Pada akhir Agustus lalu, tepatnya 30 Agustus hingga 1 September 2024, saya berkesempatan bergabung dengan tim Youth, Interfaith & Peace (YIP) Center dalam acara Camp Temu Keberagaman. Kegiatan ini dihadiri berbagai orang muda berasal dari latar belakang iman, identitas gender, dan juga disabilitas yang bertempat tinggal di Bandung dan di kota-kota sekitar Jawa Barat. Selama acara kami bersama-sama menjelajahi tema keberagaman dengan semangat tinggi. Peserta yang hadir membawa berbagai perspektif dan pengalaman yang kaya, menciptakan suasana yang inklusif dan penuh inspirasi. Ini adalah momen berharga untuk saling belajar dan memahami satu sama lain dalam keragaman yang ada.
Ruang dialog yang dibuka dengan mengatasi prasangka mengenai keberagaman sangatlah menarik. Dalam suasana ini, setiap individu dapat menyampaikan kegelisahan dan rasa ingin tahunya dengan cara yang lebih langsung dan sesuai dengan bahasa serta gaya anak muda. Hal ini membuat pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterima. Contohnya, banyak yang penasaran tentang istilah transmen, yang selama ini hanya dikenal sebagai transpuan atau waria. Selain itu, ada juga yang bertanya kepada teman yang beragama Konghucu mengenai praktik berdoa di depan patung atau foto leluhur.
Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan rasa ingin tahu yang mendalam, seperti tentang makna sesajen yang digunakan teman-teman Sunda Wiwitan dalam berdoa, yang sering dianggap syirik. Ada juga yang mempertanyakan praktik sholat teman Sunni yang hanya dilakukan tiga kali, yang dianggap tidak sesuai dengan syariah Islam. Diskusi semacam ini sangat penting untuk membangun pemahaman yang lebih baik antar berbagai latar belakang budaya dan agama, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan toleransi di masyarakat.
Atmosfer saling percaya ini menciptakan lingkungan di mana mereka dapat belajar satu sama lain dan mengatasi prasangka negatif yang telah beredar di masyarakat. Dengan saling memahami, mereka mulai menyadari pentingnya pemenuhan Hak Asasi Manusia. Dalam proses ini, mereka melakukan simulasi mengenai kasus-kasus pelanggaran hak beribadah yang masih sering terjadi di Indonesia, serta mendiskusikan siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam pemenuhan hak tersebut, yang jelas adalah negara. Namun, meskipun sudah diatur dalam UUD 1945 Pasal 29, masih banyak pelanggaran yang terjadi, padahal pasal tersebut menegaskan bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin kebebasan setiap individu untuk memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Melalui permainan seperti menyusun menara dan lempar bola, mereka belajar tentang pentingnya perlindungan hak dan strategi advokasi yang efektif. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik, membantu mereka memahami bagaimana cara melindungi hak-hak orang lain dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil. Dengan cara ini, mereka dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi agen perubahan yang lebih baik dalam isu-isu hak asasi manusia, serta dapat berperan aktif mengurangi pelanggaran yang masih terjadi di kehidupan sosial masyarakat.
Dalam pertemuan ini, orang muda juga mempelajari bagaimana prasangka yang disampaikan melalui narasi-narasi intoleran dapat menyebar dengan cepat. Sebagai generasi muda, mereka perlu berperan aktif sebagai agen perubahan melalui kampanye yang mengusung narasi-narasi damai alternatif dan kontra narasi terhadap narasi dominan yang intoleransi. Pada sesi ini peserta membahas konsep perubahan narasi melalui empat langkah; menciptakan, mengejawantahkan, menyebarkan, dan mengamati bersama. Sebagai bagian praktik dalam Temu Keberagaman ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyusun konten-konten bina damai. Hasil karya ini dapat dilihat di Instagram @yip.center. Dengan cara ini, orang muda tidak hanya belajar, namun juga berkontribusi pada penyebaran pesan damai dan membangun kesadaran akan pentingnya keberagaman dalam masyarakat.
Melalui event ini orang muda juga berkesempatan bertemu dengan jejaring seperti AJI Bandung, Bandung Bergerak, dan Jaka Tarub. Mereka adalah media-media yang aktif mengangkat isu toleransi dan perdamaian, serta melaksanakan kampanye untuk mendukung hak-hak kelompok marginal dan minoritas. Iqbal, Ketua AJI Bandung, mengungkapkan bahwa ”tingkat intoleransi di Bandung cukup tinggi. Namun, karena keterbatasan sumber daya, tidak semua kasus dapat dipublikasikan, terutama mengingat luasnya wilayah Jawa Barat dan belum adanya perwakilan AJI di luar Kota Bandung. Mereka baru memulai inisiatif untuk membuka kantor biro di dua kota.”
Pendekatan lain yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, kolaborasi dan konsolidasi dengan jaringan media online diperkuat agar narasi-narasi penting ini dapat dipublikasikan lebih luas. Joko, Bandung Bergerak, juga menekankan “pentingnya keberanian, konsistensi, dan visi yang jelas dalam kampanye perubahan narasi“. Ia menyoroti perlunya mendekatkan diri dengan komunitas agar mereka dapat turut menyuarakan isu-isu ini.
Teman-teman Jaka Tarub menambahkan bahwa dalam kampanye mereka, kolaborasi dengan berbagai komunitas yang memiliki visi serupa sangat penting untuk mempromosikan toleransi dan perdamaian. “Bandung bisa menjadi tempat yang penuh kedamaian jika para pemuda bersatu dan bekerja sama dalam menggalang kampanye untuk menyebarkan narasi damai. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan dan konsisten, pesan-pesan positif ini akan lebih mudah menjangkau masyarakat luas serta mendapatkan perhatian dari pemerintah“.
Cerita perjalanan Rose Merry – Staf Kampanye YKPI

