
Di tengah gelombang politik identitas yang menyempitkan ruang pertemuan umat beragama, suara-suara perdamaian justru menemukan kekuatannya. Seringkali, suara itu dimotori oleh para perempuan yang gigih merajut dialog dari tingkat paling dasar. Refleksi satu dekade perjalanan Srikandi Lintas Iman (SRILI) diwujudkan dalam sebuah buku kumpulan tulisan yang menjadi jawaban atas kegelisahan zaman ini.
Buku ini bukan sekadar kumpulan catatan. Ia adalah mozaik pengalaman, pergulatan intelektual, dan yang terpenting, sebuah catatan keberanian. Berangkat dari kegelisahan akan memudarnya ruang dialog, para penulisnya justru menemukan keberanian untuk bertanya, menggugat, dan membangun dialog kritis.
SRILI hadir sebagai ruang aman bagi dialog yang transformatif. Melalui pelatihan transformasi konflik, SRILI membekali perspektif baru yang sangat dibutuhkan para pegiat perdamaian lintas iman di lapangan. Buku ini adalah bagian dari perjalanan itu, membuka mata banyak pihak bahwa perdamaian harus dipraktikkan, bukan hanya diwacanakan.
Pendekatan SRILI unik karena lahir dari pengalaman konkret perempuan di tiga ranah: keluarga, komunitas, dan partisipasi dalam kebijakan. Ini membuktikan bahwa perdamaian berawal dari rumah, lalu merambat ke ruang yang lebih luas. Pada dasarnya, SRILI bukan hanya komunitas, melainkan rumah yang saling mendukung, melengkapi, dan memproduksi pengetahuan secara kolektif.
Seperti disampaikan Okky Madasari, Novelis dan Sosiolog, dalam bedah buku Merayakan Perbedaan , Merawat Keberagaman (13/9/2025). “SRILI ke depan bukan hanya sekadar rumah yang aman dan nyaman, tetapi juga mampu menjadi rumah penyembuhan, tempat healing dari beragam kesesakan. Juga menjadi tempat produksi pengetahuan baru yang berangkat dari pengalaman unik setiap orang di dalamnya” Ujarnya.
Para penulis buku ini adalah pegiat dari beragam latar belakang iman, usia, dan pengalaman. Namun, keragaman itu justru menunjukkan common ground yang mengedepankan kemanusiaan. Dra. Endah Setyowati, M.Si., M.A. (Anggota SRILI, Dosen UKDW Yogyakarta) menegaskan hal ini. “Satu dekade SRILI menggambarkan posisi dan peran perempuan mengembangkan perdamaian dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman agama dan keyakinan. Dialog membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pandangan yang pada ujungnya melahirkan sikap hormat dan kerja sama tanpa sekat,”.
Pandangan serupa disampaikan Rm. Martinus Joko Lelono, Pr. (Imam Keuskupan Agung Semarang, Dosen Universitas Sanata Dharma) dalam epilog buku. Ia menekankan pentingnya keberanian memasuki ‘wilayah abu-abu’ yang melampaui hitam dan putih. “Bicara tentang peran perempuan sebagai penjaga perdamaian, di Indonesia kiranya SRILI adalah lembaga pionir. Di tengah budaya Indonesia yang patriarkis, kelompok ini menjadi bukti bahwa ada cerita perempuan penjaga perdamaian,” tulisnya.
Pada akhirnya, cerita dalam buku ini lebih dari sekadar produksi pengetahuan. Ia adalah testimoni nyata tentang persahabatan dan kekeluargaan yang merayakan perbedaan serta merawat keberagaman dengan penuh cinta. Buku ini membuktikan bahwa perempuan lintas iman adalah pembawa pesan damai yang efektif. Dengan empati, ketangguhan, dan jejaring yang dibangun, mereka merajut perdamaian dari akar rumput hingga meja kebijakan.
Dalam narasi global yang sering diwarnai konflik, SRILI mengingatkan kita pada kekuatan alternatif: dialog, empati, dan kepemimpinan perempuan yang inklusif. Mereka adalah penjaga nyala api perdamaian di tengah gelapnya politik identitas. Kisah mereka adalah inspirasi untuk kita semua tak sekadar menjadi penonton, tetapi turut merajut perdamaian di mana pun kita berada.
Informasi lebih lanjut untuk Buku Pengalaman Perempuan Lintas Iman: Merayakan Perbedaan, Merawat Keberagaman silahkan menghubungi SRILI melalui https://www.instagram.com/srilijogja?igsh=aHo1eG93OG0wZmc0

