Bayangkan jika keyakinanmu sendiri dianggap sesat. Bayangkan, ketika kamu berdoa dengan cara yang diwariskan leluhurmu, orang lain justru menatapmu dengan curiga. Itulah kenyataan yang masih dialami sebagian anak muda di negeri ini, mereka yang lahir dari keluarga penghayat, hidup di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya memahami makna “berbeda”. Namun, alih-alih menyerah, mereka memilih bangkit dan bersuara.
Akhir Oktober 2025 lalu di Yogyakarta, sekelompok orang muda penghayat dan lintas iman berkumpul dalam Konsolidasi Orang Muda Penghayat. Forum ini digagas oleh Kabar Sejuk, YKPI, AJI Yogyakarta dan Klinik KBB sebagai ruang dialog dan refleksi bersama. Mereka tidak hanya membicarakan stigma dan diskriminasi, tetapi juga belajar strategi baru dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan di era digital.
Dari forum itu mengalir kisah-kisah yang menggugah. Sarto dari Bantul masih menyembunyikan keyakinannya di KTP karena takut stigma; Hari dari Bandung hampir kehilangan alat musik tradisionalnya karena dianggap sesat; dan Via, seorang pelajar, pernah dicap menyimpang oleh pihak sekolah. Namun di balik luka itu tumbuh keberanian baru: keberanian untuk mengambil peran, menulis, berkarya, dan menceritakan diri mereka sendiri.
Para peserta menyadari bahwa perjuangan kini tidak lagi hanya di jalanan atau ruang sidang, tetapi juga di ruang digital. Mereka belajar dari Juju, perwakilan AJI Yogyakarta, tentang pentingnya menguasai narasi dan memahami peran kecerdasan buatan (AI) dalam membentuk opini publik. AI, kata Juju, bisa menjadi alat sekaligus ancaman, ia dapat memperkuat informasi benar, tetapi juga melanggengkan bias jika datanya keliru. Karena itu, komunitas penghayat perlu membangun basis data dan konten digital sendiri, agar kisah dan identitas mereka tidak dihapus dari ingatan daring.
Kesadaran ini mengubah cara pandang banyak peserta. Mereka mulai melihat media sosial bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai arena perjuangan naratif. Lewat tulisan di Kompasiana, unggahan seni di Instagram, atau video pendek di TikTok, mereka menyalakan percakapan baru tentang keberagaman. Di dunia yang dikuasai algoritma, mereka tahu bahwa setiap unggahan adalah pernyataan sikap tentang siapa yang pantas didengar dan siapa yang berhak didefinisikan.
Inisiatif seperti Klinik KBB (Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) memperkuat langkah mereka. Klinik ini menjadi jembatan bagi dialog lintas iman, lintas isu, dan lintas generasi. Di sana, penghayat bisa berdiskusi dengan aktivis perempuan, penyandang disabilitas, atau pegiat lingkungan, membangun solidaritas berbasis kemanusiaan. Dari ruang-ruang inilah lahir kesadaran bahwa keberagaman bukan sekadar konsep moral, tapi cara hidup bersama.
Kini, giliran kita untuk ikut bergerak. Solidaritas tidak cukup dengan simpati; ia butuh aksi. Tulis, bagikan, dukung, dan sebarkan kisah orang muda penghayat agar mereka tak lagi dilihat sebagai “lain”, melainkan sebagai bagian dari wajah Indonesia yang sejati.
Karena kebebasan berkeyakinan bukan hanya soal hukum, tapi juga keberanian untuk jujur, terbuka, dan menghargai perbedaan. Jika negara masih lamban menyalakan obor kesetaraan, biarlah orang muda penghayat dan lintas iman menyalakan lilin-lilin kecil dan kita semua membantu agar cahayanya tak padam.
Mari bergabung, menulis, dan bersuara. Bukan untuk membela satu keyakinan, tapi untuk membela kemanusiaan.
Dituliskan oleh Rose Merry dari kegiatan Konsolidasi Orang Muda Penghayat dan Lintas Iman dalam rangka Dies Natalis ke-25 CRCS UGM, Sabtu, 25 Oktober 2025, Yogyakarta.


