Oleh: Kristina Viri, Koordinator Program YKPI
“Kolaborasi bukan sekadar strategi, tetapi kebutuhan.”
Bekerja di isu hak asasi manusia dan kebebasan beragama atau berkeyakinan (KBB) bukanlah pilihan yang biasa. Bagi saya, ini adalah pertemuan antara pengalaman personal, sejarah keluarga, dan keprihatinan yang sejak lama mengendap, lalu menemukan bentuknya dalam kerja-kerja advokasi bersama Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI).
Dari Pengalaman Personal ke Advokasi
Saya bergabung dengan YKPI bukan tanpa latar. Pengalaman hidup sebagai bagian dari kelompok minoritas agama, serta sejarah keluarga yang memiliki keterkaitan dengan komunitas penghayat, membuat isu KBB terasa sangat dekat. Setelah lulus kuliah, saya mulai bersentuhan langsung dengan isu penghayat dan menyadari bahwa situasi yang dihadapi komunitas ini hingga hari ini belum sepenuhnya adil. Dari sanalah motivasi itu tumbuh: keinginan untuk berkontribusi, sekaligus belajar kembali, terutama karena konteks zaman telah berubah. Era digital, internet, dan dinamika politik hari ini menuntut cara kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Evolusi Peran dan Ruang Belajar
Di YKPI, peran saya berkembang secara organik. Saya memulai sebagai konsultan dan officer advokasi, hingga kemudian dipercaya untuk mengoordinasikan program. Posisi ini memberi saya ruang belajar yang sangat besar. Di awal, ritme kerja sangat padat dan cepat, seperti sedang berlari, terutama dalam proses pendampingan mitra. Namun dari situ saya menyadari satu peran penting: menjembatani komunikasi yang sebelumnya belum terbangun dengan baik, khususnya dalam kerja-kerja advokasi. Selain memastikan laporan dan koordinasi umum berjalan, saya melihat kontribusi paling signifikan justru ketika YKPI mampu menghubungkan inisiatif-inisiatif di daerah dengan jejaring nasional.
Kekuatan Jejaring dalam Membuka Sumbatan
Pengalaman ini sangat terasa, misalnya dalam isu Qanun Jinayat. Di tingkat daerah, pemerintah dan DPR bisa saja sepakat, tetapi hambatan justru muncul di level kementerian. Di sinilah kerja jaringan menjadi krusial. YKPI hadir menemani mitra daerah untuk bertemu aktor nasional, membuka sumbatan advokasi yang sebelumnya terasa buntu. Proses ini mengajarkan saya bahwa perubahan kebijakan jarang lahir dari kerja sendiri; ia lahir dari perjumpaan dan jejaring yang dirawat.
Menghadapi Tantangan Konsolidasi dan Ego Sektoral
Sebelum bekerja di YKPI, saya melihat tantangan besar di tingkat daerah, terutama soal konsolidasi masyarakat sipil. Di beberapa wilayah dampingan, kerja-kerja advokasi masih sangat berbasis donor, bukan berbasis gerakan. Ego sektoral masih kuat, kecenderungan bekerja sendiri masih dominan, dan skop kerja sering kali berhenti di level lokal. Bahkan di Yogyakarta yang sering dianggap sebagai ruang progresif, membangun konsolidasi lintas isu dan lintas wilayah tetap menjadi tantangan, apalagi jika harus menjahit kerja bersama antar-daerah.
Pengalaman ini memengaruhi pendekatan kerja saya di YKPI. Saya selalu mendorong kerja berbasis koalisi. Dalam advokasi rancangan peraturan atau kebijakan, misalnya, kami tidak hanya bergerak dengan satu mitra, tetapi bersama beragam organisasi: dari BIJELI, Singkil, KontraS Aceh, hingga jaringan nasional seperti PGI, Pelita Padang, EBI, dan Kabar Sejuk. Kami sadar betul bahwa “lawan” yang dihadapi terlalu besar jika ditangani sendiri.
Momen Transformatif dan Keberhasilan Kolektif
Ada banyak momen transformatif selama bekerja di YKPI. Salah satunya ketika komunikasi dengan mitra sudah terbangun cair dan produktif. Proses membangun kepercayaan tidak mudah, tetapi ketika mitra mau menindaklanjuti diskusi, berbagi kesulitan secara terbuka, dan merumuskan mimpi bersama bahkan lewat proposal, itu adalah tanda bahwa relasi sudah terbangun.
Momen lain yang sangat membahagiakan adalah ketika capaian kebijakan yang semula terasa mustahil justru berhasil diwujudkan. Dalam tiga tahun, target lima kebijakan yang terdengar menakutkan ternyata tercapai dan sah secara hukum. Akomodasi penghayat dalam peraturan wali kota, kebijakan layanan di tingkat kabupaten, hingga dinamika panjang advokasi Qanun Jinayat semuanya mengajarkan bahwa kerja kolektif bisa menembus batas yang sebelumnya tak terbayangkan.
Kepekaan Kontekstual dan Jalan Alternatif
Bekerja di isu sensitif seperti agama, gender, dan keadilan sosial-ekologis juga menuntut kepekaan tinggi. Awalnya, saya tidak sepenuhnya menyadari betapa sensitifnya isu-isu ini di konteks tertentu. Pendampingan di Aceh, misalnya, mengajarkan saya untuk membaca konteks secara lebih cermat. Isu SOGIESC atau Pride tidak selalu bisa dibicarakan secara terbuka dengan istilah yang sama di setiap wilayah. Strategi harus disesuaikan tanpa mengorbankan substansi, tetapi juga tanpa menambah kerentanan kelompok yang sudah rentan. Sensitivitas bukan berarti mundur, melainkan mencari jalan yang paling aman dan efektif.
Ada pula hasil-hasil tak terduga yang memberi harapan. Pendampingan penyusunan SOP berbasis adat untuk mencegah praktik kawin tangkap, misalnya, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Proses dialog adat justru membuka ruang kesepakatan yang kuat dan berkelanjutan.
Pemegang Hak adalah Pusat
Pelajaran paling penting yang saya dapatkan adalah bahwa pemegang hak (rights holders) harus selalu menjadi pusat. Di YKPI, kami berupaya memastikan bahwa komunitas dampingan bukan sekadar objek program, tetapi subjek utama perjuangan. Kolaborasi lintas pihak, penguatan kapasitas komunitas, dan identifikasi aktor kunci di dalam struktur kekuasaan lokal menjadi kunci untuk mendorong perubahan dalam konteks yang kompleks.
Tantangan terbesar tetap soal ego sektoral. Tidak semua organisasi siap berjalan bersama. Cara saya menghadapinya sederhana: berjalanlah dengan mereka yang sudah siap. Yang lain akan menyusul, atau tidak dan itu tidak apa-apa. Kolaborasi tidak bisa dipaksakan, tetapi harus terus diperlihatkan manfaatnya.
Merawat Jejaring, Menjaga Harapan
Untuk mereka yang baru bekerja di YKPI atau organisasi serupa, saya ingin mengatakan: pekerjaan ini akan membuka pengalaman yang mungkin belum pernah kamu temui sebelumnya. Kamu akan berjumpa dengan beragam bentuk kerentanan, sekaligus ketahanan komunitas. Di tengah negara yang kian mempersempit ruang sipil, peranmu menjadi sangat penting. Selama kita masih memiliki sumber daya, tugas kita adalah memperkuat gerakan dan merebut kembali ruang sipil yang aman sebelum represi menjadi sepenuhnya nyata.


