Di tengah dunia yang kian porak-poranda akibat konflik dan meningkatnya intoleransi, seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk perdamaian terasa semakin mendesak. Dalam pidatonya pada Hari Perdamaian Internasional, 21 September 2025, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan: “Perdamaian adalah tanggung jawab bersama…. Perdamaian tidak bisa ditunda—tugas itu harus dimulai sekarang.”
Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama, budaya, bahasa, dan tradisi yang sangat kaya. Keberagaman ini menjadi identitas penting bangsa, namun juga menghadirkan tantangan dalam menjaga kerukunan dan menciptakan interaksi lintas agama yang harmonis. Jika tidak dikelola dengan bijak, perbedaan keyakinan dapat memicu kesalahpahaman, polarisasi, bahkan konflik yang merugikan masyarakat luas.
Data terbaru menunjukkan bahwa tantangan tersebut masih sangat nyata. SETARA Institute mencatat pada 2024 terjadi 260 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama, meningkat dari 217 peristiwa pada 2023. Angka ini memperlihatkan bahwa upaya membangun saling percaya dan menghargai perbedaan membutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan. Meski demikian, ada pula contoh positif: hasil Indeks Kota Toleran 2024 menunjukkan bahwa beberapa kota berhasil menjaga kerukunan, dengan Salatiga menempati posisi tertinggi. Fakta ini membuktikan bahwa dialog lintas agama yang konsisten, didukung kebijakan yang inklusif, serta keterlibatan aktif masyarakat mampu menekan potensi gesekan sosial.
Menjawab situasi dan kondisi ini, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengambil peran nyata dengan menyelenggarakan Talkshow dan Pelatihan Dialog Lintas Iman bertajuk “Tantangan Sosial dan Strategi Membangun Dialog dalam Interaksi Lintas Agama” pada 20 September 2025. Kegiatan ini menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar absence of war (ketiadaan perang), melainkan usaha aktif untuk menciptakan ruang hidup bersama yang adil, setara, dan penuh penghargaan atas perbedaan terutama dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam talkshow dan pelatihan ini, perspektif komprehensif dihadirkan oleh narasumber lintas disiplin. Vania Sharleen Setyono, M.Si., Teol. membedah “Dinamika Intoleransi dan Tantangan Sosial dalam Interaksi Lintas Agama di Indonesia”. Sementara Dr. Martinus Joko Lelono, Pr., M.Hum. menyoroti “Peran Media Sosial dalam Membangun Relasi Lintas Iman”. Kehadiran kedua narasumber membuka ruang refleksi mendalam mengenai realitas bangsa Indonesia yang plural, namun kerap dilanda tantangan intoleransi. Di sisi lain, media sosial yang seringkali menjadi medium penyebaran ujaran kebencian, juga dapat dipergunakan secara kreatif untuk menumbuhkan narasi alternatif tentang toleransi dan perdamaian.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, talkshow dan pelatihan ini dirancang secara partisipatif. Difasilitasi oleh Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian UKDW bersama co-fasilitator mahasiswa, peserta diajak merefleksikan pengalaman personal, berlatih berdialog, dan menyusun strategi praktis untuk menghidupi nilai perdamaian di kampus maupun komunitas. Ruang ini sekaligus menjadi wadah pertemuan lintas iman, tempat para peserta berdiskusi, berbagi pengalaman, serta merumuskan langkah konkrit menghadapi tantangan dalam interaksi keberagaman.
Inisiatif UKDW ini menjadi mikrokosmos dari perjuangan perdamaian global. Talkshow dan pelatihan tersebut memperlihatkan bahwa kampus atau institusi pendidikan bisa menjadi pusat (epicentrum) untuk merawat dan menjaga perdamaian. Artinya, perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat membangun budaya dialog, toleransi, dan kolaborasi lintas iman melalui kerja kolektif yang nyata, bukan sekadar agenda seremonial, tidak berhenti pada simbol melainkan benar-benar melibatkan aksi nyata, partisipasi bersama, dan menghasilkan dampak bagi peserta serta komunitas.
Perdamaian bukanlah utopia. Ia dapat hadir lewat ruang dialog sederhana, meja perjumpaan, maupun aktivitas kolaboratif antar mahasiswa. Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang menyalakan cahaya perdamaian di tengah masyarakat plural. Merayakan Hari Perdamaian Internasional bukan sekadar mengenang sebuah tanggal, tetapi menjadikannya laku hidup sehari-hari, dimulai dari ruang kecil seperti kampus, lalu meluas ke masyarakat, bangsa, hingga dunia.
Mari kita jadikan semangat Hari Perdamaian Internasional sebagai komitmen bersama. Mulailah dari langkah kecil: menghargai perbedaan, menyebarkan narasi damai di media sosial, serta menciptakan ruang perjumpaan lintas iman. Bersama, kita bisa menjadi generasi yang menyalakan lilin perdamaian di tengah kegelapan intoleransi.


