Suasana hangat dan penuh semangat terasa di ruang diskusi Jumat sore, 24 Oktober 2025. Para alumni Program Magang Youth Accros Diversity berkumpul kembali dalam tajuk “Membangun Kapasitas Orang Muda Sebagai Champion Damai”. Kegiatan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi ruang refleksi dan pembelajaran bersama tentang bagaimana pengalaman magang telah menumbuhkan jejaring, pemahaman lintas identitas, dan semangat keberagaman.
Dari magang jadi gerakan, itu yang dialami oleh mereka. Sejak program magang ini dimulai, banyak peserta mengakui bahwa pengalaman tersebut menjadi titik balik perjalanan mereka. Annas, misalnya, merasa magang membuka wawasan dan motivasi untuk terus belajar dari kursus, kerja paruh waktu, hingga mempersiapkan diri melanjutkan studi.
Sementara Arif, yang kini juga aktif di jaringan Gusdurian, menceritakan kiprahnya dalam program inklusi “Buku Doa untuk Anak Netra Indonesia”, yang bahkan mendapat penghargaan nasional. “Saya ingin teman-teman netra juga dilibatkan dalam magang Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) ke depan,” ujarnya penuh semangat.
Cerita serupa datang dari Naomi yang mengaku magang di Yogyakarta membuka matanya akan keberagaman. “Tidak ada tempat seberagam Jogja. Ini pengalaman yang membuat saya belajar untuk tidak menggeneralisasi siapa pun,” tuturnya. Kini Naomi aktif di berbagai kegiatan lintas iman, dari perayaan Kathina di Vihara Mendut hingga pelatihan keberagaman di Kopeng.
Magang yang menghubungkan mereka menjadi keluarga. Para alumni merasakan bahwa selama ini bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga keluarga baru. “Teman-teman yang dulu saya kejar-kejar untuk terlibat aktif di waktu magang, sekarang jadi sahabat dekat,” kata Fay, yang kini bekerja di organisasi disabilitas.
Anastasia menuturkan bagaimana ia berani tampil sebagai moderator di acara gereja Katolik, sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan. Sedangkan Kadita, seorang aktivis transpuan, menegaskan pentingnya ruang aman dan inklusif bagi semua identitas. “Buat saya, berbeda itu tidak masalah. Saya belajar banyak tentang penerimaan diri dan keberagaman,” katanya.
Selain berbagi kisah inspiratif, para-alumni juga memberi banyak masukan untuk pengembangan program magang mendatang. Belajar dari pengalaman, beberapa ide yang mengemuka antara lain:
- Pelibatan alumni sebagai fasilitator, moderator, dan pendamping peserta magang baru.
- Kurikulum yang lebih spesifik dan partisipatif, dengan metode diskusi (focus group discussion), bukan sekadar ceramah.
- Digitalisasi sistem magang, termasuk absensi dan penilaian agar lebih inklusif.
- Penambahan materi baru, seperti kesehatan mental, penghayatan spiritual, serta keberagaman gender dan seksualitas.
- Kolaborasi dengan komunitas akar rumput, bukan hanya lembaga formal, agar pengalaman lapangan lebih bermakna.
Menurut Viri dari YKPI, “Masukan teman-teman alumni sangat berharga. Ini menjadi pegangan bagi YKPI untuk merancang program magang yang lebih relevan, hidup, dan berkelanjutan.”
Program magang ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter dan empati sosial. Banyak alumni yang kini aktif di organisasi masyarakat sipil, komunitas lintas iman, serta advokasi kelompok rentan.
Mereka menjadi champion damai, orang muda yang mampu menyalakan cahaya toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Pertemuan sore itu ditutup dengan harapan agar jaringan alumni tetap solid dan terus berkembang. “Semoga kita bisa membuat kegiatan bersama lagi dan memperluas jejaring,” ujar Viri menutup sesi.
Dari cerita-cerita itu, jelas bahwa magang bukan sekadar program sementara, melainkan ruang tumbuh bagi orang muda untuk menjadi jembatan perdamaian dan keberagaman. “Kita semua berangkat dari rumah yang sama yaitu rumah kemanusiaan.”


