Akhir tahun sering kali identik dengan kegembiraan. Banyak orang merencanakan liburan, pulang kampung, merayakan Natal, dan menyambut pergantian tahun dengan harapan baru. Pusat perbelanjaan ramai, destinasi wisata penuh, dan media sosial dipenuhi unggahan kebahagiaan. Namun, di balik suasana perayaan itu, sebagian saudara kita di Indonesia sedang menghadapi sisi lain dari akhir tahun: berjuang menghadapi dampak bencana alam.
Berdasarkan pemantauan Geoportal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)[1] per tanggal 23 Desember 2025 ada sebanyak 3.160 kejadian bencana di tanah air. Rentetan peristiwa ini memuncak pada akhir November dengan banjir bandang besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam laporan terbaru BNPB (22/12/2025) jumlah korban tewas banjir bandang dan longsor di Sumatra pukul 16:00 WIB, total sudah mencapai 1.106 jiwa. Sementara, 175 orang masih dilaporkan hilang, dan 502.570 orang mengungsi[2].
Saat ini Indonesia memang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Hujan lebat, banjir, longsor, angin puting beliung, hingga gelombang tinggi menjadi peristiwa yang berulang dari tahun ke tahun. Ironisnya, bencana kerap terjadi justru ketika banyak orang sedang berlibur, aparat terbatas, dan perhatian publik terpecah oleh euforia akhir tahun. Dalam kesenjangan inilah, nilai-nilai kemanusiaan kita diuji: apakah kita tetap peka pada penderitaan sesama di tengah gemerlap perayaan sendiri?
HumanLight Day: Cahaya Kemanusiaan di Tengah Musim Liburan
Di tengah kontras ini, tanggal 23 Desember hadir sebagai pengingat yang relevan: HumanLight Day, atau Hari Cahaya Manusia. Dilansir dari National Today, HumanLight adalah perayaan sekuler yang berfokus pada nilai-nilai universal kemanusiaan seperti kasih sayang, empati, akal sehat, harapan, dan solidaritas. Perayaan ini tidak berakar pada tradisi keagamaan tertentu, tetapi merayakan “cahaya” dari akal budi dan nurani manusia.[3]
HumanLight pertama kali diperingati pada tahun 2001 di Verona, New Jersey, oleh komunitas humanis, dan kemudian diakui secara luas oleh American Humanist Association pada 2004. Tujuan utamanya sederhana namun mendalam: merayakan kemanusiaan tanpa meniadakan keberagaman keyakinan, sekaligus mengajak kita semua berkontribusi pada dunia yang lebih adil dan damai.
Biasanya, HumanLight dirayakan dengan menyalakan lilin, makan bersama, refleksi nilai hidup, atau kegiatan amal. Namun, lebih dari sekadar simbol, HumanLight adalah ajakan konkret untuk bertindak nyata untuk menghadirkan secercah cahaya di tengah situasi yang paling gelap, termasuk saat bencana menerpa.
Bencana dan Liburan: Ujian Solidaritas Sosial
Dalam konteks Indonesia, akhir tahun sering menjadi periode krusial sekaligus paradoks bagi respons kemanusiaan. Ketika sebagian masyarakat menikmati waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga, sebagian lainnya justru kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan orang-orang tercinta. Ketimpangan pengalaman ini bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disadari bersama sebagai bagian dari realitas kolektif kita.
Di sinilah sisi kemanusiaan kita diketuk untuk lebih peka dan berempati, untuk merayakan kebahagiaan tanpa melupakan mereka yang sedang berduka. Solidaritas kita sedang diuji: sejauh mana rasa peduli kita berbuah dalam tindakan nyata bagi sesama?
Nyalakan Lilin Solidaritas: Sebuah Ajakan Bertindak
Mari, pada momentum HumanLight tahun ini, kita wujudkan cahaya kemanusiaan itu dalam langkah-langkah nyata:
- Donasi yang Tepat: Salurkan sebagian rezeki melalui lembaga terpercaya yang aktif menangani korban bencana akhir tahun di Sumatra. Pastikan donasi Anda sampai pada yang paling membutuhkan.
- Jadi Penyambung Informasi: Jadilah relawan virtual dengan aktif menyebarkan informasi bantuan yang akurat dan terkini di media sosial. Perangi hoaks yang sering merugikan korban.
- Renungkan dan Bagikan: Luangkan waktu untuk berefleksi tentang makna solidaritas. Bagikan cerita inspiratif atau ajakan kebaikan untuk mengingatkan komunitas sekitar tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan cara-cara seperti ini, cahaya manusia tidak hanya bersinar hangat di tengah pesta perayaan, tetapi juga menjadi penerang yang menghangatkan dan memberi harapan di tengah gelapnya bencana.
“Merayakan kebahagiaan tanpa melupakan penderitaan sesama.”
[2] https://www.cnbcindonesia.com/news/20251222181648-4-696424/korban-tewas-banjir-sumatra-tambah-16-jiwa-175-orang-masih-hilang
[3] https://www.tribunnews.com/nasional/7770242/tanggal-23-desember-memperingati-hari-apa-ini-sejarah-humanlight-day?lgn_method=google&google_btn=onetap.


