Hujan mengguyur deras, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti sore itu. Aku berdiri di balik jendela kamar, membiarkan angin menyusup masuk dan menyentuh wajahku. Mataku menatap keluar, menyaksikan pohon-pohon bergoyang tertiup angin, tanpa benar-benar memperhatikannya.
Setiap tahun, tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional, yang menjadi momentum global untuk merayakan pencapaian perempuan serta menyerukan kesetaraan gender. Perempuan yang berdaya bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang menciptakan dunia yang lebih beragam, inklusif, dan penuh warna. Hari Perempuan Internasional adalah momen untuk mengenang perjuangan perempuan dalam meraih keadilan dan kesetaraan. Keadilan, bagiku, adalah persamaan hak di depan hukum. Setiap individu, tanpa memandang gender, status sosial, atau latar belakang, berhak mendapatkan perlakuan yang setara. Perempuan yang selama ini sering terpinggirkan dalam sistem hukum dan sosial, memiliki hak yang sama untuk didengar, dihormati, dan diperlakukan dengan adil. Sepanjang hidupku, aku bertemu dengan banyak perempuan yang menunjukkan semangat luar biasa dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Mereka bukan hanya korban dari sistem yang timpang, tetapi juga pejuang yang pantang menyerah untuk memperoleh keadilan.
Salah satu pengalaman berharga dalam hidupku adalah menjadi paralegal di YLBHI–LBH Banda Aceh. Di sana, aku belajar bahwa perjuangan untuk keadilan bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang membutuhkan ketekunan dan keberanian. Aku melihat sendiri bagaimana hukum dapat menjadi alat yang memberdayakan, tetapi juga bisa menjadi pisau bermata dua yang melukai mereka yang tidak memiliki akses atau pemahaman yang cukup. Setiap kasus yang kutangani, setiap perempuan yang kudampingi, mengajarkanku arti kepedulian dan penghormatan terhadap sesama.
Sebagai seorang perempuan, aku memiliki kepedulian mendalam terhadap isu-isu yang berkaitan dengan hak dan kesejahteraan perempuan. Ketidakadilan yang masih sering dialami oleh perempuan, mendorongku untuk mengambil peran aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan. Aku percaya bahwa perubahan tidak bisa terjadi jika kita hanya diam dan menunggu. Harus ada suara yang berbicara, harus ada tindakan yang diambil, harus ada keberanian untuk melawan ketidakadilan.
Peran perempuan dalam isu kemanusiaan sangatlah penting dan tidak tergantikan. Mereka membawa perspektif, pengalaman, serta komitmen yang kuat terhadap keadilan dan kesejahteraan sosial. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, dedikasi dan ketekunan mereka dalam memperjuangkan hak-hak terus menerangi dunia. Mengakui dan mendukung peran perempuan dalam isu kemanusiaan bukan hanya sebuah keharusan, tetapi juga langkah penting menuju dunia yang lebih adil dan setara. Aku percaya bahwa setiap perempuan berhak hidup tanpa kekerasan, mendapatkan pendidikan yang layak, serta memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam perjalanan mendampingi perempuan korban kekerasan seksual, aku belajar bahwa ketekunan, kesabaran, dan empati adalah kunci untuk memberikan dukungan yang efektif. Setiap perempuan yang datang mencari bantuan membawa luka dan kisahnya sendiri. Ada yang datang dengan air mata yang tak terbendung, ada yang membawa kemarahan yang membara, dan ada pula yang hanya membawa keheningan, tak mampu mengungkapkan beban yang mereka pikul. Aku belajar untuk mendengar, bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati. Aku belajar bahwa kadang-kadang, kehadiran dan kepercayaan yang diberikan lebih berarti daripada sekadar kata-kata penghibur.
Pendampingan bukan sekadar memberikan nasihat hukum atau bantuan psikologis, tetapi juga membangun kembali harapan yang telah pudar. Aku juga memahami betapa pentingnya memiliki jaringan dukungan, baik itu dari rekan kerja, profesional kesehatan, maupun komunitas yang peduli. Tidak ada seorang pun yang bisa berjalan sendiri dalam menghadapi trauma sebesar ini. Bersama-sama, kita dapat membuat perbedaan nyata dalam kehidupan korban.
Mendampingi perempuan korban kekerasan seksual bukanlah tugas yang mudah. Ada kalanya aku merasa marah, frustrasi, atau bahkan hampir putus asa melihat betapa sulitnya sistem memberikan keadilan bagi mereka. Ada momen-momen ketika aku merasa kecil di hadapan ketidakadilan yang begitu besar. Namun, setiap kali aku melihat seorang perempuan kembali bangkit, menemukan kekuatannya, dan melanjutkan hidup dengan kepala tegak, aku tahu bahwa perjuangan ini tidak sia-sia.
Hari Perempuan Internasional mengingatkan kita bahwa perjuangan ini belum berakhir. Setiap langkah yang kita ambil, sekecil apa pun, adalah bagian dari perubahan besar yang akan datang. Seperti hujan yang membawa kehidupan bagi bumi, aku ingin langkah-langkah kecilku dapat memberi arti bagi mereka yang membutuhkan. Aku ingin terus belajar, terus bergerak, dan terus berjuang agar keadilan bukan sekadar impian, tetapi kenyataan bagi setiap perempuan.
Langit mulai cerah, menggantikan kelabu dengan semburat jingga senja. Aku menarik napas dalam-dalam, meresapi semangat yang terus berkobar dalam diriku. Hari ini, kita merayakan keberanian, ketangguhan, dan pencapaian perempuan di seluruh dunia. Perjuangan ini bukanlah beban, tetapi panggilan. Aku siap melangkah lebih jauh, demi dunia yang lebih adil bagi perempuan di mana pun mereka berada. Masing-masing dari kita memiliki peran dalam mempercepat aksi—baik melalui pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, maupun teknologi. Dengan bergerak bersama, kita bisa memastikan bahwa masa depan lebih cerah, tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk seluruh umat manusia.
“Apa langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini untuk mendukung pemberdayaan perempuan?”
Penulis : Husnul Khawatinnisa, Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI 2025.

