Seperti biasa, bangun pagi aku langsung keluar kamar dan melihat mama dan papa yang sudah duduk di meja makan. Meja yang selalu penuh dengan hidangan khas etnis tionghoa seperti bubur, cakwe, mie goreng dan rebus pasar Peunayong serta nasi goreng ayi-ayi. Menu yang tidak pernah lepas dari kebiasaan sarapan pagi kami. Seperti pagi ini, mama selalu bertanya padaku ‘’Kamu mau sarapan apa?” “seperti biasa, apa saja yang mama bawa dari pasar peunayong”, jawabku. Papa pun menyahut “ Pasar peunayong adalah tempat utama kita beli sarapan, sejak papa mama masih kecil dan menjadi tempat sarapan yang paling enak”
Kalimat papa tersebut membuatku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang seluk beluk pasar Peunayong yang menjadi bagian penting bagi komunitas Tionghoa di Aceh, bukan sekedar menjadi tempat belanja tapi secara tidak langsung menjadi identitas budaya kami.
Budaya Tionghoa sangat kental dengan sarapan pagi. Dalam filosofinya, dikatakan bahwa sarapan pagi mampu memberikan energi dan keberuntungan untuk memulai sebuah hari. Dalam bahasa Tiongkok dikenal sebagai “一日之计在于晨” (Yī rì zhī jì zàiyú chén)”, yang berarti “Perencanaan sehari dimulai pagi hari.” Pasar Peunayong menjadi bukti nyata bagaimana etnis Tionghoa di Aceh mampu mempertahankan budaya serta filosofi tersebut. Lebih dari itu, pasar ini juga mampu menunjukkan akulturasi yang indah antara etnis Aceh dan Tionghoa.
SEJARAH PASAR PEUNAYONG
Masuknya Tionghoa ke Aceh dimulai dari abad-13 hingga abad-15 melalui Selat Malaka dengan menjual barang. Hubungan dagang inilah yang menjadi awal hubungan etnis Tionghoa dengan Aceh. Lalu, di abad-16 sampai abad-17, para pedagang-pedagang ini menetap di Aceh, awalnya hanya di sekitar pelabuhan untuk kebutuhan berdagang, namun pada akhirnya memilih untuk membangun pemukiman kecil yang sekarang disebut sebagai Peunayong. Pada abad-19 sampai dengan abad-20 masa kolonial Belanda, migrasi etnis Tionghoa semakin banyak. Para pedagang tersebut memulai usahanya dengan membangun toko kelontong, warung makanan, dan kios lainnya termasuk usaha jualan makanan untuk sarapan, sebagaimana budaya komunitas Tionghoa selalu memulai harinya dengan sarapan dan makanan khas Tionghoa yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat sekitarnya. Lokasinya yang strategis menjadi salah satu alasan mengapa Pasar Peunayong begitu diterima dan berkembang menjadi pusat perdagangan di Aceh. Para Nelayan yang akan memulai aktifitasnya saat fajar belum terbit juga mengawalinya dengan sarapan di di pasar ini.

PERAN KOMUNITAS TIONGHOA
Tidak bisa dipungkiri komunitas Tionghoa memiliki peran besar dalam mempengaruhi perkembangan Pasar Peunayong dari awal hingga menjadi salah satu pengerak ekonomi Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sangat terbuka dan menerima kehadiran komunitas Tionghoa dengan aktifitas perdagangannya yang hampir seluruhnya adalah ibu-ibu Tionghoa. Interaksi dagangnya pun membawa mereka pada kegiatan lainnya, sebagian ibu-ibu Tionghoa yang berdagang juga menjadi bagian dari aktifitas bermasyarakat di Peunayong. Karena itu lah Pasar Peunayong menjadi simbol keharmonisan komunitas Tionghoa dan Aceh. Pasar ini telah menjadi pusat penyebaran kuliner Tionghoa di Aceh, bahkan hingga saat ini menjadi destinasi kuliner masyarakat, meskipun secara cita rasa memiliki perbedaan yang mencolok, terutama dalam pengunaan rempah atau bumbu. Masakan Aceh sangat kuat pada rasa rempah yang khas sedangkan masakan Tionghoa lebih sederhana dalam pengunaan bumbu tetapi tetap mempertahankan rasa.
Pasar Peunayong membuktikan bahwa kuliner dapat menjadi jembatan budaya. Pasar Peunayong telah berhasil menarik minat masyarakat setempat untuk mencoba sesuatu yang baru. Adaptasi kuliner tidak hanya pada bagaimana semua saling menerima keanekaragaman masakan, tetapi para penjual juga bisa saling belajar meracik masakan, misal beberapa komunitas Tionghoa juga menjual Mie Aceh makanan tradisional setempat pun demikian penjual dari warga setempat juga mulai menjual bubur, cakwe, dan bakpao sebagai pilihan sarapan. Melalui sarapan pagi, Pasar Peunayong hingga kini mampu memberikan cerminan harmoni antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Aceh yang telah terjalin selama puluhan tahun. Kita juga bisa melihat interaksi yang terjadi saat sarapan di Pasar Peunayong, siapa saja berbaur dengan sangat cair menikmati kuliner pagi. Termasuk interaksi dalam berkomunikasi, penggunaan bahasa Indonesia dengan aksen Tionghoa terdengar kental dalam pasar bercampur dengan aksen lokal dari warga setempat. Suasana harmoni di Pasar Peunayong ini tidak lahir begitu saja, tetapi merupakan hasil dari proses panjang saling pengertian, kepercayaan, dan kerjasama. Pasar ini menjadi simbol nyata bahwa perbedaan budaya tidak menghalangi terciptanya kehidupan yang damai dan produktif di tengah masyarakat Aceh. Pasar Peunayong menjadi pusat perdagangan tradisional dan menjadi salah satu pasar tertua di Aceh. Ada begitu banyak kolaborasi ekonomi yang terjadi antara pedagang komunitas tionghoa dan komunitas pedagang dari masyarakat setempat. Pedagang dari kedua komunitas saling berbagi pelanggan, dengan produk dan jasa mereka sehingga ini saling melengkapi dan mempererat hubungan antar budaya.

Kebiasaan sarapan tanpa disadari telah menjadi elemen penting dalam sejarah Pasar Peunayong, bukan hanya menjadi representasi budaya Tionghoa dengan filosofi dan tradisi tetapi juga menunjukkan kemampuan budaya tersebut untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan budaya lokal Aceh. Pasar Peunayong membuktikan bahwa dua budaya yang berbeda tidak selalu harus terpisah. Sebaliknya, melalui interaksi dan saling penerimaan, perbedaan tersebut dapat menciptakan harmoni yang indah. Pasar yang awalnya dianggap sebagai simbol identitas satu komunitas, kini menjadi simbol kebersamaan dan sejarah bagi kota Aceh. Akhirnya, cerita saya yang dimulai dari makan bersama keluarga di meja makan telah menemukan akhir dengan kesimpulan yang mengandung indahnya kultur dan budaya yang saling diterima dan dikembangkan di Aceh.
Penulis : Jessica, Orang Muda Yayasan HAKKA Aceh.
DAFTAR PUSTAKA
Komputer, U. S. &. T. (n.d.-b). Tionghoa Aceh.
Antara Aceh/Ampelsa. (2024). Warga Banda Aceh sedang membeli sarapan pagi. Peunayong, Banda Aceh. Diakses dari :
OpenAI. (2024). ChatGPT (versi November 2024). https://chat.openai.com

