Hi you! Kamu yang diluar sana apa kabar? semoga baik-baik saja ya! Saya berdoa semoga engkau baik-baik saja sama seperti jiwamu baik-baik saja! Dalam rangka memperingati Internasional Woman’s day, saya mau share tulisan terkait kekerasan dalam pacaran. saya membuat tulisan ini karena ini sangat dekat dengan saya, baik di kampus, sekolah, dunia kerja, maupun lingkungan masyarakat.
Cinta seharusnya menjadi dasar dari hubungan yang sehat—yang dibangun atas rasa hormat, kesetaraan, dan dukungan emosional. Namun, dalam banyak kasus, cinta justru dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan dalam pacaran (dating violence). Banyak korban yang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan karena tindakan pasangan mereka telah dinormalisasi dalam budaya, media, dan pola pikir masyarakat. Normalisasi kekerasan dalam pacaran membuat korban sulit menyadari bahwa mereka berada dalam hubungan yang berbahaya, dan lebih sulit lagi untuk keluar darinya.
Kekerasan dalam pacaran merupakan masalah yang sering kali diabaikan meskipun dampaknya sangat besar terhadap korban, terutama perempuan. Banyak perempuan yang terjebak dalam hubungan yang seharusnya penuh kasih sayang, namun justru dipenuhi dengan kekerasan fisik, emosional, atau psikologis. Kekerasan dalam pacaran semacam dinormalisasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, padahal jelas ini merupakan salah satu tindakan yang melanggar HAM.
Tindakan kekerasan ini tidak hanya merusak fisik, tetapi juga merusak harga diri dan mental korban, hingga membuat rasa takut/ ketakutan yang berlebihan. Korban sering kali merasa kesulitan untuk keluar dari hubungan tersebut karena alasan terlalu sayang, hingga menganggap hal itu sebagai masalah pribadi. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada alasan yang membenarkan kekerasan dalam bentuk apapun. Setiap perempuan berhak untuk merasa aman, dihargai, dan mendapatkan dukungan penuh untuk mengakhiri kekerasan tersebut. Perempuan yang sulit keluar dari hubungan yang toxic sering kali menghadapi banyak tantangan emosional, sosial, dan psikologis yang membuat mereka terjebak dalam situasi seperti: ketergantungan emosional dan psikologis, dimana mereka merasa bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa pasangan mereka meskipun tidak sehat. Sehingga alasan ini yang membuat mereka berusaha mempertahankan hubungan tersebut, meskipun merasakan dampak negatifnya. Merasa takut kehilangan, takut/khawatir dengan reaksi pasangan yang bisa berbahaya jika mereka berusaha untuk berhenti/putus. Karena sering mengalami kekerasan dengan jangka waktu pacaran yang lama, perempuan terkadang takut untuk putus/memulai hubungan yang baru karena merasa tidak pantas untuk hubungan yang lebih baik atau sebaliknya. Banyak perempuan yang terbiasa dengan perlakuan seperti itu, dan mereka bisa merasa bahwa hubungan yang penuh dengan konflik atau ketegangan adalah hal yang normal. Terkadang mereka berharap bahwa pasangan mereka bisa berubah menjadi lebih baik, padahal belum tentu itu terjadi.
Berdasarkan pengalaman pribadi, banyak dari teman perempuan saya yang mengalami kekerasan dalam pacaran, dan kebanyakan yang melakukan kekerasan adalah laki-laki. Kekerasan yang dilakukan itu seperti, perempuan dipukul, ditampar, ditendang, dijambak rambutnya, dikata-katain, ditarik seenaknya, dicaci maki, dikurung dalam kamar, tidak diperbolehkan main dengan orang lain, dikekang, dibanting handponenya, diperlakukan dengan sangat kasar hingga terkadang diancam. Jujur, sebagai teman saya sedih melihat mereka diperlakukan seperti itu. Sangat menyakitkan, bagi saya ini tindakan yang sangat kurang ajar dan saya sangat menentang hal ini. Banyak dari mereka yang datang bercerita, mengalami kesakitan hingga menangis, sakit hati dengan perasaan campur aduk. Saat mereka bercerita, saya memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, dan mencoba memberikan solusi jika mereka minta. Solusi yang menurut saya paling baik adalah mereka harus putus, dan solusi/saran ini sering saya berikan ke teman-teman yang sering curhat.
Saya berpikir bahwa hubungan yang toxic tidak boleh dipertahankan atau dilanjutkan karena ini sangat merusak, tidak saja mengganggu fisik namun juga psikis atau mental seseorang. Sayangnya, seminggu setelah pertengkaran atau setelah mengalami kekerasan mereka balik lagi sama pasangannya. Mereka kesulitan untuk keluar dari zona nyaman yang jelas-jelas tidak sehat untuk mereka. Kadang saya bingung, merasa serba salah, dan merasa jengkel karena saya tidak didengar. Saat saya tanya mereka alasan bertahan sama hubungan, mereka selalu bilang “karena sudah pacaran sangat lama, sudah sayang banget, sudah kenal keluarga, takut terjadi apa-apa kalau putus, takut dia benar-benar mengakhiri hidup karena waktu itu dia pernah omong begitu, sudah nyaman walaupun kadang sering bertengkar dan lain sebagainya”. Okay, itu pemahaman mereka, tapi saya sangat tidak terima alasan mereka. Kenapa? karena kita ini sangat berharga, mereka sangat berharga, kita layak mendapatkan pasangan yang mengormati, menghargai dan menyanyangi kita. Kita butuh pasangan yang bisa melindungi kita, bukan pasangan yang seenaknya saja melakukan kekerasan, kita butuh pasangan yang karakternya baik, bukan pasangan yang terlalu posesif hingga mengekang kita. Kita perempuan, kita manusia, jadi kita layak diperlakukan dengan baik, dengan istimewa, layak dihargai.
Kekerasan dalam pacaran sering kali dinormalisasi atas nama cinta, tetapi hubungan yang sehat tidak pernah melibatkan kekerasan, paksaan, atau kontrol berlebihan.
Sebagai masyarakat, kita perlu mengubah pola pikir bahwa kekerasan adalah hal biasa dalam hubungan. Dengan meningkatkan kesadaran, berani melaporkan kekerasan, dan mengubah cara kita melihat cinta dalam budaya populer, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua orang.
Jadi untuk teman-teman perempuan diluar sana, saya mau bilang “ ingatlah bahwa dirimu diciptakan sangat indah, kamu berharga dan luar bisa. Kamu berhak untuk dicintai dan dihargai oleh pria yang tulus, kamu berhak untuk hidup bebas tanpa rasa takut. Kamu berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pasanganmu, kamu cantik, kamu sangat layak mendapat pasangan yang juga layak, kamu berhak bahagia, kamu berhak untuk berhenti dari hubungan yang toxic. Love yourself! prioritaskan dirimu, kesehatan juga kesehatan mentalmu! Pikirkan masa depanmu! Karena Cinta sejati bukan tentang kepemilikan atau kontrol, tetapi tentang rasa hormat dan kebebasan. Jika cinta menyakitimu, itu bukan cinta.
Penulis: Ersi Rambu Podu, peserta Magang Youth Across Diversity YKPI


