Suatu hari, saya mengikuti materi ruang untuk serangkaian PAB Sispala di SMK tempat saya bersekolah. Dari banyaknya materi atau cerita dari senior saya, ada satu hal yang menarik perhatian yaitu saat salah satu senior mengatakan “Saya malu kalau punya teman yang suka buang sampah sembarangan.” Kalimat sederhana itu membuat saya diam sejenak, berfikir apakah ini sebuah sindiran untuk kami yang sebelumnya sering membiarkan sampah bekas kami jajan ditinggal seenaknya di laci-laci meja tempat kami duduk. Selama ini saya selalu tak peduli dengan sampah yang saya hasilkan dari banyaknya aktivitas keseharian.
Saya merasa terketuk dengan kalimat sederhana dari senior saya itu, saya jadi merenungi bahwa ternyata ditengah keramaian dunia yang terus bergerak, ada segelintir orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tinggal, meski dengan upaya-upaya kecil, mereka terus beraksi untuk dapat membantu membuka pikiran banyak orang.
Benar saja, setelah banyak mengikuti kegiatan kepecinta-alaman, saya mendapatkan fakta baru, yaitu lingkungan kita untuk saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dapat kita saksikan dan rasakan bahwa cuaca semakin tak menentu. Kata senior saya, dulu ritme hujan dapat di hafalkan melalui bulan kalender yang berakhiran kata “mber”, kira-kira seperti dari September dan seterusnya. Tapi yang terjadi kini, ritme hujan sudah lebih sering jatuh diluar prediksi yang belum waktunya. Dalam frasa orang-orang pedesaan di Jawa yang banyak menjadi petani, mereka menyebutnya sebagai “udan salah mongso” (hujan di musim yang salah). Lebih jauh lagi, dapat kita rasakan juga kualitas udara kita juga telah memburuk, sedangkan gunungan sampah juga ada di mana-mana. Namun, yang lebih mencemaskan adalah ketika kepedulian terhadap masalah ini justru dianggap sebagai urusan orang lain, pemerintah, aktivis, atau organisasi internasional. Padahal, bumi adalah rumah kita bersama, tempat yang kita pinjam untuk ditinggali, dan dinikmati keindahannya. Mungkin memang sudah semestinya kita yang tinggal di dalamnya haruslah turut menjaga kelestariannya.
Di sinilah peran orang muda menjadi begitu penting. Orang muda memiliki sesuatu yang sulit ditandingi: seperti energi, ide segar, dan kemampuan adaptasi. Tapi lebih dari itu, orang muda juga punya keberanian untuk tidak diam. Kita melihat mereka turun ke jalan dalam aksi iklim, menyuarakan perubahan lewat konten digital, membentuk komunitas urban farming, hingga menjalankan bisnis kecil yang ramah lingkungan. Memang semuanya tidak besar, tapi gerak-gerak kecil dan aksi sesederhana apapun, semuanya tetap akan berdampak.

Saya teringat pengalaman pribadi saat ikut kegiatan konservasi mangrove di Laguna Pantai Baros, Yogyakarta. Waktu itu, masa setelah badai covid menerjang, kami melaksanakan program kerja penanaman dan konservasi mangrove. Kami tidak hanya menanam mangrove, lalu pulang dengan selfie dan rasa puas. Kami harus datang setiap minggu untuk memonitor pertumbuhan tanaman itu; mengukur tinggi mangrove, membersihkan sampah yang mengganggu sekitar area tanam, dan bahkan membuat pagar untuk melindunginya dari hewan atau gelombang air yang bisa merusak, atau mungkin juga sampah terbawa arus yang dapat menghambat pertumbuhan mangrove.
Semua itu butuh konsistensi, bukan sekadar niat awal yang membara. Mengapa konsistensi? Karena itu adalah Kunci. Dari kegiatan itu, saya belajar satu hal penting: kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, tapi setiap orang punya kesibukan dan rutinitas masing-masing. Ketika kami perlahan mulai meninggalkan lokasi, tanaman yang kami tinggalkan ternyata sudah hilang atau mati. Tempat itu memang menarik untuk dikunjungi, tapi yang benar-benar terlibat dalam kegiatan konservasinya hanya sedikit. Kini, tempat itu sudah kembali menjadi destinasi wisata seperti dulu. Sebenarnya, kami tidak benar-benar pergi, tetapi kadang rasa lelah muncul, terutama saat kami berusaha melakukan kegiatan pelestarian, sementara di sisi lain, banyak pengunjung yang datang mungkin hanya untuk menikmati suasana saja. Bukan berarti kami tidak suka, tapi sebelumnya kami terbiasa dengan ketenangan dan kebersamaan di tempat yang tidak terlalu ramai. Sekarang, tempat itu sudah cukup banyak dikunjungi, sehingga kami agak kesulitan untuk beraktivitas dengan leluasa seperti biasa.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan perkara satu hari penuh aksi, tapi soal komitmen jangka panjang. Kita tidak sedang menanam demi foto, tapi demi masa depan. Kita tidak membersihkan pantai demi konten, tapi demi menjaga rumah kita bersama tetap bisa ditinggali.
Kritik yang sering muncul adalah bahwa aksi orang muda kadang terlalu idealis, terkesan tak realistis, atau hanya sebatas tren, fomo katanya. Tapi apakah itu salah? Justru dari idealisme itu dapat melahirkan mimpi-mimpi besar yang mengubah arah sejarah. Dulu, para pemuda juga yang menggagas kemerdekaan, membentuk gerakan sosial, dan menginspirasi budaya. Kini, mereka kembali mengambil peran, yaitu untuk menyelamatkan masa depan yang semakin digerus krisis iklim.
Tentu, tidak semua orang bisa memimpin gerakan, atau mau bersusah-payah untuk terlibat dalam aksi-aksi kecil yang ada. Tapi peran itu tidak harus selalu dalam bentuk besar dan terang. Mengurangi sampah plastik, memilah limbah di rumah, membawa tumbler sendiri, menyuarakan pesan lewat media sosial, atau mungkin sesederhana membiasakan membuang putung rokok pada asbak. Gerakan kecil seperti itu sebenarnya sudah cukup untuk menumbuhkan rasa yang besar, yaitu rasa mencintai dan berpihak pada bumi. Point pokok dari tulisan ini adalah kesadaran dan konsistensi.
Kadang kita suka berpikir, “Apa yang bisa aku lakukan? Ketika aku hanyalah satu orang.” Tapi perubahan besar sering dimulai dari satu suara, satu langkah, dan satu aksi. Jangan pernah menganggap remeh akan pengaruh dari keberanian kecil. Karena ketika satu orang telah berani berangkat memulainya, yang lain pasti juga akan mengikuti, memang tidak semuanya, tapi segala sesuatu pasti juga butuh tahap-tahap untuk berkembang. Dan tiba-tiba, kita bukan lagi satu, tapi telah menjadi gerakan yang lebih luas dan menyeluruh.
Hari ini, kita dihadapkan pada pertanyaan penting: Apakah kita akan menjadi generasi yang diam saat bumi meminta tolong, atau kita akan jadi generasi yang berdiri dan menjawab panggilannya? Saya percaya orang muda dapat menjawabnya dengan lantang. Bukan hanya lewat kata, tapi juga lewat tindakan-tindakan yang dimulai secara sederhana. Ayo, mulai sekarang juga! “Setiap langkah kecil kita, berarti untuk bumi. Jadi, tunggu apa lagi?”
Penulis :Lutfi Rahman Chalish, Sispala Gramasurya / Child Campaigner Jogja


