Di sebuah sudut desa bernama Cupuwatu di Sleman, Yogyakarta, seorang perempuan bernama Fransisca Supriyani Wulandari, atau yang akrab disapa Dani, menyalakan api perubahan. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kepedulian yang tumbuh dari keresahan. Dani bukan seorang pejabat, bukan pula ilmuwan besar. Ia adalah pegiat lingkungan yang bermula dari pertanyaan sederhana: “Mengapa sampah plastik yang tak laku dijual terus menumpuk dan tak pernah benar-benar hilang?”
Keresahan itu perlahan berubah menjadi obsesi. Dani memperhatikan bahwa plastik jenis tertentu seperti kresek, bungkus makanan, dan Styrofoam tidak memiliki nilai jual, tak bisa dikelola oleh bank sampah biasa, dan akhirnya hanya berakhir di TPA, dibakar di pekarangan, atau hanyut ke sungai. Sampah-sampah ini diam-diam menjadi ancaman, mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya.
Namun, titik balik datang saat Dani berkunjung pada pegiat lingkungan di Bali. Di sana, sahabatnya mengajak berkunjung ke Yayasan Get Plastic Indonesia, sebuah yayasan yang melakukan riset dan pengembangan terhadap teknologi pirolisis, metode inovatif yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Dani merasa seperti menemukan potongan teka-teki yang selama ini hilang. “Ini jawabannya,” batinnya.
Menyalakan Harapan Lewat Energi
Sekembalinya ke Cupuwatu, Dani tidak menunggu. Ia mengajak Bank Sampah Go Green, komunitas yang ia rintis dan rawat selama ini untuk menjalin kemitraan dengan Yayasan Get Plastic. Kesempatan datang dalam bentuk sebuah event edukatif yang unik: konser musik dan festival pasar tradisional bertajuk Get the Fest 2024, yang mengusung tema lingkungan dan pengelolaan sampah.
Dani dan timnya bekerja dari akar rumput. Mereka mengedukasi ibu-ibu PKK, mengunjungi sekolah, mendatangi warung, kafe, hingga angkringan, mengajarkan cara memilah sampah plastik. Warga diberikan kantong khusus. Sampah-sampah plastik yang terkumpul lalu diolah melalui mesin pirolisis menjadi bahan bakar. Dan di sinilah letak keajaibannya bahwa BBM hasil dari sampah itu kemudian digunakan untuk menyalakan lampu dan sistem suara konser musik yang berlangsung selama tiga hari.
Sampah yang selama ini dianggap tak berguna, kini menjadi sumber energi yang menghidupkan panggung, menyatukan orang, dan menyuarakan harapan.
Perubahan yang Terjadi di Sekitar
Apa yang dilakukan Dani bukan sekadar pengelolaan sampah. Ia membangun kesadaran. Ia menyulut perubahan. Lambat laun, warga Cupuwatu mulai memilah sampah secara mandiri, menyetorkannya ke tempat pengolahan tanpa perlu dijemput. Bahkan, ada warga yang dulu membakar sampah di halaman, kini menjadi edukator bagi tetangganya.
Dampak sosialnya pun terasa. Tempat pengolahan kini menjadi ruang belajar, dikunjungi oleh tamu dari berbagai daerah. Setiap kunjungan membawa rezeki, UMKM lokal mendapat pesanan konsumsi, warga sekitar mendapat pekerjaan baru sebagai operator mesin atau petugas pemilah. Dani tak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tapi juga membuka pintu bagi pemberdayaan ekonomi warga.

Menabrak Tantangan, Menjemput Solusi
Meski inovatif, bukan berarti jalan yang dilalui selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari dua sisi: teknologi dan kebiasaan lama. Tidak semua jenis plastik bisa diolah seperti PET (Polyethylene Terephthalate: jenis plastik yang ringan, kuat, dan transparan) dan PVC (Polyvinyl Chloride: Jenis plastik yang kuat, tahan lama, dan fleksibel, tetapi mengandung klorin). Kedua jenis tersebut justru berbahaya bagi mesin dan manusia. Di sisi lain, masih banyak warga yang enggan memilah sampah, beralasan sudah membayar retribusi sampah atau mengandalkan tradisi lama: membakar.
Namun Dani tak lelah. Ia tahu, perubahan butuh waktu dan kesabaran. Melalui WhatsApp group warga, ia terus menyuarakan edukasi. Ia memposting foto-foto warga yang rajin menyetor sampah, mengubah kegiatan harian menjadi ajang kebanggaan dan inspirasi.
Mendorong Energi Komunitas dan Harapan Besar
Bagi Dani, keberhasilan program ini bukan hanya soal jumlah sampah yang berhasil diolah, tetapi tentang potensi luar biasa yang bisa terjadi ketika komunitas diberdayakan. Ia membayangkan teknologi pirolisis ini hadir di pelosok-pelosok Indonesia, di desa-desa terpencil yang kesulitan mendapatkan BBM. Di tempat-tempat seperti itu, limbah plastik bisa menjadi penyelamat bagi petani yang butuh bahan bakar untuk pompa air, atau nelayan yang ingin melaut.
Meskipun sampai hari ini belum ada dukungan dari pemerintah daerah, Dani tetap melangkah. Bersama Yayasan Get Plastic, ia terus mengembangkan sistem, menjaga keamanan proses, dan memastikan tidak ada dampak baru yang muncul dari pengolahan ini.
Membangun Budaya Baru
Apa yang dilakukan Dani dan tim Bank Sampah Go Green adalah membangun budaya baru—budaya bertanggung jawab atas sampah sendiri. Ia bermimpi agar setiap rumah tangga menjadi pusat pengelolaan sampah. Karena baginya, sampah bukan sekadar barang buangan. Seperti kata tagline komunitasnya: “Waste is not a waste until you waste it.” Sampah hanyalah sampah jika kamu menganggapnya demikian.
Penutup: Kisah yang Menginspirasi Gerakan Nasional
Kisah Dani adalah kisah tentang ketekunan, kreativitas, dan cinta pada lingkungan. Ia bukan hanya mengolah plastik menjadi energi, tapi juga mengubah keputusasaan menjadi harapan. Lewat pendekatan yang manusiawi dan membumi, ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, dari desa kecil, oleh seseorang yang besar hatinya.
Jika satu Dani bisa membuat perubahan sebesar ini di Cupuwatu, bayangkan apa yang bisa terjadi jika gerakan ini menyebar ke seluruh penjuru negeri?
Penulis: Rose Merry
Berdasarkan wawancara tertulis dengan Fransisca Supriyani Wulandari pada 11 Mei 2025


