Menjaga Alam, Menjaga Identitas: Suara Masyarakat Adat dan Penghayat untuk Bumi yang Lestari

0
66
Dok. Foto YKPI

“Masyarakat adat tidak boleh berjuang sendirian. Perjuangan menjaga alam dan keyakinan adalah perjuangan kita semua.”

Diskusi di Sekolah Pascasarjana UGM menghadirkan penghayat kepercayaan, masyarakat adat, dan jurnalis yang membahas peran media dalam advokasi lingkungan. Dari lereng Merapi hingga sawah Pati, mereka menyerukan: menjaga alam berarti menjaga identitas dan spiritualitas bangsa.

Alam dan Identitas: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan. Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari jati diri dan spiritualitas masyarakat adat serta penghayat kepercayaan di Indonesia. Ketika hutan ditebang, sungai tercemar, dan tanah digerus tambang, bukan hanya lingkungan yang rusak tetapi juga warisan budaya dan nilai-nilai leluhur yang ikut hilang. Kesadaran itulah yang menjadi roh dalam Diskusi Panel “Menjaga Alam, Menjaga Identitas: Peran Media dalam Advokasi Lingkungan dan Spiritual Masyarakat Adat/Penghayat” yang berlangsung pada Jumat, 24 Oktober 2025 di Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Kikis Wantoro (Presidium MLKI Kabupaten Magelang, Penghayat Pahoman Sejati), Gun Retno (Sedulur Sikep, Pati) dan Bhekti Suryani(Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta). Mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana kearifan lokal menjadi dasar advokasi lingkungan, dan bagaimana media dapat memperkuat suara kelompok rentan di tengah dominasi industri dan politik ekonomi.

Dari Merapi – Merbabu, Kikis Wantoro Menyerukan “Memayu Hayuning Bawana”, Ia menceritakan kerusakan alam akibat tambang galian C yang terus merambah. “Dulu hanya pasir yang diambil, sekarang batu dan koral pun ikut dikeruk. Sumber air mulai mengering,” ujarnya prihatin. Sebagai penghayat Paoeman Sejati, ia menegaskan bahwa hubungan spiritual dengan alam adalah wujud perlindungan, bukan penyembahan. “Pohon dan sumber air adalah penjaga kehidupan. Kalau alam rusak, manusia kehilangan penjaganya,” tuturnya.

Melalui gerakan bersama warga dan organisasi sipil, Kikis berjuang menekan aktivitas tambang di Magelang. “Perjuangan tidak harus besar untuk berhasil. Lebih baik kecil tapi nyata, daripada besar hanya jadi angan,” katanya menutup.

Sementara itu dari Pati, Gun Retno dan Sedulur Sikep: Menghormati Ibu Bumi dengan Bertani dan Menolak Tambang. Ia membawa filosofi Sedulur Sikep, kelompok penghayat ajaran Samin Surosentiko yang mengajarkan hidup jujur, tidak serakah, dan selaras dengan alam. “Bagi kami, merusak tanah berarti tidak menghormati Ibu Bumi,” ucapnya. Gun Retno menyoroti bahaya regulasi yang membuka peluang bagi ormas mengelola tambang. Ia dan sejumlah tokoh lintas iman mengusulkan moratorium tambang di Pulau Jawa karena tanah Jawa yang subur tak pantas dijadikan area eksploitasi. “Kami ingin bumi ini tetap bisa diwariskan kepada anak cucu. Pulau Jawa terlalu padat untuk jadi kawasan tambang,” katanya.

Perjuangan mereka menolak pabrik semen di Pati bahkan sampai ke Mahkamah Agung  dan dimenangkan. Namun, perjuangan belum usai karena ancaman serupa muncul di tempat lain.

Dari sisi jurnalisme, Bhekti dari AJI Yogyakarta mengingatkan pentingnya media untuk berpihak pada keadilan sosial dan lingkungan. Media Harus Jadi Penghubung, Bukan Sekadar Pelapor. Ketika banyak lembaga agama abai terhadap krisis ekologi, masyarakat penghayat justru berada di garis depan menjaga bumi.

Bekti mencontohkan masyarakat adat Marapu di Sumba dan komunitas Mentawai yang kehilangan lahan akibat proyek pembangunan. “Identitas budaya dan spiritual mereka hancur atas nama investasi. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tapi soal hilangnya peradaban,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya pemberitaan media tentang masyarakat adat. Liputan sering berhenti di permukaan dan jarang menyentuh akar persoalan: ketimpangan ekonomi, politik, dan akses terhadap sumber daya alam. “Media harus jadi jembatan yang mempertemukan masyarakat adat dengan publik dan jejaring advokasi. Jurnalisme seharusnya menghidupkan solidaritas,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti tantangan advokasi masyarakat adat dari ancaman politik hingga tekanan media. Beberapa penanya mempertanyakan posisi penghayat yang sering dijadikan simbol tanpa perlindungan nyata. Gun Retno menjawab tegas, “Kami bukan alat politik. Kami berjuang karena mencintai bumi.” Kikis Wantoro menambahkan bahwa penyelesaian persoalan harus dimulai dari dialog dan mediasi, bukan konflik. Sementara Bekti mengingatkan, “Tantangan terbesar jurnalis adalah menjaga idealisme di tengah tekanan bisnis dan politik.”

Tokoh lain yang hadir, seperti Katarina Pancer Istiani (Komnas Perempuan) dan Eko Cahyono (Institut Bogor), menegaskan pentingnya kebijakan yang berpihak serta narasi tanding di media. Eko menyebut, “Masyarakat adat bukan korban, mereka pendiri bangsa. Sudah saatnya media menulis dengan keberpihakan dan riset yang kuat.”

Kearifan Lokal sebagai Jalan Pulang bagi Bumi. Bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ibu yang memberi kehidupan. Kearifan lokal masyarakat penghayat dan adat membuktikan bahwa spiritualitas bisa berjalan seiring dengan perjuangan ekologis.

Peran media sangat penting untuk menghidupkan narasi ini. Dengan jurnalisme yang berperspektif keadilan sosial dan lingkungan, publik bisa memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga identitas dan masa depan bangsa.

“Kita harus seirama dalam menjaga Ibu Bumi. Karena ketika bumi pulih, identitas kita pun ikut hidup.” — Gun Retno, Sedulur Sikep.

Dituliskan oleh Rose Merry dari Diskusi Panel “Menjaga Alam, Menjaga Identitas: Peran Media dalam Advokasi Lingkungan dan Spiritual dalam rangka Dies Natalis ke-25 CRCS UGM, Jum’at, 24 Oktober 2025, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini