Tahukah Anda bahwa setiap tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia? Pada tahun 2025, tema yang diusung adalah “Change the Narrative on Suicide”, yang bertujuan mengubah cara pandang masyarakat tentang bunuh diri dari sesuatu yang tabu menjadi ruang dialog terbuka. Tema ini menitikberatkan pada peran aktif setiap elemen masyarakat dalam menyediakan sistem dukungan yang komprehensif dan mengedukasi pentingnya mencari pertolongan profesional bagi yang membutuhkan.
Perempuan dan anak-anak termasuk kelompok paling rentan menjadi korban bunuh diri. Data WHO tahun 2024 menunjukkan lebih dari 720.000 kematian akibat bunuh diri secara global, dengan bunuh diri sebagai penyebab kematian tertinggi ketiga bagi kelompok usia 15-29 tahun.[1] Di Indonesia, temuan Komnas Perempuan melaporkan peningkatan kasus depresi dan bunuh diri pada perempuan dan anak muda akibat tekanan sosial, kekerasan, dan beban ekonomi. Dan studi terbaru dari Sandersan Onie (University of New South Wales) yang diterbitkan di The Lancet Regional Health-Southeast Asia (2024) bahkan mengungkapkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia kemungkinan 860% lebih tinggi dari data resmi akibat stigma dan underreporting.[2]

Penyebab kenaikan angka bunuh diri diri dipicu oleh faktor multidimensi di antaranya adalah tekanan social, kekerasan dan juga ekonomi, terutama fenomena pinjaman online yang meresahkan dan teror penagihan memperparah tekanan mental, terutama pada perempuan yang memikul beban ganda sebagai pengelola keuangan keluarga. Lalu masyarakat masih tersandung stigma yang menyalahkan korban bunuh diri, padahal esensi masalahnya justru pada ketiadaan dukungan kolektif yang seharusnya menjadi pengaman sosial. Ketakutan akan penghakiman dan isolasi sosial menyebabkan banyak keluarga memendam kasus bunuh diri sebagai rahasia. Hanya 12,8% data bunuh diri yang tercatat oleh kepolisian, sementara sisanya lenyap akibat underreporting.
Kesepian terbukti menjadi faktor kritis dalam kasus bunuh diri, menyumbang 23-30% melalui gangguan mood yang dialami individu. Kondisi ini mempertegas bahwa kesepian bukan sekadar perasaan subjektif melainkan faktor risiko yang nyata, terutama bagi populasi muda (15-29 tahun). Data Indonesia memperlihatkan kerentanan gender dimana perempuan memiliki angka bunuh diri 4,8/100.000, lebih tinggi daripada laki-laki (3,7/100.000).[3] Dan di perparah dengan kurangnya layanan kesehatan mental dimana akses terhadap layanan konseling dan dukungan psikososial masih terbatas.
Upaya pencegahan bunuh diri memerlukan tanggung jawab bersama melalui pendekatan holistic dan kolaboratif. Pertama, mengubah Narasi dimana kita perlu mendorong percakapan terbuka tentang kesehatan mental untuk mengurangi stigma melalui literasi atau kampanye. Keluarga dan komunitas berperan sebagai sistem dukungan pertama dengan mendengarkan secara empatik termasuk membangun support group bagi penyintas. Kedua, perlunya penguatan kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan pencegahan bunuh diri sebagai kebijakan publik, termasuk regulasi pinjol ilegal dan penguatan jaring pengaman sosial. Upaya ketiga adalah mempromosikan secara masif akses layanan dukungan darurat seperti SEJIWA (119 ext. 8) dan D’Patens 24 (0811-9791-0000) yang menyediakan konsultasi profesional cuma-cuma bagi masyarakat. Banyak layanan konseling yang dapat diakses oleh perempuan dan anak-anak dalam krisis, baik darurat maupun non-darurat. Penting untuk mencari bantuan sesegera mungkin dan tidak ragu untuk mencoba beberapa layanan jika satu layanan tidak responsif. Kesehatan mental adalah prioritas, dan meminta bantuan adalah langkah keberanian. Terakhir, kolaborasi lintas sektor dimana membangun sinergi antara CSO yang bergerak di isu kesehatan mental, Masyarakat dan Pemerintah baik dalam upaya pencegahan, penanganan melalui layanan konseling atau psikososial dan juga advokasi kebijakan pemerintah.
Pada peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2025, kita diingatkan, bahwa akar masalah bunuh diri terletak pada kegagalan sistemik, bukan kelemahan personal. Dengan mengubah narasi, memulai percakapan, dan memperkuat dukungan kolektif, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan menyelamatkan nyawa. Mari bersama ubah narasi dan wujudkan lingkungan yang peduli terhadap kesehatan mental. Setiap aksi kecil dapat menyelamatkan nyawa maka jadilah bagian dari solusi dengan memutus rantai stigma dan kesepian.
Penulis : Rose Merry, Staf Kampanye Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia.
[1] https://www.who.int/campaigns/world-suicide-prevention-day/2025
[2] https://www.kompas.id/artikel/epidemi-sunyi-bunuh-diri-tekanan-ekonomi-dan-negara-yang-absen
[3] https://www.kompas.id/artikel/setiap-jam-terjadi-100-kematian-terkait-kesepian-remaja-paling-banyak-alami-kesepian


