Saat sebagian besar dunia telah meninggalkan euforia Tahun Baru 1 Januari, jutaan umat Kristen Ortodoks di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, justru menyambut pergantian tahun di tanggal 14 Januari yang menandai perayaan Tahun Baru Ortodoks, dikenal secara luas sebagai “Tahun Baru Lama” (Old New Year).
Apa yang membuat perayaan ini unik? Mengapa tanggalnya berbeda? Artikel ini akan mengupas sejarah, makna, dan bagaimana tradisi ini hidup dan bermakna dalam konteks keberagaman Indonesia.
Mengapa 14 Januari? Memahami Dua Sistem Kalender
Akar perbedaan tanggal ini terletak pada dua sistem kalender dalam sejarah Kekristenan: Kalender Julian dan Kalender Gregorian.
- Kalender Julian, yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada 46 SM, digunakan secara luas selama berabad-abad, termasuk oleh Gereja. Seiring waktu, kalender ini mengalami sedikit ketidakakuratan secara astronomis.
- Pada tahun 1582, Kalender Gregorian yang lebih presisi diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII dan secara bertahap diadopsi oleh negara-negara Barat dan gereja-gereja di dalamnya.
- Namun, banyak gereja Ortodoks Timur mempertahankan Kalender Julian untuk perhitungan hari-hari raya liturgis mereka. Pada abad ke-20 dan 21, selisih antara kedua kalender ini mencapai 13 hari. Oleh karena itu, tanggal 1 Januari dalam Kalender Julian bertepatan dengan 14 Januari dalam Kalender Gregorian yang kita gunakan sehari-hari.
Perbedaan ini tidak hanya mempengaruhi Tahun Baru, tetapi juga perayaan Natal. Sebagian umat Ortodoks, seperti di Rusia dan Serbia, merayakan Natal pada 7 Januari, yang merupakan 25 Desember menurut “gaya lama” (Julian).
Sejarah Singkat dan Makna Perayaan
Di Rusia, tradisi Tahun Baru Lama muncul setelah pemerintahan Bolshevik mengadopsi Kalender Gregorian secara resmi pada tahun 1918. Bagi banyak orang, terutama yang taat beragama, perayaan pada 1 Januari terasa kurang tepat karena sering bertepatan dengan masa Natal Puasa. 14 Januari, yang datang setelah Natal (7 Januari), menjadi momen yang lebih layak untuk berpesta dan bersukacita tanpa melanggar aturan keagamaan.
Secara tradisional, malam sebelum 14 Januari dikenal sebagai Malam Santo Basil, diisi dengan kebiasaan seperti “menabur” biji-bijian di rumah sebagai simbol kemakmuran, dan menyantap hidangan khusus. Kini, di negara-negara seperti Rusia, Serbia, Belarusia, Georgia, dan Makedonia Utara, perayaan ini lebih bersifat kultural dan keluarga sebuah momen tenang untuk berkumpul dengan orang terdekat setelah keriuhan tahun baru masehi.
Wajah Ortodoks di Indonesia: Sejarah dan Keberagaman Internal
Keberadaan Kristen Ortodoks di Indonesia mungkin belum banyak diketahui publik. Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) secara resmi berdiri sebagai lembaga keagamaan pada tahun 1991 di Solo, dengan Arkhimandrit Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro, Ph.D. sebagai pendiri dan ketua umumnya.
GOI adalah lembaga keagamaan nasional yang diakui pemerintah dan tidak berada di bawah yurisdiksi gereja asing manapun. Saat ini, GOI tercatat memiliki umat sekitar 10.000 jiwa dengan puluhan tempat ibadah yang tersebar di berbagai kota.
Penting untuk dipahami bahwa “Ortodoks” adalah payung besar. Di Indonesia, selain GOI (yang beraliran Ortodoks Timur), terdapat juga komunitas lain seperti Ortodoks Koptik (berasal dari Mesir) yang juga merayakan Natal pada 7 Januari tetapi memiliki tradisi liturgis yang sedikit berbeda. Baik Ortodoks Timur maupun Oriental sama-sama mengakar pada tradisi gereja mula-mula yang berpegang pada Suksesi Apostolik (mata rantai penahbisan yang bersambung hingga para rasul).
Pesan perdamaian dan kasih lintas iman yang disampaikan para pemuka agama, seperti yang diserukan Romo Lazarus Bambang Sucanto dari Gereja Ortodoks di Kricak, Yogyakarta dalam pesan natal kemaren, menegaskan bahwa perbedaan tradisi bukan penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami. Dalam beberapa kasus, justru solidaritas dari komunitas agama lain yang membantu mengamankan ibadah umat minoritas.
Tahun Baru Ortodoks pada 14 Januari adalah fenomena menarik di mana sejarah, iman, dan budaya bertemu. Ia mengajarkan bahwa waktu bisa dirayakan dalam banyak cara, masing-masing dengan cerita dan maknanya sendiri.
Di Indonesia, perayaan ini menjadi bagian dari mozaik keberagaman yang memperkaya bangsa. Keberadaan komunitas kecil yang teguh memelihara tradisi kunonya justru menjadi pengingat akan kekayaan spiritual Nusantara dan pentingnya terus merawat semangat toleransi, bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai praktik hidup sehari-hari yang autentik.
Sumber Referensi
- “Orthodox New Year.” National Today, 28 Apr. 2022, nationaltoday.com/orthodox-new-year/.
- “Tahun Baru Lama.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 14 Juli 2025, id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Lama.
- “Gereja Ortodoks Indonesia.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 21 Des. 2025, id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Ortodoks_Indonesia.
- Pesan Romo Lazarus Bambang Sucanto pada Perayaan Natal. YouTube, diunggah oleh akun Suara.com, tautan: www.youtube.com/watch?v=kE42w7KkVr4.


