Penulis: Idha Nafiatul Aisyi, Community Organizer YKPI
Saya membuka laptop, jam menunjukkan pukul tiga siang. Bau kembang api masih tertinggal di meja, sebentar lagi akan hilang tersapu angin sebelum hujan. Di atas meja yang berantakan, jari-jari saya tertahan. Mata terpaku pada foto-foto Pameran Arsip, Seni, dan Fotografi LBH Yogyakarta untuk memperingati Hari HAM yang saya kunjungi pada 18 Desember lalu.
Saya mengklik satu foto. Sebuah sudut pameran menampilkan tripod kamera video tua yang berdiri kaku. Di bawah sorot lampu galeri, kamera itu menyerupai mata yang menolak terpejam, menatap tajam ke arah spanduk kuning bertuliskan “SULUH UDIN”. Saya bersandar ke kursi, merasakan pegal yang terkumpul di punggung. Ada rasa ganjil yang menyergap; ketika orang lain sibuk merayakan pergantian tahun, saya justru terjebak dalam kumpulan piksel duka dan perlawanan yang belum tuntas.

Itu adalah satu dari sekian banyak cerita saya di bulan Desember. Cerita kegiatan sebagai community organizer di YKPI yang baru dimulai. Dokumentasi pameran itu di layar monitor adalah peringatan: jika kerja-kerja kami berhenti, mungkin cerita-cerita di tapak hanya akan lewat begitu saja.
Bagi seorang pengorganisir, Januari bukanlah lembaran putih yang benar-benar bersih. Ia hanyalah jeda singkat sebelum kembali memulai agenda yang ditinggalkan oleh Desember yang riuh.
Kalender baru tergantung di dinding, namun pikiran masih tertinggal pada deretan pertemuan, debu jalanan, dan ruang-ruang diskusi. Desember adalah awal dari maraton panjang untuk memetakan harapan di sudut-sudut Yogyakarta.
Maraton itu berawal di meja Mitra Wacana (Lembaga yang bergerak untuk mewujudkan Kesetaraan Gender) pada 4 Desember. Kami membedah peluang kolaborasi, menyusun strategi agar pendampingan di Kelurahan Baciro bisa dilanjutkan. Sehari setelahnya, kami juga menemui teman-teman Gusdurian, menjajaki Kelurahan Banguntapan sebagai salah satu opsi wilayah pengorganisasian.

Saat menemui salah satu perwakilan BUMDes Kelurahan Pleret (9 Desember), kami menyentuh permukaan yang tampak tenang namun menyimpan gejolak. Isu intoleransi dan potensi sengkarut “koperasi merah putih” berkelindan dengan pemangkasan dana pusat. Di hari yang sama, sambutan hangat Ibu Lurah Sriharjo memberikan sedikit napas lega. Kami disambut baik dan bersepakat untuk segera melakukan FGD bersama kelompok Perempuan dan kelompok rentan (disabilitas) di sana.
Aroma persoalan lain menyengat saat saya dan tentu selalu bersama organizer yang lain saat ikut melakukan pertemuan di Purwomartani bersama Bank Sampah Go Green (11 Desember). Di sela jeda mengurus sampah, Mbak Dani memaparkan realitas pahit: kekerasan terhadap anak, kriminalitas yang merayap, hingga nihilnya ruang bagi perempuan untuk bicara. Di sana, sampah bukan satu-satunya masalah karena keheningan para korban adalah beban yang jauh lebih berat.
Di depan monitor, pandangan saya kembali tertahan pada foto-foto pameran itu. Sorot kamera tua yang menatap ‘SULUH UDIN’ berganti dengan gambar lain: lukisan Marsinah yang berteriak. Keduanya terasa seperti cermin dari apa yang saya dengar di lapangan. Pengorganisasian perempuan masih begitu penting hingga hari ini.
Akhirnya, saya menutup jendela foto itu perlahan. Pendar putih cahaya ruangan meredup, namun daftar tugas di kepala justru menyala. Tahun baru bagi saya bukan tentang merayakan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan tentang tidak berhenti merawat apa yang sudah dirajut sebelumnya.
Selamat tahun baru! Tunggu cerita seru pengorganisasian saya dan teman-teman lainnya di tahun ini.


