Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Oleh: Rose Merry | Pegiat Isu Keadilan Gender dan Perlindungan Anak

0
23
Dok. Foto Merry/YKPI

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah
Pengarang       : Wanda Roxanne Ratu Pricillia
Penyunting      : Agata DS
Penerbit           : Odise Publishing
Tebal               : vi + 130 halaman
ISBN               : 9786239633288

“Jika kita bisa merasa lengkap dan utuh sebagai individu, maka kehadiran orang lain harusnya menambah apa yang kita miliki. Kita tidak perlu kehilangan diri sendiri hanya untuk diterima orang lain.”

Kalimat pembuka Wanda Roxanne Ratu Pricillia dalam buku “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah” bukan sekadar pengantar, melainkan sebuah manifesto. Di tengah gelombang perbincangan tentang kebahagiaan mandiri dan tekanan sosial terhadap perempuan terutama mengenai status pernikahan. Buku ini hadir sebagai suara reflektif yang membongkar belenggu norma, budaya, dan interpretasi agama yang selama ini mendikte hidup perempuan.

Buku yang terdiri dari 20 esai reflektif ini berangkat dari pengalaman sehari-hari, namun berhasil menyingkap lapisan-lapisan sistemik yang sering kita anggap “wajar”. Wanda mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang: jika kita tidak merasa ada yang salah dalam pembagian peran gender yang timpang, mungkin kitalah pihak yang diuntungkan oleh sistem ini.

Analisis Isi: Dari Permukaan Menuju Akar Masalah

Penulis membuka pembahasan dengan pertanyaan mendasar: “Apakah inferior sifat alami perempuan?”. Melalui tulisannya, ia melucuti anggapan bahwa perempuan identik dengan kelemahan. Wanda menunjukkan bagaimana sejak lahir, perempuan telah dibebani identitas buatan Masyarakat, sesuatu yang seharusnya tidak menjadi takdir.

Pembahasan kemudian mengerucut pada persoalan yang lebih personal namun universal di kalangan perempuan Indonesia: tekanan untuk menikah. Esai berjudul “Kapan menikah?” mengulas dengan jeli betapa pertanyaan sederhana itu sebenarnya menyimpan beban psikologis yang besar. Wanda tidak menggurui, melainkan memaparkan bagaimana setiap individu memiliki waktu dan jalannya sendiri, sebuah pesan yang menenangkan sekaligus memberdayakan.

Tidak berhenti di tekanan eksternal, buku ini juga menyentuh aspek hubungan interpersonal. Dalam “Mencintai tidak cukup tanpa bahasa cinta”, penulis mengingatkan bahwa pengalaman setiap orang dalam memberi dan menerima kasih sayang berbeda. Bagian ini menjadi peringatan penting tentang perlunya komunikasi yang sehat untuk menghindari hubungan yang toksik, pelajaran yang berlaku baik dalam hubungan romantis maupun pertemanan.

Keunggulan Buku: Suara yang Menjangkau Pembaca Muda

Kekuatan utama buku ini terletak pada keakraban bahasanya. Wanda menulis seolah sedang berbincang dengan sahabat, membuat isu-isu kompleks tentang gender dan norma sosial menjadi mudah dicerna. Pendekatan berbasis pengalaman ini memungkinkan buku menjangkau pembaca yang mungkin belum terbiasa dengan teori feminisme akademis.

Buku ini juga berhasil menghubungkan titik-titik antara berbagai aspek penindasan terhadap perempuan. Mulai dari pola asuh yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, mitos-mitos merugikan yang masih langgeng, hingga bagaimana sistem budaya dan agama saling berkelindan menciptakan “standar tak masuk akal” bagi perempuan. Wanda menunjukkan dengan gambar bahwa masalah-masalah ini bukan terpisah-pisah, melainkan membentuk jejaring yang saling terkait.

Keterbatasan dan Ruang Pengembangan

Meski kuat dalam menyajikan perspektif personal, buku ini memiliki keterbatasan dalam hal kedalaman analisis struktural. Pembahasan tentang sistem patriarki dan kapitalisme yang membentuk norma-norma tersebut hanya disinggung secara permukaan. Pembaca yang mencari analisis lebih mendalam tentang akar historis atau ekonomi dari masalah-masalah yang diangkat mungkin akan merasa kurang terpuaskan.

Selain itu, ruang lingkup pengalaman yang menjadi dasar tulisan terasa terbatas pada konteks tertentu. Meski banyak pengalaman yang universal, beberapa esai mungkin kurang menyentuh realitas perempuan dari lapisan sosial atau latar belakang budaya yang berbeda di Indonesia yang sangat beragam.

Rekomendasi Pembaca: Untuk Siapa Buku Ini?

“Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah” sangat saya rekomendasikan untuk:

  • Perempuan muda yang mulai mempertanyakan tekanan sosial seputar pernikahan dan peran gender
  • Pembaca pemula dalam isu feminisme yang mencari pintu masuk melalui pengalaman sehari-hari
  • Siapapun yang pernah merasa lelah berusaha memenuhi ekspektasi orang lain tentang hidup mereka

Buku ini mungkin kurang cocok bagi mereka yang mencari analisis akademis mendalam atau solusi struktural terhadap ketimpangan gender. Namun sebagai pengantar reflektif yang memancing kesadaran kritis, karya Wanda berhasil dengan gemilang.

Kesimpulan: Sebuah Permulaan Dialog yang Penting

“Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah” berhasil membuktikan bahwa pembahasan tentang isu gender tidak harus selalu berat dan teoritis. Melalui rangkaian esai yang reflektif dan personal, Wanda Roxanne Ratu Wanda membuka ruang percakapan tentang tekanan sosial yang selama ini membelenggu banyak perempuan Indonesia.

Buku ini mengingatkan kita bahwa sebelum melawan sistem besar, kita perlu terlebih dahulu mengenali dan meruntungkan penjara norma dalam pikiran kita sendiri. Wanda memberikan bahasa untuk perasaan-perasaan yang mungkin selama ini terpendam bahwa menjadi lajang bukan masalah, bahwa menolak standar orang lain bukan kegagalan, dan bahwa kelengkapan diri harus ditemukan dalam diri sendiri sebelum mencari pelengkap dari orang lain.

Di tengah masyarakat yang masih sering memandang status pernikahan sebagai ukuran kesuksesan perempuan, kehadiran buku ini adalah penyeimbang yang diperlukan. Ia mungkin bukan jawaban akhir, tapi pasti adalah permulaan dialog yang penting bagi siapapun yang percaya bahwa setiap perempuan berhak mendefinisikan kebahagiaannya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini