Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

0
22
Dok. Ilustrasi Pinterest

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi bahwa menjaga lingkungan adalah komitmen jangka panjang untuk memulihkan dan mempertahankan napas kehidupan bumi. Di tengah deru pembangunan, satu pertanyaan mendesak patut kita renungkan: sudahkah kontribusi kita setara dengan laju kerusakan yang terjadi?

Pohon: Investasi Hijau untuk Masa Depan

Pohon adalah penjaga keseimbangan ekosistem yang tak tergantikan. Ia menyerap karbon, menyimpan dan menyaring air, mencegah erosi tanah, serta menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati. Setiap satu hektar hutan sehat dapat menyerap sekitar 6–7-ton karbon per tahun. Dengan kata lain, menanam pohon adalah wujud paling nyata dari menanam kepedulian, sekaligus investasi kolektif untuk keberlangsungan hidup.

Deforestasi: Ancaman Nyata di Depan Mata

Namun, investasi hijau kita masih kalah cepat dibandingkan laju pengurangan tutupan hutan. Data tahun 2024 menunjukkan Indonesia kehilangan sekitar 260 ribu hektar hutan alam, setara dengan melepaskan 190 juta ton emisi CO₂ ke atmosfer. Angka ini adalah alarm yang nyata. Kehilangan hutan bukan hanya soal pepohonan yang sirna, melainkan keruntuhan sebuah sistem kehidupan yang memengaruhi iklim lokal, siklus air, dan ketahanan pangan.

Belajar dari Tanah Air: Kisah Keteladanan yang Membumi

Di tengah tantangan besar, harapan justru tumbuh dari ketekunan para pejuang lingkungan di akar rumput. Mereka membuktikan bahwa perubahan dimulai dari tindakan nyata:

  • Mbah Sadiman (Lereng Gunung Lawu): Sejak 1996, dengan tekun menanam lebih dari 15.000 pohon beringin untuk memulihkan mata air, mengubah cemoohan menjadi berkah bagi warga.
  • Rosita Istiawan (Megamendung, Bogor): Butuh 25 tahun kesabaran untuk mengubah lahan kritis seluas 30 hektar menjadi hutan organik yang rimbun dan produktif.
  • Mama Nela (Petronela Merauje) (Papua): Dengan pengetahuan lokal, ia menjaga dan membudidayakan hutan mangrove yang menjadi pelindung pantai sekaligus sumber ekonomi bagi perempuan di komunitasnya.

Kisah mereka adalah bukti bahwa pemulihan alam memerlukan kesabaran, keberpihakan pada komunitas, dan keberanian untuk memulai.

Kolaborasi Multipihak: Kunci Solusi yang Berkelanjutan

Kisah inspiratif individu perlu diperkuat dengan kerangka kerja kolaboratif yang lebih luas. Upaya restorasi yang efektif membutuhkan sinergi dari semua pihak:

  • Pemerintah & Korporasi berkomitmen pada praktik agroforestri dan perkebunan sawit berkelanjutan yang tidak menggusur hutan alam atau hak masyarakat adat mutlak diperlukan. Program seperti ProKlim (Program Kampung Iklim) yang memberdayakan masyarakat untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim adalah contoh yang perlu diperluas.
  • Masyarakat & Komunitas melakukan penguatan kapasitas kelompok tani hutan dan pengakuan atas kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam adalah pondasi yang kokoh.
  • Setiap orang dapat menjadi bagian dari solusi.

Aksi Nyata yang Bisa Kita Mulai Hari Ini

Hari Gerakan Satu Juta Pohon mengajak kita dari refleksi menuju aksi. Berikut langkah konkret yang dapat kita ambil:

  1. Tanam dan rawat setidaknya satu pohon di pekarangan rumah, sekolah, atau lingkungan RT. Pilih pohon jenis lokal (native) yang lebih tahan dan bermanfaat bagi ekosistem setempat.
  2. Bergabung dengan kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon yang diselenggarakan oleh komunitas atau lembaga terpercaya, dengan memastikan ada mekanisme perawatan jangka panjang.
  3. Aktif dalam musyawarah perencanaan pembangunan di tingkat desa/kelurahan untuk menyuarakan pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kebijakan penghijauan.

Menanam pohon adalah lebih dari sekadar aktivitas fisik; ia adalah tindakan menanam harapan, ketangguhan, dan napas untuk generasi mendatang. Dari lereng Lawu hingga pesisir Papua, para pejuang lingkungan telah menunjukkan jalannya. Kini, saatnya kita semua, sebagai pemerintah, korporasi, komunitas, dan individu, bergerak bersama. Karena memulihkan alam bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan bahwa bumi tetap menyediakan napas kehidupan bagi semua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini