Sebelum Emansipasi Kartini: Pendidikan Perempuan oleh Doopsgezinde Zendings Vereeniging di Jawa

0
284

Sebelum perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan pribumi di Indonesia, beberapa lembaga misionaris Kristen telah berperan dalam memperkenalkan sistem pendidikan bagi perempuan di Hindia Belanda. Salah satu lembaga yang memainkan peran penting dalam pendidikan perempuan di Jawa adalah Doopsgezinde Zendings Vereeniging (DZV), sebuah organisasi misionaris dari gereja Mennonite di Belanda.

Pendidikan yang diberikan oleh DZV di Jawa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan sosial, terutama dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan sebelum gerakan emansipasi yang lebih luas muncul. Sejarah mengatakan bahwa Indonesia pernah dijajah oleh beberapa negara, salah satu negara yang pernah menjajah Indonesia adalah Belanda. Ada fakta bahwa kolonialisme juga membawa Kekristenan masuk ke Indonesia melalui badan-badan misi pekabaran Injil. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Benyamin F. Intan, bahwa menjadi saksi Kristus di Indonesia bukan merupakan hal yang mudah, sebab kolonialisme Belanda turut membawa Kekristenan masuk ke Indonesia.[1] Dalam konteks penjajahan, perempuan lebih rentan mengalami penindasan. Wasisto Raharjo Jati mengungkapkan bahwa penjajahan adalah representasi dari kekuatan maskulin yang mencoba untuk mensubordinat perempuan. [2] Namun, terlepas dari itu Doopsgezinde Zendings Vereeniging membawa angin segar bagi perempuan, sebelum Kartini memperjuangkan emansipasi. Perlu digarisbawahi bahwa tulisan ini tidak sedang berpihak kepada kolonialisme. Melalui tulisan ini, penulis ingin agar para pembaca dapat bersikap jujur terhadap sejarah.

Sejarah Singkat Doopsgezinde Zendings Vereeniging di Jawa

Kekristenan memiliki banyak denominasi atau aliran, salah satunya adalah Mennonite. Dalam sejarahnya, Doopsgezinde (Bahasa Belanda) atau Mennonite berakar dari sejarah reformasi radikal Anabaptis pada abad ke-16. Nama Mennonite sendiri berasal dari seorang tokoh bernama Menno Simons yang memperjuangkan nilai anti kekerasan. Oleh karena itu, orang-orang Mennonite dikenal sebagai komunitas damai yang anti-kekerasan.

Lalu, Doopsgezinde Zendings Vereeniging (DZV) adalah badan misi pekabaran Injil milik Belanda. Pada tahun 1852, DZV pertama kalinya mengutus penginjil atau misionaris yang bernama Pieter Jansz ke luar negeri, yaitu ke Jepara, Jawa.[3] Pieter jansz tidak memiliki latar belakang seorang pendeta, ia merupakan seorang guru. Oleh karena itu, dalam pekerjaan misi pekabaran Injil yang dilakukannya, Pieter Jansz menggunakan media pendidikan untuk orang-orang Jawa.

Sekolah-sekolah di Jawa

Pada tahun 1852, Pieter Jansz membangun sebuah sekolah di Cumbring (nama daerah di Jepara) dan sekolah ini disubsidi langsung oleh pemerintah Belanda. Alasannya mendirikan sekolah ini adalah karena rendahnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak. Pada dasarnya, sekolah ini dibangun untuk menyiapkan tenaga guru dan pengabar Injil. Sampai perkembangannya pada tahun 1865, sekolah ini memiliki 19 murid, lalu pada tahun berikutnya bertambah menjadi 26 murid. Cita-cita menjadi guru atau pengabar Injil hanyalah untuk murid laki-laki, sedangkan murid perempuan disiapkan secara khusus untuk hanya menjadi ibu rumah tangga yang baik dan patuh kepada suami.[4] Kemudian, pada tahun 1890-an, sekolah ini dipindah di Margorejo (nama daerah di Pati) dengan jumlah 65 murid (41 murid laki-laki dan 24 murid perempuan).

Gambar 1. Sekolah di Margorejo
(Sumber: Tata Injil di Bumi Muria, 226)

Selain di Cumbring, Pieter Jansz juga membangun sekolah di Kedung Penjalin (nama daerah di Jepara). Sekolah ini berjalan dengan baik dan memiliki sejumlah 30 murid yang bersekolah pada pagi hari dan 9 murid pada sore hari. Sikap Pieter Jansz yang mendirikan sekolah dalam perkabaran Injil membuka kesempatan dan ruang bagi perempuan untuk bersekolah. Meskipun, sekolah yang didirikannya ini hanya menyiapkan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Akhirnya, pada tahun 1925, sekolah ini pun ditutup karena subsidi dari pemerintahan Belanda dicabut.

Pendidikan Perempuan sebelum Emansipasi Kartini

Kartini baru lahir pada tahun 1879 dan ia baru berhasil mendirikan sekolah pada tahun 1903.[5] Sedangkan, Doopsgezinde Zendings Vereeniging melalui Pieter Jansz telah mengembangkan sekolah pada tahun 1852-1890 untuk orang-orang Jawa (laki-laki dan perempuan). Terlepas dari perbedaan tujuan sekolah untuk murid laki-laki dan perempuan, adalah sebuah kemajuan pada periode tersebut untuk memiliki murid perempuan dalam sekolah.

Tujuan sekolah yang diperuntukkan untuk para murid perempuan adalah agar mereka dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik. Pada tahun 1903, Kartini sendiri di dalam suratnya menulis bahwa ketika ia mendirikan sekolah, ia tidak ingin berperan menjadi guru formal bagi murid-muridnya, karena ia ingin menjadi ibu yang mendidik moral anak-anaknya.[6] Bukankah tugas menjadi ibu rumah tangga juga merupakan pekerjaan yang mulia?

Seperti yang telah diketahui kolonialisme adalah representasi kekuatan maskulin yang rentan menindas perempuan. Dan tidak bisa diingkari bahwa penjajahan dan pekabaran Injil datang bersamaan. Namun, dari Doopsgezinde Zendings Vereeniging, kita mengetahui bahwa perempuan juga mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki untuk dapat bersekolah.

Fakta sejarah mengungkapkan bahwa sebelum gerakan emansipasi Kartini, Doopsgezinde Zendings Vereeniging telah membangun sekolah bagi perempuan. Meskipun dalam nuansa kolonialisme yang merupakan wajah dari penindasan yang bersifat maskulin, seorang Misionaris Belanda laki-laki bernama Pieter Jansz justru membuka ruang bagi para perempuan Jawa untuk dapat bersekolah. Walaupun, murid perempuan dipersiapkan hanya sebagai ibu rumah tangga, namun tugas seorang ibu adalah tugas yang mulia. Selain itu, para ibu juga merupakan penyangga moral sebuah bangsa. Lagi pula, pada periode kolonialisme dan dalam kultur Jawa, perbedaan tujuan sekolah yang didirikan oleh Doopsgezinde Zendings Vereeniging adalah sebuah usaha melakukan keseteraan gender.

Sekolah-sekolah yang didirikan oleh DZV membantu meningkatkan literasi perempuan dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan. Namun, pendidikan ini masih terbatas pada aspek domestik dan keagamaan, sehingga belum sepenuhnya mendorong perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam kehidupan sosial dan profesional. Perjuangan Kartini dalam pendidikan perempuan memperluas gagasan tentang kesetaraan, dengan memberikan perempuan akses yang lebih besar terhadap ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir. Dengan demikian, sekolah-sekolah DZV menjadi bagian dari sejarah panjang transformasi pendidikan perempuan di Indonesia, yang kemudian berkembang menjadi gerakan emansipasi yang lebih luas.

Penulis: Hani Yopita Setiawan, Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI


[1] Benyamin F. Intan, “Misi Kristen di Indonesia: Kesaksian Kristen Protestan”, SOCIETAS DEI 2, no. 2 (2015), 326-365.

[2] Wasisto Raharjo Jati, “Wanita, Wani Ing Tata: Konstruksi Perempuan Jawa dalam Studi Poskolonialisme”, Jurnal Perempuan 20, no. 1 (2015), 82-91.

[3] Lawrence M. Yoder, Mennonitika Sejarah Theologia Anabaptis, (Eastern Mennonite University, 2001), 27.

[4] S.H. Sukoco dan Lawrence M. Yoder, Tata Injil di Bumi Muria, (Pustaka Muria, 2010), 157-159.

[5] Raden Adjeng Kartini, Letters of a Javanese Princess, ed. AGNES LOUISE SYMMERS (London: DUCKWORTH & CO., 1921).

[6] Ibid.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini