TANGGAP DARURAT BENCANA IKLIM DI KECAMATAN LHOKNGA, KABUPATEN ACEH BESAR

Bencana kekeringan dialami warga Kecamatan Lhoknga Aceh Besar sejak Mei 2024 dan warga mengalami kesulititan memperoleh air bersih. Kekeringan tahun ini terjadi lebih Panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dampak paling besar yang dialami dari kekeringan ini warga terpaksa mengangkut air dari sumber-sumber mata air yang terdekat dari tempat tinggalnya, seperti sumur tua yang tersedia di meunasah (surau-surau) dan sumber mata air yang tersedia sangat terbatas yang hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya.

Menyikapi situasi pelik ini, warga Kecamatan Lhok Nga memanfaatkan momentum politik untuk menggalang bantuan air bersih dari berbagai pihak, baik itu dari pemerintah setempat maupun dari para calon-calon kepala daerah yang akan berkontestasi politik di November mendatang. Namun bantuan yang tersedia tidak lah cukup karena bantuan air bersih yang dipasok setiap hari hanya sekitar 1500-2000 liter, dimana jumlah ini belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga setempat yang berjumlah 421 jiwa di Desa Naga Umbang (212 perempuan, 209 Laki-laki), 412 di Desa Moncut (219 perempuan, 193 Laki-laki), dan 415 di Desa Lambaro Seubon (208 perempuan, 207 Laki-laki).

Salah satu tandon air yang diserahkan ke salah satu dusun di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, 03 Agustus 2024 (Pic. credit: Ruwaida)

Pada ketiga desa tersebut jumlah warga perempuan lebih banyak disbanding jumlah laki-laki. Pada aspek kebutuhan air bersih perempuan lebih banyak membutuhkan akses air bersih lebih banyak karena kondisi ketubuhannya dan fungsi reproduksi yang melekat pada perempuan, disamping peran-peran gender yang dilekatkan kepada perempuan. Kondisi ini membuat perempuan mengalami kerentanan berlapis jika dihadapkan pada situasi bencana kekeringan.  

Kendala lainnya, lokasi penampungan air saat ini hanya berada di Meunasah (surau) dan hanya dapat diakses dengan mudah oleh warga yang tinggal berdekatan dengan Lokasi tersebut. Mengangkut air dalam jumlah banyak mungkin tidak terlalu melelahkan bagi mereka, namun bagi Sebagian warga lainnya yang lokasinya berjauhan dari tempat penampungan air bisa menempuh jarak sekitar 800–1000-meter untuk mendapatkan air bersih dan dibawa ke rumahnya. Kondisi ini membuat sebagian warga seperti perempuan kepala keluarga, perempuan dengan kondisi hamil, warga dengan disabilitas dan lansia merasakan kerentanan yang berlebih karena harus mengangkut air bersih setiap hari ke rumahnya dengan jarak tempuh yang tidak dekat.  

Serah terima bantuan tandon air kepada warga di salah satu dusun di kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, 03 Agustus 2024 (Pic. credit: Ruwaida)

Mencoba untuk meringankan penderitaan Masyarakat, YKPI melalui mitranya Soliritas Perempuan Aceh membantu menyediakan 3 tandon air yang dibagikan ke tiap-tiap desa yang diletakkan berdekatan dengan perumahan warga setempat, disalah satu Dusun dengan jarak yang dekat agar akses air bersih mudah didapatkan. Jumlah air bersih yang dipasok sebanyak 2000-liter yang disediakan setiap harinya yang sudah dapat memenuhi kebutuhan warga satu dusun di Kecamata Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar (sekitar 215 jiwa).

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...