Dalam Diam yang Menggerakkan Dunia

0
234
Dok. Ilustrasi Pinterest

Hari itu, aku baru saja menyelesaikan satu tugas panjang. Mata mulai berat, kepala terasa penuh, dan pikiranku jenuh. Aku memutuskan untuk menutup laptop, mencoba memberi ruang bagi diriku untuk bernapas sejenak. Kubiarkan tangan ini mengambil ponsel dan membukanya dengan harapan sederhana, ingin tertawa. Ingin melonggarkan beban pikiran dengan melihat video lucu di reels instagram, seperti biasanya. Aku ingin yang ringan-ringan saja, barangkali seekor kucing yang tersandung, anak kecil yang melucu tanpa sadar, atau parodi yang absurd tapi menghibur.

Namun, layar ponsel menunjukkan hal lain. Bukan tawa yang datang, melainkan video seorang buruh tua sedang duduk bersandar di dinding pasar. Bajunya lusuh, peluh membasahi wajah, dan tangan kasarnya menggenggam erat kantong plastik berisi makanan seadanya. Dalam video itu, ia bercerita tentang perjuangan setiap harinya, berangkat sejak subuh, pulang saat malam, demi bisa membawa pulang uang untuk membeli beras dan kebutuhan anak-anaknya di rumah.

Tanganku terhenti. Jari-jariku yang biasanya gesit menggulir layar, kini diam. Ada yang mengganjal di dada. Video itu hanya satu menit, tapi rasanya lebih dari cukup untuk membuatku terdiam lama. Aku lanjut menonton beberapa video lainnya. Ada seorang ibu sebagai buruh pabrik yang tetap masuk meski anaknya sedang sakit. Ada tukang bangunan yang mengeluh bukan tentang beratnya kerja, tapi soal upah yang sering telat. Ada petani yang tersenyum getir karena harga jual hasil panen tak mampu menutupi biaya operasional tanam. Mereka semua bekerja, tidak mengeluh karena lelah, tapi karena hidup memang tidak memberi mereka banyak pilihan.

Saat itulah aku teringat, 1 Mei adalah Hari Buruh Internasional. Pada tahun-tahun sebelumnya, mungkin aku melewatinya begitu saja. Kadang hanya sekadar melihat poster atau berita di televisi. Tapi hari ini berbeda, mungkin karena aku menyaksikan sendiri wajah-wajah itu, suara mereka, rasa getir di balik senyum yang tulus, dan ketabahan yang seperti tidak ada habisnya.

Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ia adalah pengingat bahwa banyak dari kita bisa menjalani hidup ini karena ada orang lain yang menggerakkannya. Ada tangan-tangan kasar yang bekerja sejak pagi, ada kaki-kaki yang melangkah tanpa tahu pasti akan pulang dengan membawa apa, ada punggung-punggung yang tetap tegak meski beban dunia terasa menindihnya. Mereka sering kali tak terlihat, mereka bukan selebriti, bukan tokoh viral. Tak ada kamera yang mengikuti keseharian mereka, tak ada panggung yang mengangkat nama mereka. Padahal merekalah yang menjaga agar kehidupan tetap berjalan.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri “kapan terakhir kali aku benar-benar mendengar suara para buruh? Bukan hanya lewat berita, tapi mendengar dengan hati. Kapan terakhir kali aku peduli, bukan hanya sekadar kasihan?” Hari Buruh adalah hari untuk mengingat, bahwa buruh bukan sekadar pekerja kasar. Mereka adalah manusia dengan keluarga, impian, luka, dan harapan yang sama. Mereka berhak untuk hidup layak, untuk dihormati, dan untuk didengar.

Aku tidak turun ke jalan hari ini. Tapi, aku ingin menyimpan wajah-wajah itu dalam pikiranku. Aku ingin menjadikan mereka bagian dari kesadaranku. Supaya ketika aku berbicara tentang kerja, tentang keadilan, tentang kemanusiaan, aku tidak melupakan mereka yang selama ini bekerja dalam diam.

Memperingati Hari Buruh bukan soal seremonial. Ini soal menyadari bahwa di balik kenyamanan apa pun yang kita rasakan, ada kerja keras orang lain yang sering tidak diberi ruang. Saat kita melihat mereka bukan sebagai angka atau “tenaga kerja” semata, tapi sebagai sesama manusia. Di situlah solidaritas itu tumbuh. Di situlah kita benar-benar memperingati Hari Buruh. Untuk 1 Mei, aku ingin mengatakan “aku melihatmu, aku mendengarmu, aku belum tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membuat keadaan lebih adil, tapi aku percaya semua bisa dimulai dengan kesadaran, dengan keberpihakan, dengan tidak diam.”

Selamat memperingati Hari Buruh Internasional. Untuk setiap langkah yang tidak terlihat, untuk setiap peluh yang tak disebut, untuk suara-suara yang tak pernah berhenti berjuang, kalian layak untuk diperjuangkan.

Penulis: Husnul Khawatinnisa, peserta program magang “Youth Across Diversity” YKPI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini