“Sehari Menjadi Pemimpin” adalah inisiatif tahunan yang diselenggarakan YouthID dan Aceh Youth Action. Sejak pertama kali diluncurkan tahun 2021, acara ini telah berlangsung sebanyak empat kali. Kegiatan ini sebagai wadah bagi generasi muda untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi isu-isu sosial serta memperkuat peran orang muda dalam mendorong perubahan sosial yang positif. Tahun 2024, tema yang diangkat adalah Keberagaman dengan Perspektif GEDSI. Melalui tema ini, diharapkan para peserta dapat lebih memahami dan menghargai perbedaan yang ada di masyarakat, serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan berkeadilan bagi semua.
Kegiatan yang dimulai awal November 2024 ini diikuti 120 orang muda berusia antara 16 hingga 28 tahun. Ini menunjukkan tingginya minat mereka untuk berkontribusi dalam perubahan sosial. Namun, agar partisipasi ini lebih berarti, hanya 40 orang muda yang diseleksi lebih lanjut untuk menjadi lima besar. Kelima peserta terpilih mewakili berbagai lapisan kerentanan dan menunjukkan komitmen mereka terhadap isu keberagaman.
Proses seleksi ini bertujuan untuk memastikan bahwa suara yang terpilih benar-benar mencerminkan keragaman dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan melibatkan orang muda dari berbagai latar belakang, diharapkan kegiatan ini dapat menciptakan dampak yang lebih luas dan signifikan dalam upaya perubahan sosial. Keberagaman dalam representasi peserta diharapkan dapat memperkaya diskusi dan solusi yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung.
Sebanyak 40 orang muda, 5 di antaranya terpilih sebagai pemimpin, mengikuti pembekalan yang mencakup berbagai materi penting. Materi yang disampaikan meliputi nilai-nilai toleransi dan keberagaman, 12 Nilai Perdamaian, serta perspektif mengenai kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Selain itu, pembekalan ini juga bertujuan untuk memperkuat partisipasi anak muda dalam pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Pembekalan yang disampaikan para ahli dan tokoh muda, termasuk Bayu Satria yang merupakan pendiri YouthID, Manajer Program kemitraan YouthID_Indika Foundation Youth Led Impact, dan ketua Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI). Selain itu, terdapat juga lima fasilitator lainnya yang turut berkontribusi dalam memberikan wawasan dan pengetahuan kepada peserta. Dengan adanya pembekalan dari berbagai tokoh dan ahli, diharapkan para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk menciptakan dampak positif di lingkungan mereka.
Pada 16-17 November 2024, lima pemimpin muda terpilih memulai kegiatan pertama mereka dengan mengadakan silaturahmi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Banda Aceh. Kegiatan bertujuan mendalami keberagaman di kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah. Mereka juga mengunjungi berbagai tempat ibadah, termasuk GPIB Jemaat Banda Aceh, Vihara Dharma Bhakti, Kuil Palani Andawer, dan Yayasan Hakka Aceh. Dalam kunjungan ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan langsung pengalaman dan cerita dari pemuka agama serta masyarakat mengenai tantangan yang dihadapi dalam memelihara keberagaman di Banda Aceh.
Pengalaman yang mereka dapatkan selama kunjungan ini akan menjadi bahan refleksi yang berharga dan catatan kritis bagi mereka. Hal ini penting untuk merancang proyek perubahan sosial yang akan mereka laksanakan dalam enam bulan ke depan. Dengan memahami berbagai perspektif dan tantangan yang ada, mereka diharapkan dapat menciptakan inisiatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam mempromosikan keberagaman di masyarakat.

T. Tiara Mahenda Iswada, selaku Manajer Program Sehari Menjadi Pemimpin, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih menekankan pada isu-isu layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. “Pada tahun ini, YouthID berfokus pada tema keberagaman dan toleransi, mengingat isu ini telah menjadi topik yang sangat relevan dan sering diperbincangkan oleh generasi muda selama tiga tahun terakhir. Kami ingin menciptakan ruang bagi mereka untuk lebih memahami dan merespons perbedaan dengan cara yang positif,” kata Mahendra.
Salah satu peserta, Princess Sky Herlina, menyatakan bahwa “Program Sehari Menjadi Pemimpin sangat membantu dalam memahami berbagai perbedaan dan melatih kita untuk menghadapi perbedaan tersebut dengan sikap yang positif.”
Sementara itu, M. Rikal Qamara, yang mewakili Orang Muda Tuli, menyampaikan, “Mengunjungi lima tempat, termasuk tiga tempat ibadah dan dua lembaga, menjadi pengalaman luar biasa bagi saya. Ini memberi kesempatan untuk melihat lebih jauh keberagaman di Banda Aceh, dan saya berharap dapat menyusun langkah-langkah konkret untuk menyebarkan narasi damai ke masyarakat.”
Bayu Satria, pencetus program Sehari Menjadi Pemimpin dan Founder YouthID, menegaskan, “Program ini penting untuk meningkatkan kesadaran orang muda terhadap masalah sosial yang mengakar di sekitar mereka. Kami berharap kegiatan ini dapat membantu mengasah keterampilan abad ke-21 para peserta dalam menyelesaikan masalah sosial yang kompleks, sekaligus memastikan keterlibatan mereka dalam menciptakan perubahan yang lebih besar dan berdampak langsung pada pemberdayaan Orang Muda di Aceh.”
Program Sehari Menjadi Pemimpin 2024 terlaksana berkat dukungan kerjasama antara Indika Foundation, PwC, Peace Generation Indonesia, dan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia.
Karya: Bayu Satria – YouthID – Banda Aceh

