Perempuan dan Keadilan Iklim

0
206
Foto Dok. Foto TP PKK Kecamatan (Fotografer : Mukramati)

Desa Weu Raya merupakan salah satu desa yang juga merasakan dampak kekeringan berkepanjangan yang terjadi Maret-Agustus 2024 yang lalu. Berangkat dari pengalaman menghadapi bencana tsunami dan bencana kekeringan akibat perubahan iklim, Tim Penggerak PKK Desa Weu Raya mengadakan diskusi dengan para pihak untuk mendorong aparatur desa agar membangun desa tangguh bencana.

Tim Pengerak PKK bersemangat menginggat pengalaman mereka saat menghadapi bencana, mereka berada di garda depan dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan merasakan jauhnya dari akses bantuan. Menurut Ibu Siti Fatimah selaku Ketua Tim Penggerak PKK Desa Weu Raya “Saat bencana iklim maupun bencana alam lainnya perempuanlah yang paling merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih, oleh karenanya penting sekali mempersiapkan ketangguhan masyarakat terutama perempuan dalam penanggulangan resiko bencana”.

Melalui program kolaborasi antara Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dengan Tim Penggerak PKK Tingkat Kecamatan dan TPKK Desa Weu Raya serta Forum PRB Aceh, melakukan diskusi bulanan dengan fokus tema “Memahami Perubahan Iklim dan bencana kepunahan: Penyebab, Dampak dan Tindakan yang diperlukan”. Kegiatan kali ini dalam rangka untuk merumuskan mekanisme penanganan dan Pencegahan serta  pembentukan tim satgas Desa Tangguh Bencana. Selain itu Diskusi tematik bulanan ini bertujuan membuka ruang belajar bersama perempuan di desa terkait isu lingkungan, ketahanan pangan, dampaknya bagi perempuan, dan keberlanjutan hidup. Pertemuan dilaksanakan pada 28 April 2025 yang dihadiri 34 orang perempuan anggota PKK Desa, 2 Tim TP PKK Kecamatan Lhoknga, 3 Aparatur Desa, 2 perwakilan Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Aceh, dan 2 Tim YKPI.

Praktik Membuat Eco-Enzym: Perempuan Berdaya, Limbah Bernilai

Dok. Foto TP PKK Kecamatan

Dalam diskusi kali ini, para peserta tidak hanya berdialog, tetapi juga melakukan praktik langsung membuat eco-enzym yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemanfaatan limbah rumah tangga secara ekologis, sekaligus sebagai langkah penguatan keterampilan adaptif bagi perempuan dalam menghadapi krisis iklim dan pengelolaan sampah. Melalui praktik ini, peserta khususnya perempuan didorong untuk emahami nilai ekonomi dan ekologis dari limbah organic, Meningkatkan kemampuan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dan mengembangkan alternatif penghasilan dan solusi kebersihan alami. “Ketika perempuan dilibatkan dalam solusi ekologi, perubahan dimulai dari rumah.”

Keuchik Desa Weu Raya, Bapak Firmansyah menyampaikan “Terima kasih atas dukungan YKPI dan Forum PRB dan akan sepenuhnya mendukung inisiatif ibu-ibu anggota PKK, serta akan memusyawarahkan hal tersebut lebih lanjut bersama aparatur desa lainnya”.

“Peran sentral aparatur desa dan seluruh komponen pemerintah dalam memperkuat inisiatif tersebut sangatlah penting, terutama dalam melembagakan inisitif dari Tim Penggerak PKK.  Pelembagaan baik dalam bentuk forum penanggulangan bencana maupun bentuk satuan tugas bencana di tingkat desa akan menjadi nilai tawar juga bagi desa dalam mendorong upaya pemajuan dalam bidang-bidang lainnya. Selain itu mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk mengambil peran dalam merawat bumi. Peran yang harusnya dilakoni sebagai “Khalifah fil Ardh” dalam situasi bumi yang semakin rusak maka manusia harus berupaya untuk menjalankan pertaubatan ekologis, demi menjaga keberlanjutan kehidupan”, ujar Ruwaida Ketua Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI). Hal ini tidak bisa diabaikan dan YKPI berkomitmen mendukung Desa Weu Raya untuk membangun “resilience” (Ketahanan diri) terutama kelompok perempuan, anak, lansia, dan disabilitas yang merupakan masyarakat rentan untuk mendapat ketidakadilan terutama saat berhadapan dengan bencana iklim dan bencana alam lainnya.

Muhammad Hasan Ketua Forum PRB Aceh mengatakan “Salah satu sumber utama desa adalah kemampuan diri warganya saat berhadapan dengan situasi darurat, hal tersebut yang mencerminkan desa tangguh dan mandiri dalam menghadapi situasi darurat. Bencana bisa terjadi kapan saja, tidak bisa diprediksikan, apalagi situasi perubahan iklim saat ini yang berpotensi memunculkan bencana kapan saja. Jika masyarakat tangguh maka desa juga tangguh. Resiko kerugian akan semakin mengecil karena kemampuan masyarakatnya tinggi. Untuk itu ada dua hal utama yang perlu di persiapkan oleh desa yaitu kelembagaan dan rancangan kerja. Jika dua hal tersebut sudah dipersiapkan oleh desa maka dukungan tehnis lainnya akan mudah di dapatkan”.  Forum PRB Aceh berkomitmen untuk mendukung Weu Raya dalam mempersiapkan desa tangguh bencana, dan terus memperkuat kapasitas diri masyakarakat dalam menghadapi situasi darurat.

Narahubung: Tim Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini