kekompakan para penggerak.
Menghadapi Tantangan dengan Strategi Kreatif
Pada Februari 2024 Jaringan GUSDURian dengan di dukung oleh Yayasan keadilan dan Perdamaian Indonesia, membuat program dengan judul “Memperkuat Narasi Damai #IndonesiaRumahBesama melalui Peningkatan kapasitas Pemula Lintas Iman” di Kabupaten Mojokerto, tepatnya di Desa Sooko, Kecamatan Sooko sebagai salah satu wilayah program.
Desa Sooko di pilih karena di wilayah tersebut pernah ada kejadian penolakan pemakaman yang berbasis pada berbeda agama. Agama mayoritas di desa tersebut adalah Islam. Sehingga pada suatu waktu, ada salah satu warga beragama protestan meninggal dan sudah dikuburkan, dan dipermasalahkan warga setempat karena di makamkan di wilayah tersebut. Ini adalah alasan utama mengapa program ini dilaksanakan di desa Sooko.
Seknas Gusdurian merasa penting untuk melaksanakan program tersebut di desa Sooko karena kejadikan penolakan pemakaman beda agama tidak hanya terjadi sekali. Melainkan, kejadian tersebut berjalan 3 kali walaupun tidak semuanya di desa Sooko. Peristiwa tersebut yang menjadi dorongan untuk melakukan perubahan dengan program narasi damai #IndonesiaRumahBersama di desa Sooko Mojokerto.
Dan tentu saja awal perjuangan Imam Maliki di Sooko tidak mudah. Imam Maliki berusaha mendekati tokoh-tokoh kunci, seperti Pak Jono dan Pak Lurah. Tetapi situasi berbeda ketika seorang pemuda yang ingin bergabung ternyata rival Pak Lurah dalam Pilkades, sehingga pemuda tersebut tidak lagi bergabung. Beberapa takmir masjid di Mengelo bahkan menutup pintu untuknya.
Ketika jalur formal mandek, ia mencoba pendekatan lain, seperti menggandeng komunitas Ansor. Sayangnya, tidak ada anggota aktif Ansor di desa itu. Upaya menggalang kesadaran lewat isu persampahan pun belum membuahkan hasil. Tak menyerah, Imam Maliki beralih ke pendekatan personal. Ia rutin mengunjungi Ibu Khusnul di angkringannya, membangun kedekatan dan kepercayaan. Perlahan, dari diskusi kecil itu, lahir konsep Sooko Rumah Bersama—wadah yang mengedepankan kebersamaan dalam membangun desa.
Mewujudkan Rumah Belajar dan Dukungan Pemerintah Desa
Salah satu keresahan warga adalah kurangnya pendidikan tambahan untuk anak-anak. Berbekal pengalaman sebagai mentor rumah belajar, Imam Maliki meyakinkan kepala desa untuk mendukung inisiatif ini. Awalnya sang kepala desa ragu, tetapi setelah melihat kesungguhannya, ia tidak hanya menyetujui tetapi juga terlibat aktif, bahkan menyediakan hadiah untuk lomba mewarnai anak-anak.
Pencapaian besar lainnya adalah keberhasilan Imam Maliki meyakinkan pemerintah desa untuk mendanai operasional Rumah Belajar Sooko selama satu tahun. Ini bukan sekadar solusi finansial, melainkan pengakuan atas legitimasi program yang digagas Gusdurian. Pada akhirnya kepala desa Sooko mensupport agenda para penggerak desa dan Gusdurian dengan cara selalu hadir di acara. Kedua, kepala desa Sooko mensupport anggaran ketika sedang menyelenggarakan lomba mewarnai untuk anak-anak. Ketiga, kepala desa Sooko akan menganggarkan untuk mensupport operasional rumah belajar. Dan bahkan Imam Maliki bersama Tim pengerak desa menyusun Policy brief “Pemberdayaan Perempuan dan Anak Melalui Rumah Belajar Di Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto” yang menjadi dasar melakukan advokasi kebijakan pada pemerintah desa setempat.
Imam Maliki menyadari bahwa masyarakat Sooko memiliki karakter unik. Kedekatan dengan kota membuat pola pikir warga lebih kompleks, sehingga pendekatan standar kurang efektif. Ia pun beradaptasi: alih-alih memaksakan rencana, ia mengikuti dinamika sosial yang ada dan menyesuaikan strategi.
Ia memperbanyak partisipasi warga dalam kegiatan, membentuk kepanitiaan berbasis rasa memiliki, dan melibatkan mahasiswa liburan melalui laboratorium sosial. Cara ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan warga , tetapi juga menciptakan regenerasi penggerak muda.
Sumber : Most Significan Change pada laporan Akhir Program Jaringan GUSDURian dan Policy Brief bisa di baca Di Sini


