Mengenang Kho Khie Siong, Penjaga Jembatan Keberagaman di Serambi Mekkah

0
196
Ketua Yayasan Hakka Aceh, Kho Khie Siong atau Aky. Foto: Isy/Acehinfo.id

Aceh berduka. Pada 9 Februari 2026, Kho Khie Siong atau yang akrab disapa Pak Aky berpulang di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang tokoh masyarakat Tionghoa, tetapi juga perginya seorang penjaga jembatan keberagaman yang selama hidupnya merawat harmoni di tengah masyarakat Aceh yang majemuk.

Pria kelahiran 1962 itu dikenal sebagai Ketua Yayasan Hakka Aceh dan Ketua Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FOBIA) Aceh. Namun di balik jabatan-jabatan formal itu, ia bukan sekadar pemimpin komunitas. Pak Aky adalah figur yang menghadirkan kehangatan, keteduhan, dan keberanian untuk merawat perbedaan di tanah yang menyebut dirinya Serambi Mekkah.

Merawat Keberagaman dengan Keteladanan

Aceh memiliki kekhususan penerapan syariat Islam. Di tengah realitas itu, Pak Aky tampil sebagai sosok yang mampu menjelaskan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Ia konsisten menyampaikan bahwa warga Tionghoa di Aceh merasa aman dan nyaman hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim.

Dalam berbagai kesempatan, Pak Aky aktif menjembatani komunikasi antara komunitas Tionghoa, pemerintah daerah, dan masyarakat luas. Ia memahami bahwa harmoni sosial tidak lahir dari slogan, tetapi dari dialog, empati, dan kehadiran nyata dalam kehidupan bersama.

Pak Aky tidak hanya berbicara tentang kerukunan. Ia mempraktikkannya melalui kerja sosial yang membumi. Di bawah kepemimpinannya, Yayasan Hakka Aceh aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Setiap Ramadhan, yayasan ini rutin menyalurkan ribuan paket sembako bagi keluarga kurang mampu tanpa memandang latar belakang agama dan etnis.

Kegiatan-kegiatan ini bukan sekadar aksi filantropi. Ia adalah simbol solidaritas lintas identitas. Di tangan Pak Aky, bantuan sosial menjadi bahasa universal yang mempertemukan manusia sebagai sesama, bukan sebagai kelompok yang terpisah.

Tokoh Minoritas dengan Jiwa Mayoritas

Dalam lanskap sosial Aceh, Pak Aky adalah contoh bagaimana seorang tokoh dari komunitas minoritas dapat memainkan peran strategis dalam memperkuat persatuan. Ia tidak terjebak pada politik identitas yang sempit, melainkan justru menghadirkan politik kemanusiaan politik yang bertumpu pada nilai keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Keberadaan Pak Aky menegaskan bahwa kerukunan tidak lahir secara otomatis. Kerukunan dirawat oleh orang-orang yang bersedia berdiri di tengah, menjadi penghubung, dan menjaga ruang dialog tetap terbuka.

Pada 2024, Yayasan Hakka Aceh bersama FOBIA Aceh menggagas program “Satu Atap” yang mempertemukan pemuda lintas iman dalam diskusi bulanan. Program ini lahir dari kegelisahan Pak Aky melihat ruang dialog antaragama yang semakin sempit. Hingga akhir hayatnya, ia masih menyempatkan hadir dalam diskusi-diskusi itu meski kondisi kesehatannya mulai menurun.

Tak hanya dialog, Pak Aky juga aktif dalam pemugaran Klenteng Tri Dharma di kawasan Peunayong. Ia percaya bahwa rumah ibadah adalah fondasi peradaban yang harus dirawat, bukan sekadar bangunan fisik.

Yayasan Hakka melakukan kegiatan silaturahmi bersama tokoh masyarakat di Blangpidie. Dok. foto YKPI

Warisan Kolaborasi: Merawat Toleransi dari Blangpidie

Jejak Pak Aky dalam merawat keberagaman juga pernah bersemi di pesisir barat selatan Aceh. Melalui Yayasan Hakka Aceh, ia berkolaborasi dengan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dalam program “Mendorong Budaya Baru di Masyarakat Blangpidie yang Menerima Perbedaan dengan Bingkai Toleransi dalam Keberagaman”. Inisiatif ini menyatukan tokoh agama, pemuda, dan perangkat desa untuk membangun kesepahaman bersama bahwa perbedaan bukan penghalang. Di Blangpidie, Pak Aky berdiri setara dengan para ulama dan tokoh adat bukan sebagai representasi minoritas yang meminta ruang, tetapi sebagai warga bangsa yang ikut bertanggung jawab merawat harmoni. Program itu menjadi salah satu bukti bahwa kolaborasi lintas lembaga dan keyakinan bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata yang meninggalkan warisan abadi.

Kepergian Pak Aky meninggalkan duka yang dalam. Namun ia juga mewarisi nilai yang tak ternilai bahwa keberagaman hanya bisa bertahan jika ada keberanian untuk saling memahami.

Di Aceh, Pak Aky telah menunjukkan bahwa hidup berdampingan dalam perbedaan bukan utopia. Ia adalah kenyataan yang bisa diwujudkan melalui keteladanan, kerja keras, dan hati yang lapang.

Kini, Aceh kehilangan salah satu penjaga harmoni sosialnya. Namun jejak yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam ingatan masyarakat. Bahwa di Serambi Mekkah, kerukunan bukan sekadar wacana, melainkan praktik kehidupan yang diperjuangkan bersama.

Epilog

Selamat jalan, Pak Aky.

Terima kasih telah mengajarkan bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti. Juga bukan sesuatu yang sekadar ditoleransi dengan dingin. Keberagaman, dalam cara hidupmu, adalah taman yang dirawat dengan cinta.

Kami berjanji melanjutkan apa yang telah kau mulai. Jembatan itu akan tetap kokoh. Dialog itu akan terus bergema. Dan Aceh akan tetap menjadi rumah bagi siapa pun yang memilih merawat damai.

Doa dari seluruh lapisan masyarakat mengiringi kepergianmu. Semua agama, semua latar belakang, semua usia, mereka yang kau rangkul tanpa pernah bertanya asal dan keyakinan.

Kau pergi, tapi warisanmu abadi.

Referensi:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini