Jelajahi rumah-rumah ibadah untuk merayakan keragaman.

Sejak bulan Februari 2024, KOMPAK telah memulai program Sekolah Keberagaman bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Program ini memiliki 24 indikator yang harus dipenuhi oleh sekolah, salah satunya adalah Kunjungan Rumah Ibadah. Kunjungan ini bertujuan untuk mengenalkan lingkungan rumah ibadah dari berbagai agama, mengetahui nilai-nilai keagamaan masing-masing, serta menumbuhkan rasa cinta dan sikap toleransi di kalangan siswa. Tiga sekolah yang dijadikan contoh adalah SMA Negeri 1 Kupang, SMA Negeri 5 Kupang, dan SMA Katolik Giovanni Kupang. Diharapkan, sekolah-sekolah ini dapat menjadi percontohan bagi sekolah lain di NTT untuk menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan beragam.

Pada hari Sabtu, 25 Januari 2025, KOMPAK bersama siswa dan guru dari SMA Negeri 1 Kupang, yang merupakan salah satu proyek percontohan Sekolah Keberagaman, melakukan kunjungan ke lima tempat ibadah dari berbagai agama di Kota Kupang. Kegiatan ini dimulai di Vihara Pubabratana, dilanjutkan ke Gereja Santo Fransiskus dari Asisi BTN Kolhua, kemudian ke Pura Agung Giri Kerta Bhuana, dilanjutkan ke Gereja GMIT Shalom Tuanailuis, dan diakhiri di Masjid Darul Hijrah.

Kunjungan pertama adalah Vihara rumah ibadah umat Budha yang terletak di Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Siswa diajak untuk mengamati arsitektur vihara yang khas dengan patung Budha yang megah. Siswa juga mendapatkan penjelasan yang cukup mendalam dari salah seorang Bhikhu mengenai ajaran umat Budha yang menekankan pada Empat Kebenaran Mulia (Cattari Arya Saccani) yakni Hakikat Penderitaan, Penyebab Penderitaan, Akhir Penderitaan dan Jalan menuju akhir penderitaan.

Selanjutnya, rombongan menuju Gereja rumah ibadah umat Katolik yang terletak di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Siswa diajak untuk melihat interior Gereja yang megah dengan Vitrail (Mozaik Kaca Patri) yang indah dan patung-patung kudus. Seorang pastor menjelaskan ajaran umat Katolik khususnya tentang Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan pentingnya sakramen-sakramen yang merupakan ritus suci yang ditetapkan oleh Gereja Katolik seperti Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Pengakuan dan Sakramen Minyak Suci.

Doc, Foto KOMPAK

Kemudian rombongan menuju Pura tempat ibadah umat Hindu yang terletak di BTN Kolhua, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Siswa terpukau dengan keindahan arsitektur Pura yang dipenuhi ukiran-ukiran khas dan simbol-simbol keagamaan. Seorang pemangku agama Hindu menjelaskan ajaran tentang konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) yang merupakan perwujudan dari Tiga Dewa Utama dalam agama Hindu yaitu Brahma sebagai Pencipta, Wisnu sebagai Pemelihara dan Siwa sebagai Perusak atau Pelebur. Dijelaskan pula tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan.

Kemudian rombongan menuju Gereja tempat ibadah umat Kristen yang terletak di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Siswa diajak untuk melihat interior yang sederhana namun fungsional dengan mimbar sebagai simbol liturgi yang digunakan untuk menyampaikan khotbah dan sebagai pusat pemberitaan. Seorang Pendeta yang merupakan tokoh agama Kristen berbagi cerita tentang sejarah Gereja GMIT Shalom Tuanailuis dan kehidupan masyarakat sekitar yang sangat tinggi toleransinya. Ibu Pendeta juga menjelaskan ajaran umat Kristen yang menekankan pada Kasih Allah, Pengorbanan Yesus Kristus dan Pentingnya membaca dan merenungkan Alkitab.

Terakhir, rombongan mengunjungi Masjid tempat ibadah umat Islam yang terletak di BTN Kolhua, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Siswa mengamati arsitektur Masjid yang khas dengan Kubah dan Menara. Para ustadz menjelaskan tentang rukun Islam yang merupakan lima pilar utama dalam agama Islam yang harus diyakini dan diamalkan oleh setiap muslim. Lima rukun tersebut yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Siswa juga belajar tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

Kegiatan Tour Rumah Ibadah memberikan pengalaman berharga bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Kupang. Mereka tidak hanya belajar tentang berbagai agama, tetapi juga diajarkan untuk saling menghormati dan mengembangkan sikap toleransi. Respon dari siswa sangat positif. Mereka merasa senang karena memperoleh banyak wawasan baru melalui kegiatan ini. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa pengalaman ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap agama lain. “Kesan saya selama mengikuti Tour Rumah Ibadah bersama KOMPAK adalah luar biasa. Pengalaman ini sangat menyenangkan dan memiliki sesuatu yang khas. Program KOMPAK yaitu Sekolah Keberagaman membuka mata saya dan teman-teman OSIS terhadap perbedaan dan keberagaman agama di Kota Kupang. Kami belajar bahwa semua agama di Kota Kupang ini selalu mengajarkan kasih terlepas dari perbedaan yang dimiliki. Pengalaman ini memberikan kami kesempatan untuk berdiskusi dengan banyak pemuka agama. Saya sangat menyukai program ini” –Kesan dari Remalia sebagai Ketua OSIS SMA Negeri 1 Kupang. “kegiatan ini sangat bagus dan menarik karena saya mendapat banyak sekali wawasan baru dari agama agama yang tidk terlalu saya dalami/pelajari,dan itu membuat saya semakin penasaran lagi tentang pelajaran pelajaran agama tsb,jika ada kesempatan lagi saya ingin ikut lagi hehe”- Kesan dari Dimas, siswa SMA Negeri 1 Kupang, yang juga pengurus OSIS.

Dengan harapan, kegiatan ini bisa menjadi modal bagi siswa-siswa untuk tumbuh menjadi generasi muda yang mencintai kedamaian dan menghargai perbedaan. Sebab, pada dasarnya, toleransi adalah bentuk kasih yang menyatukan berbagai perbedaan.

Penulis : Melan Kenau, Lingkar Belajar Peacemaker – KOMPAK

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...