Laporan Situasi Hak-Hak Digital 2022 yang dirilis oleh SAFEnet selama tahun 2022, terjadi insiden keamanan digital sebanyak 302 kali. Artinya, rata-rata terjadi lebih dari 25 insiden tiap bulan. Angka tersebut meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya yaitu 147 insiden (2020) dan 193 insiden (2021) atau naik sekitar 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa selama tiga tahun insiden keamanan digital di Indonesia terus meningkat.
Kelompok kritis seperti aktivis, jurnalis, pekerja media, dan organisasi masyarakat sipil merupakan kelompok yang paling banyak mengalami serangan digital, hampir 50 persen dari total jumlah korban serangan. Korban serangan digital selama 2022 paling banyak terjadi pada lembaga publik (62), staf organisasi masyarakat sipil dan aktivis (55), jurnalis dan pekerja media (50), mahasiswa dan pelajar (37), serta organisasi masyarakat sipil (23). Banyaknya lembaga publik yang menjadi korban itu terkait dengan banyaknya kebocoran data sekaligus menunjukkan betapa lemahnya pertahanan siber di negeri ini.
Pertengahan tahun 2022 lalu Yayasan LKiS memberikan sentuhan baru dengan mengajak para pelaku aktivis media terutama admin media sosial untuk membangun admin kolaborasi media sosial yang terdiri dari berbagai komunitas, lembaga dan jaringan untuk memproduksi dan menyebarkan kampanye isu masing-masing komunitas, lembaga dan jaringan untuk dapat dikampanyekan bersama dan menjadi isu bersama.
Namun sayangnya belum semua admin media memiliki bekal untuk melakukan mitigasi terkait dengan keamanan digital. Ketika akun direntas dan hilang baru melakukan upaya pengembalian akun hasilnya nyaris tidak kembali. Apalagi ketika membangun narasi kampanye media yang sensitif. Untuk itu Yayasan LKiS mencoba mengajak pengiat media (Dwitasari/Ayik Teteki), akademisi (Gilang Adikara), dan jurnalis (Bambang Muryanto) untuk menuliskan tentang buku saku Digital Safety yang akan diperuntukkan untuk admin media sosial.
Untuk mengakses buku ini, silakan tekan link di sini

