Setiap 5 Desember, dunia memperingati International Volunteer Day, hari untuk mengakui kontribusi para relawan, mereka yang memilih untuk hadir di garis depan kemanusiaan tanpa menunggu imbalan. Di banyak tempat, perayaan ini mungkin berwujud ungkapan terima kasih sederhana. Namun di Indonesia, tahun ini peringatan tersebut terasa jauh lebih relevan di tengah meningkatnya bencana ekologis dan memanasnya konflik sosial di berbagai daerah.
Relawan di Tengah Krisis Berlapis. Indonesia adalah negara yang hidup berdampingan dengan risiko bencana. Sepanjang tahun, masyarakat dihadapkan pada banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga gempa bumi. Situasi ini sering kali terjadi berbarengan dengan konflik social baik terkait pertanahan, agraria, maupun ketegangan berbasis identitas dan politik lokal. Di tengah kabar buruk itu, ada sosok-sosok yang tetap bergerak: relawan.
Mereka hadir di lokasi banjir mengangkat logistik, membersihkan lumpur, memetakan kebutuhan warga, hingga membantu evakuasi kelompok rentan. Mereka bekerja di bawah hujan, asap, panas ekstrem, bahkan ketidakpastian keamanan. Kerja-kerja ini menjadi fondasi ketangguhan masyarakat yang sering kali tidak terekspos media.
Relawan: Jantung Tanggap Darurat dan Pemulihan
Di Indonesia, jaringan relawan adalah kekuatan unik. Mereka tidak hanya muncul saat bencana tiba, tetapi juga saat masyarakat berkonflik dan membutuhkan ruang aman. Relawan kemanusiaan, jurnalis warga, pegiat pendidikan, pendamping perempuan dan anak, hingga kelompok pemuda desa memainkan peran krusial:
- Menjaga akses bantuan tetap humanis, terutama untuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, perempuan, lansia, dan anak-anak.
- Memastikan informasi yang akurat, mengurangi kepanikan publik, serta menghalau disinformasi di era digital.
- Membangun jembatan dialog, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami ketegangan sosial lintas agama, etnis, atau politik.
- Mendorong pemulihan psikososial, yang sering kali terabaikan dalam penanganan bencana tradisional.
Relawan bukan hanya “tenaga tambahan”, tetapi penggerak solidaritas yang memungkinkan negara ini tetap berdiri ketika sistem formal melambat atau kewalahan.
Ancaman Baru, Tanggung Jawab Baru. Di era perubahan iklim, bencana tidak lagi bersifat musiman; ia menjadi krisis permanen. Relawan semakin sering bekerja di ruang yang penuh risiko:
- Peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi menyebabkan relawan menghadapi kelelahan ekstrem.
- Situasi konflik sosial membuat wilayah kerja rawan intimidasi dan kekerasan.
- Arus informasi digital menuntut relawan terampil dalam komunikasi risiko, verifikasi data, dan perlindungan privasi warga.
Karena itu, memperingati Hari Relawan Internasional tidak cukup hanya dengan memberi apresiasi. Kita juga perlu menuntut sistem yang melindungi mereka: pelatihan keselamatan, dukungan kesehatan mental, perlengkapan memadai, hingga kebijakan pemerintah yang mengakui peran relawan dalam arsitektur penanggulangan bencana dan resolusi konflik.
Solidaritas yang Tak Pernah Padam. Di desa-desa terpencil, di tenda pengungsian, di dapur umum, atau di ruang digital tempat mereka berbagi informasi darurat relawan hadir sebagai wajah kemanusiaan Indonesia. Mereka bukan pahlawan tanpa cela, tetapi manusia-manusia yang memilih tidak berdiam diri.
Hari Relawan Internasional menjadi pengingat bahwa solidaritas adalah kekuatan sosial yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh dari kepedulian, kepercayaan, dan keberanian.
Dan di negara yang terus bergulat dengan bencana dan konflik, solidaritas adalah jalan agar kita tetap mampu saling menjaga.
Selamat Hari Relawan Internasional. Terima kasih kepada setiap orang yang memilih berada di sisi manusia lain pada saat paling sulit.


