Yogyakarta, 8 September 2025 — Di pelataran Masjid UIN Sunan Kalijaga, senja itu tidak hanya membawa ketenangan, tetapi juga suara-suara harapan dan solidaritas. Komunitas GUSDURian Jogja menggelar doa lintas agama dan panggung budaya sebagai bentuk empati dan perlawanan terhadap kekerasan aparat yang menelan korban jiwa dalam gelombang demonstrasi sejak akhir Agustus.
Aksi ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas iman, akademisi, seniman, dan masyarakat sipil yang bersatu menyuarakan keadilan. Di tengah lantunan lagu kebangsaan dan doa dari tujuh agama, terpajang papan hitam bertuliskan nama-nama korban, dihiasi bunga-bunga sebagai simbol duka dan penghormatan. Nama-nama seperti Affan Kurniawan dan Rheza Sendy Pratama menjadi pengingat bahwa demokrasi yang dijaga dengan nyawa tak boleh dilupakan begitu saja.
Presidium GUSDURian Jogja, Hamada Hafidzu, menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk solidaritas masyarakat sipil terhadap kondisi demokrasi yang kian terancam. “Hari ini kita menggelar doa bersama yang diikuti oleh para tokoh agama dari tujuh agama di Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan, “Suara masyarakat yang terus disuarakan melalui berbagai aksi seharusnya mendapat respons dari para pemimpin. Kami berharap agar tuntutan-tuntutan yang disampaikan dapat segera direalisasikan.”[1]
Setelah lagu, puisi, dan orasi berkumandang, acara doa lintas agama-kepercayaan ini ditutup dengan pernyataan sikap GUSDURian Jogja dengan 9 poin substantial: Pertama, Berbela sungkawa mendalam kepada keluarga, sahabat, dan seluruh rakyat Indonesia atas gugurnya saudara-saudara kita yang kehilangan nyawa saat menyuarakan aspirasi rakyat. Kedua, kepada mereka yang terluka dan mengalami kerugian fisik, psikis, material, maupun nonmaterial baik di Yogyakarta maupun di berbagai daerah lain di Indonesia. Ketiga, mendesak presiden untuk menghentikan segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh aparat dan mengusut tuntas segala bentuk pelanggaran HAM khususnya korban kekerasan massa aksi tertanggal 29 Agustus 2025 hingga 1 September 2025. Keempat, menuntut presiden untuk melakukan reformasi Polri dan mencopot Kapolri atas tindak kekerasan yang terus terjadi. Kelima, menuntut pemerintah untuk mencabut berbagai fasilitas dan tunjangan kepada pejabat pemerintah dan anggota DPR yang tidak berpihak pada rakyat. Keenam, menuntut Pemerintah untuk membebaskan semua demonstran, pejuang lingkungan, HAM, dan demokrasi. Ketujuh, menuntut Presiden untuk menarik militer kembali ke barak dan cabut UU TNI. Kedelapan, menuntut pemerintah menegakkan rule of law dan memberantas korupsi yang semakin vulgar dan brutal. Dan terakhir adalah menuntut pemerintah memberikan jaminan sosial gratis bagi semua rakyat; Mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk melakukan konsolidasi gerakan dan memastikan prinsip-prinsip demokrasi substantif.
Aksi solidaritas ini bukan hanya sekedar ekspresi kemanusiaan, tetapi juga pengejawantahan dari 9 Nilai Utama Gus Dur yang menjadi fondasi gerakan GUSDURian. Beberapa nilai yang penting dan mendasari aksi dan sikap ini adalah: Nilai Kemanusiaan dimana membela martabat manusia tanpa syarat, sebagaimana Gus Dur membela yang tertindas. Nilai Keadilan yaitu menuntut keadilan bagi korban kekerasan aparat adalah bentuk tanggung jawab moral. Nilai Kesetaraan sebagai upaya menolak diskriminasi dan memperjuangkan hak yang sama bagi semua warga negara. Nilai Pembebasan yang mendorong masyarakat untuk bebas dari ketakutan dan penindasan. Dan terakhir Nilai Keksatriaan, kita di tuntut untuk berani bersuara dan bertindak demi nilai-nilai yang diyakini, meski menghadapi risiko.[2]
Pada akhir pernyataan sikap, GUSDURian Jogja mengirimkan pesan sederhana namun tegas: Demokrasi hanya akan bermakna bila ia berakar pada kemanusiaan. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa solidaritas bukan hanya soal empati, tetapi juga keberanian untuk bersuara. Di tengah represi yang melanda negeri ini, komunitas seperti GUSDURian Jogja serta berbagai aksi solidaritas yang muncul di Yogyakarta menjadi lentera yang menyalakan harapan akan demokrasi yang lebih manusiawi. Dan yang terpenting, kini seluruh masyarakat tengah menanti langkah kongkrit negara atas berbagai sikap dan tututan yang telah digulirkan melalui berbagai aksi masa dan dikampanyekan melalui berbagai media. Semoga suara kita tidak hanya tertahan sampai di sini saja, namun dilanjutkan pada solidaritas dan aksi lainnya, sampai seluruh tuntutan dapat terwujud nyata. Salam solidaritas untuk seluruh Rakyat Indonesia, Jangan padam bara untuk terus bersuara!
Penulis: Kristina Viri, Koordinator Program Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia
[1] https://tirto.id/gusdurian-jogja-gelar-doa-bersama-untuk-korban-kekerasan-aparat-hhpe
[2] https://gusdurian.net/9-nilai-utama-gus-dur/


