Aku ingin sedikit berbagi pengalaman yang cukup berkesan di tanggal 12 Mei 2025, ya, tepat saat Hari Raya Waisak. Buatku, ini bukan sekadar hari libur atau momen seremonial biasa. Ini adalah momen spiritual yang sudah lama aku nantikan. Sejak 2021, aku punya keinginan besar untuk merayakan Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Saat itu aku masih merasa impian ini jauh dari nyata, tapi akhirnya, di tahun 2025, keinginan itu terwujud juga.
Semuanya aku mulai dengan niat dan tekad. Sejak awal Maret aku sudah mulai merencanakan, mencari informasi dari akun Instagram @waisak.nasional tentang bagaimana tata cara perayaannya di Borobudur. Karena aku sedang kuliah dan magang, aku harus pintar-pintar mengatur waktu dan logistik, apalagi aku tinggal di Bandung, cukup jauh dari Magelang.
Dari tahun ke tahun, perayaan Waisak di Borobudur memang selalu jadi sorotan. Salah satu yang paling ditunggu-tunggu orang adalah penerbangan lampion. Tapi sebagai siswa Sang Buddha yang mengikuti aliran Theravāda, aku tahu bahwa esensi Waisak jauh lebih dalam dari sekadar lampion. Sayangnya, dalam praktiknya, hal itu kadang terabaikan.
Sebelum acara, aku mencari tahu soal ID Card. Ternyata ada dua jenis: zona 1 dan zona 2. Zona 1 dikhususkan untuk umat Buddha dari majelis di bawah naungan WALUBI. Sedangkan aku, yang dibimbing oleh Sangha Theravāda Indonesia, bukan bagian dari WALUBI hanya bisa mendapat akses zona 2. Awalnya rencananya cuma aku dan teman dekatku yang pergi, tapi akhirnya jadi rombongan 13 orang
Jujur, sempat muncul rasa ragu setelah temanku bilang, “Kalau ke Borobudur, mending pas Asadha, Pujanya lebih terasa.” Tapi aku tetap lanjut. Setelah masuk grup koordinasi Waisak, sayangnya, informasi yang aku dapatkan justru membingungkan. Grup itu lebih sering digunakan untuk jual beli penginapan dan trip, bukan koordinasi acara.
Mulai terasa kacau saat hari pengambilan ID Card. Tidak terkoordinir, panitia terlihat tidak tahu banyak soal acara. Aku tanya soal penerbangan lampion, mereka malah bingung. Bahkan ID Card belum siap saat waktu pengambilan sudah lewat. Saat hari puncak, jadwal di grup dan Instagram tidak sinkron, penutupan jalan pun tidak diinformasikan dengan jelas. Kami sempat terjebak macet dan harus putar-putar cari jalan.

Hal yang sangat mengganggu adalah saat arak-arakan dari Candi Mendut ke Borobudur. Tidak jelas barisan untuk umum, dan acaranya sangat tidak terorganisir. Ada orang sakit yang butuh bantuan medis, tapi panitia hanya sediakan ambulans tanpa tim medis. Bayangkan kalau situasinya gawat, ini bisa jadi sangat fatal.
Begitu sampai di Borobudur, suasananya lingkungan kurang tertata baik berkesan aneh dimana banyak majelis punya tenda dan altar sendiri-sendiri, padahal sudah ada altar besar di zona 1. Rasanya tidak satu kesatuan. Umat Buddha yang ingin benar-benar beribadah malah banyak yang tidak bisa masuk zona 1. Bahkan ada yang bilang ID Card zona 1 bisa didapat dengan “berdana” tertentu, padahal jelas tertulis ID Card itu gratis dan tidak untuk diperjualbelikan. Lucunya, banyak umat lain yang justru ada di zona 1, sedangkan umat Buddha malah di luar altar utama. Ironis, kan?
Bahkan ada temanku panitia yang menawarkan ID Card zona 1 dengan harga Rp100.000, katanya harga aslinya Rp1 juta! Yang lain bilang ID Card bisa didapat dengan membeli lampion gantung atau berdana pakai DANA digital. Tapi kalau “dana” kok dipatok ya? Bukankah seharusnya itu sukarela? Ini jadinya jual beli, bukan dana paramita.
Hal yang paling menyedihkan buatku adalah melihat kenyataan bahwa sebagian besar orang di sana bukan benar-benar datang untuk memperingati Hari Waisak, tapi untuk menonton penerbangan lampion. Lagi-lagi, sebenarnya bukan salah mereka juga. Tapi makna Waisak yang sesungguhnya jadi tertutup oleh gemerlap “festival”.
Lampion memang dibuat lebih ramah lingkungan, tapi tetap saja, tidak ada jaminan bahwa itu benar-benar tidak mencemari. Tahun-tahun sebelumnya lampion ini sempat jadi masalah lingkungan juga. Belum lagi umat Buddha yang datang hanya untuk “ikut-ikutan”, tidak fokus saat puja, bahkan ada yang pergi duluan setelah sesi lampion selesai, padahal acara belum berakhir. Yang tersisa untuk mengikuti Dhamma Desana, Meditasi, dan Pradaksina hanya sekitar 1.000 dari total 16.000 peserta.
Ini membuatku bertanya-tanya, apakah ini perayaan Hari Suci Waisak atau malah “Festival Penerbangan Lampion Nasional”?
Padahal, makna Waisak begitu dalam: memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha—kelahiran, pencerahan, dan wafatnya. Di hari itu, kita seharusnya merenungkan ajaran tentang cinta kasih, kedamaian, introspeksi diri, dan etika. Tapi semua itu tampaknya tertutup oleh euforia wisata dan keramaian yang tidak terkendali.
Meskipun demikian, aku tetap bersyukur. Mimpi yang kupendam sejak 2021 akhirnya terwujud. Banyak kekurangan memang: mulai dari ketidakjelasan informasi, miskomunikasi, drama, sampai isu kapitalisme terselubung. Tapi aku percaya, pengalaman ini tetap berharga. Semoga ke depannya bisa lebih baik. Terima kasih untuk diriku sendiri yang sudah berusaha, untuk semua makhluk yang mendukung, dan semua panitia yang sudah bekerja keras.
Akhir kata, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta—Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
“Bagaimana denganmu? Pernah mengalami pengalaman serupa? Atau justru punya cerita Waisak yang berbeda? Bagikan di komentar!”
Penulis : Dhammara Aditya Kusnandar, Alumni Temu Keberagaman YIPC (Bandung)


