Pada Jumat hingga Minggu, 4-6 Oktober 2024, Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK) mengadakan kegiatan Youth Camp atau Camp Orang Muda Lintas Agama yang bertemakan “Kolaborasi Peacemaker Dalam Kebebasan Beragama & Berkeyakinan yang Inklusif Aktif Tanpa Kekerasan”. Sesuai dengan temanya inklusif aktif tanpa kekerasan, kegiatan ini dilaksanakan dengan semboyan “What Would I Do For Peace?”, sebuah pertanyaan sekaligus tantangan bagi seluruh peserta yang ambil bagian dalam youth camp ini, tentang bagaimana mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memahami isu keberagaman, dan mempererat tali silaturahmi antar orang muda serta menciptakan ruang dialog yang inklusif bagi orang muda dari berbagai suku, agama dan kepercayaan.
Dalam rangkaian kegiatan peserta diajak untuk lebih peka terhadap isu-isu keberagaman di sekitar lingkungan bermasyarakat. Mengawali rangkaian camp selama tiga hari, di awal acara ada pembukaan dengan sesi perkenalan melalui metoda menyambut keberagaman. Baik peserta, panitia, dan seluruh yang terlibat dalam kegiatan wajib memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan satu kata yang mewakili dirinya dalam menyambut keberagaman yang ada di sekitarnya.
Pada materi pertama, Keberagaman dan Konflik yang dihantarkan Kak Zarniel Woleka, melalui diskusi dan presentasi, peserta diminta menjelaskan mengenai konflik yang timbul karena keberagaman yang ada di sekitar lingkungan, tokoh yang terlibat, cara penyelesaian konflik, serta bentuk kampanye bina damai untuk meredam konflik. Bersama anggota kelompoknya, masing-masing peserta diberi kebebasan mempresentasikan hasil diskusinya. Dengan segala kreatifitasnya, peserta mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan menggunakan cara-cara yang unik. Ada yang bercerita dengan tetangganya, ada pula yang menggunakan gaya podcast, tour museum, dan curhat dengan teman kuliah.
Mengisi keseruan kegiatan sekaligus tantangan kreatifitas peserta, panitia mengadakan satu mata acara yang menarik, yakni Malam Seni. Peserta dibagi dalam sembilan kelompok dan tiap kelompok mengutus satu s.d dua orang menjadi model fashion show. Peserta mendesain baju dari koran bekas dan diminta untuk menjelaskan makna desain tersebut dan tantangan ini hanya dilakukan dalam 45 menit saja. Dari kreatifitas ini terlihat kerjasama dan kekompakan tiap anggota kelompok yang di uji dengan waktu yang terbatas. Selain itu, peserta juga diminta mengisi acara di sela-sela waktu penjurian fashion show. Ada yang ber standup comedy, bernyanyi, dan ada pula yang membacakan puisinya.
Hari kedua, peserta mendapatkan materi tentang tema Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) yang inklusif tanpa kekerasan dengan pendekatan Breakout Room, dimana peserta dibagi ke dalam empat kelas dan tiap kelasnya diberikan ruang masing-masing untuk menerima materi. Narasumber/pemateri dalam tiap kelas menggunakan metode yang berbeda saat mempresentasikan materinya. Ada yang menggunakan metode sharing, diskusi, dan presentasi dimana peserta diminta membagikan pengalaman keberagamannya, baik itu pengalaman diterima maupun ditolak dalam keberagaman, dan sebagai pelaku konflik karena keberagaman. Hal menarik dari sesi sharing ini adalah, peserta saling memberikan perspektif atau pemahaman positif dari pengalaman yang di alaminya, seperti trauma atau miskonsepsi terhadap suku agama, warna kulit maupun gender tertentu, karena peristiwa yang dialaminya. Setelah ini, peserta diminta mengambil salah satu contoh konflik keberagaman berdasarkan pengalaman yang sudah dibagikan yang kemudian mendiskusikan alasan dan akibat konflik, penyelesaiannya, serta bentuk kampanye bina damai terkait isu konflik. Hasil diskusi dipresentasikan dan menjadi bahan refleksi bagi seluruh peserta.
Rangkaian sesi yang tidak kalah seru dan menarik lainnya adalah Lomba Lintas Alam. Kegiatan ini membagi peserta menjadi empat pos dan setiap pos memiliki tantangan yang berbeda. Pos pertama bertujuan menguji daya kritis peserta. Peserta diberi tantangan menyusun kalimat acak menjadi kalimat yang benar. Pos kedua bertujuan melatih konsentrasi, peserta diminta mencocokan warna botol di dalam dan di luar kotak. Pos ketiga bertujuan melatih kekompakan dan kerja sama, peserta diberi tantangan memindahkan air. Pos keempat bertujuan melatih ketelitian, peserta diberi tantangan mencari bola sesuai warna pita masing masing kelompok.
Kilas balik kegiatan yang sudah berjalan diadakan melalui acara api unggun. Momen ini sekaligus merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan youth camp ini. Pada momen ini peserta diajak melihat kembali hal-hal yang sudah baik dan hal yang perlu diperkuat lagi, serta ikut merasakan energi positif dari peserta lainnya selama berproses dalam agenda camp. Membebaskan diri dari segala kekacauan dalam pikiran dan hati, serta memulihkan diri dari segala kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan keterpurukan dalam diri.
Mengakhiri seluruh rangkaian Youth Camp, masing-masing peserta memberikan pesan dan kesannya selama mengikuti kegiatan, sekaligus menyampaikan kesannya kepada KOMPAK sebagai pelaksana kegiatan, serta kepada peserta lainnya yang akan menjadi pelaku perdamaian di masing-masing lingkungan sosialnya. Kegiatan ini meninggalkan kesan baik yang ditunjukkan dalam pernyataan beberapa peserta; “Rangakaian kegiatannya sangat seru, khususnya saat Lomba Lintas Alam karena tantangan di setiap pos cukup unik dan menguji kesabaran” – Husein. “ Panitia sangat ramah dan sigap menyiapkan segala kebutuhan peserta, juga menyediakan fasilitas yang nyaman seperti ruang tidur, konsumsi yang layak dan sehat, serta menyediakan ruang kelas terbuka sehingga peserta tidak jenuh selama menerima materi” – Desi. “ Harapannya, seluruh peserta yang turut dalam camp ini bersedia menjadi pelaku perdamaian dan terus mengkampanyekan isu-isu perdamaian di masyarakat” Ungkap Chiko.
Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, khususnya para siswa-siswi SMAN 5 Kupang dan SMA Katolik Giovanni Kupang karena pertama kalinya mengikuti kegiatan bersama dengan KOMPAK. Peserta sangat tersentuh dengan cerita baik yang dibagikan selama kegiatan ini. Cerita-cerita tersebut menjadi motivasi bagi peserta lainnya untuk “memperlakukan orang lain dengan baik, tidak menjadi pelaku konflik karena perbedaan melainkan belajar menjadi solusi konflik dan menerima perbedaan yang ada sebagai keunikan yang mempersatukan.”
Karya: Melan Kenau – Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK)

