Kisah Ketangguhan Perempuan Desa: Menyulam Masa Depan dengan Kekuatan dan Harapan

Di pelosok desa, jauh dari hiruk-pikuk kota, terdapat perempuan-perempuan tangguh yang bekerja keras untuk membangun masa depan mereka. Dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan sumber daya, mereka tetap berjuang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keluarga.

Perempuan desa sering kali menghadapi tantangan berlapis: kemiskinan, diskriminasi gender, keterbatasan akses ke layanan kesehatan dan pendidikan, serta ekspektasi sosial yang mengikat. Namun, di balik segala rintangan, mereka adalah pilar utama keluarga dan komunitas, menyulam masa depan dengan tekad, kerja keras, dan harapan yang tak pernah padam.

Kisah ini akan menggambarkan bagaimana seoraang anak perempuan dari desa menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menghadapi kehidupan, menemukan cara untuk bertahan, dan bahkan mengubah keadaan mereka dengan keterampilan, kreativitas serta pola piker yang lebih maju.

Di sebuah desa terpencil hiduplah keluarga yang memiliki kehidupan yang sederhana, hidup dengan hasil bumi yang ditanam tersebutlah seorang Bapak, Mama dan Anak perempuannya bernama Ina. Keluarga penuh kasih yang merawat Ina sehingga tumbuh layaknya seperti anak pada umumnya, anak yang pandai, penurut, pekerja keras yang dibuktikan dengan membantu bapak dan mamanya menyelesaikan pekerjaan di ladang maupun di rumah.  Ina juga memiliki mimpi dan cita-cita yang besar untuk menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi dan menjadi kepala desa untuk memberikan perubahan di desanya. Namun di desa tersebut orang-orang memiliki pandangan bahwa perempuan tidak pantas untuk mengenyam pendidikan jangankan sampai ke perguruan tinggi sampai SMA saja itu mujur-mujur dan menjadi pemimpin itu sangat mustahil.

Suatu sore Ina bersama dengan mamanya dan beberapa warga mengambil air untuk memenuhi kebutuhan mereka di sebrang kampung, dimana mereka harus menempuh berkilo meter untuk mendapatkan akses air bersih, ya begitulah kehidupan pelosok desa yang belum terpenuhi akses air bersih sehingga semua warga harus mengambil air di kali yang begitu jauh. Ina juga merupakan siswi kelas X di salah satu SMA di desanya, dalam perjalanan menuju kali, Ina bercerita kepada mamanya tentang kegiatan di sekolahnya.

“Mama tadi di sekolah guru menanyakan kepada kami masing-masing tentang cita-cita dan keinginannya setelah lulus SMA” kata Ina pada mamanya.  Lalu Mama Ina mengelus wajah anak perempuannya dan berkata “apa yang kamu katakan pada gurumu nak?”

“Saya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan ingin menjadi pemimpin desa untuk membantu perubahan desa kita baik dalam ekonomi dan pendidikan untuk sesama perempuan sampai ke perguruan tinggi, itu yang saya katakan pada guru.” dengan wajah yang ceria ia ceritakan kepada mamanya.

Namun pembicaraan mereka di dengar oleh beberapa warga yang bersama-sama dengan mereka mengambil air.  Beberapa warga menyambar dengan kalimat “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, ujung-ujungnya nanti kamu akan menjadi ibu rumah tangga Ina!! sekolah tinggi itu tidak akan cocok untuk Perempuan! Laki-laki lebih pantas untuk sekolah tinggi! Perempuan tidak bisa menjadi pemimpin! Perempuan harus menjaga ladang dengan baik, bukan menjadi sarjana yang pintar! sekolah tinggi-tinggi sama saja”. Kalimat yang begitu tajam yang Ina dengar membuat dirinya begitu sedih namun Ina tetap tersenyum kepada warga-warga yang meremehkan cita-cita dan keingianannya. Mamanya menyulam senyum dan menggenggam tangan Ina dan bergumam “tidak apa-apa nak mari kita pulang”.  Ina pulang dengan hati yang gunda, meskipun begitu Ina tetap menyelesaikan tugasnya membantu mamanya.

Sesampai di rumah Mama Ina memangggil anak perempuannya dan berkata “Nak tidak apa-apa mereka memandang rendah keinginanmu tapi mama dan bapakmu selalu mendukung apa yang kamu cita-citakan. Namun nak, kamu tahu sendiri perekonomian kita tidak mampu untuk membayar kuliah kamu nantinya.”

Sambil tersenyum manis kepada mamanya, Ina berkata “bapak dan mama tenang saja Ina akan belajar dengan giat dan rajin untuk mendaftar beasiswa di perguruan tinggi, saya hanya perlu doa dan dukungan bapak dan mama.” Mendengar perkataan anaknya Mama Ina menitik air mata dan memeluk anak perempuan satu-satunya.

Keesokan harinya, Ina berpamitan kepada bapak dan mamanya ke sekolah, di ruang kelas yang terbatas fasilitas ina bersama teman baiknya duduk bersama dan mereka berdua berbincang-bincang tentang masa depan dan cita-cita besar. Ina dan Mery duduk di pojok kelas saling berhadapan. “Mery, saya sudah bercerita kepada orang tua saya tentang keinginan dan cita-cita saya yang ingin menjadi pemimpin dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA nanti, bagaimana dengan kamu?” kata Ina pada teman baiknya itu.

“Wah, itu sangat bagus Ina, tapi saya tidak tahu apakah bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Orang tua saya tidak setuju, mereka bilang bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi.” kata Mery kepada Ina dengan wajah yang sedih.

“Saya paham Mery, saya juga pernah mendengar pemikiran seperti itu. Tapi, saya tidak setuju dengan mereka, perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki” komentar Ina.

“Tapi, bagaimana saya bisa membuat orang tua saya setuju? Mereka sangat kuat pendirian.” Kata Mery pada Ina. “Saya pikir kamu harus berbicara dengan mereka dan menjelaskan, tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Kamu juga bisa memberikan contoh-contoh perempuan yang sukses dalam berbagai bidang. Mungkin itu bisa membuat mereka berpikir ulang.” Kata Ina pada Merry. “Baiklah Ina saya akan berbicara lagi kepada mama dan bapak” kata Mery.

Kehidupan Ina terus berjalan, dengan giat membantu kedua orang tuanya tidak membuatnya malas untuk terus belajar meskipun tidak mudah karena pemikiran orang-orang desa yang terus mengucilkan mimpinya. Dua tahun kemudian Ina menyelesaikan pendidikan SMA dan melanjutkan pedidikan ke perguruan tinggi dengan beasiswa penuh selama 4 tahun berjuang di Universitas di kotanya. Alhasil Ina menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan baik dan Ina mampu membuktikan bahwa perempuan layak untuk mendapatkan hak bersekolah tinggi. Dengan gelar sarjana yang dia miliki, Ina akhirnya menjadi Kepala Desa di tempat dimana Ina menghabiskan waktu kecilnya dan membantu orang-orang di desanya dengan lebih baik.

“Sebagai perempuan kita memiliki hak untuk bersekolah hingga ke perguruan tinggi, jangan biarkan siapa pun mengatakan bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu hanya karena kamu adalah perempuan, jadilah perkataan mereka yang meremehkanmu sebagai batu loncatan untuk meraih impianmu.” ucap Ina dalam sambutan kegiatan Pemberdayaan Perempuan di Desanya.

Ina membuktikan bahwa Perempuan juga bisa sukses dalam pendidikan dan memiliki karir yang baik. Ina sukses menjadi contoh bagi perempuan lain untuk tidak takut meraih mimpi dan mengenyam pendidikan tinggi untuk mewujudkan impian yang besar.

Perempuan desa bukan hanya pekerja keras di balik layar, tetapi juga agen perubahan dalam keluarga dan komunitas mereka. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka tetap menyulam harapan dan masa depan dengan tangan mereka sendiri – Ketangguhan adalah kunci untuk mengatasi keterbatasan.

Penulis: Albertina Aryuni Kailo, Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI.

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...