
KUPANG – Dunia lingkungan dan gerakan sosial Nusa Tenggara Timur (NTT) berduka. Vian Ruma, seorang guru dan aktivis lingkungan yang gigih, ditemukan tewas secara mengenaskan di sebuah gubuk dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kabupaten Nagekeo, pada awal September 2025. Kematiannya menyisakan duka mendalam dan tanda tanya besar, terutama karena ia dikenal vokal menolak proyek geothermal di wilayah tersebut.[1]
Siapa Vian Ruma? Vian adalah putra pertama dari pasangan Ignasius Sare dan Martha Dore. Ia dibesarkan di Kampung Wio, Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo. Sejak kuliah di Kupang, jiwa kepemimpinannya sudah terasah. Ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, termasuk menjadi Ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Keo Tengah (HIMPLKET) Kupang pada periode 2016-2017. Ia juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Nagekeo (PERMASNA) Kupang dan PMKRI Cabang Kupang.
Setelah menjadi guru, dedikasinya beralih ke kaum muda. Ia aktif membina Orang Muda Katolik (OMK) baik di tempat tugasnya di Nangaroro maupun di kampung halamannya. Namun, namanya semakin dikenal ketika ia getol menyuarakan penolakan terhadap proyek panas bumi (geothermal) yang dianggap mengancam ekosistem Pulau Flores.
Vian adalah bagian penting dari Kelompok Orang-muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), sebuah jaringan pemuda di 13 kabupaten/kota di NTT yang fokus pada isu kebersihan dan kerusakan lingkungan. Di komunitas ini, ia duduk sebagai anggota Koalisi KOPI di Komite Eksekutif Daerah (KED) Nagekeo.
Bersama KOPI, Vian tak kenal lelah menyuarakan keprihatinannya. Ia mengangkat berbagai isu lingkungan di Nagekeo dan rajin mengajak murid-muridnya serta para pemuda untuk bersama-sama menjaga alam. Perjuangannya ini membuatnya berada di garis depan dalam aksi penolakan proyek geothermal.[2]
Dilema Geothermal di Flores: Energi Bersih vs Ancaman Ekologi
Pulau Flores memang sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Di satu sisi, pulau ini membutuhkan pasokan energi bersih dan terbarukan. Di sisi lain, proyek geothermal dinilai mengancam ekosistem yang rapuh dan budaya masyarakat adat.
Para Uskup dari Provinsi Gerejawi Ende, yang mencakup enam keuskupan, telah secara keras menolak proyek geothermal di wilayah seperti Mataloko, Poco Leok, dan Wae Sano. Penolakan ini berdasarkan pada ajaran Gereja Katolik tentang keutuhan ciptaan dan kekhawatiran nyata akan kerusakan lingkungan.[3]
Kelompok masyarakat sipil, termasuk Walhi NTT, juga menuntut penghentian seluruh proyek geothermal di NTT. Umbu Wulang Tanaamah Paranggi, Direktur Walhi NTT, mengecam keras cara pemerintah dan PLN yang dianggap memaksakan kehendak, mengabaikan hak tolak warga, dan mengingkari semangat desentralisasi.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa bukti. Di daerah seperti Mataloko, Ulumbu, dan Sokoria, di mana geothermal telah beroperasi, masyarakat melaporkan penurunan hasil pertanian seperti kopi, cengkeh, dan vanili dari tahun ke tahun. Kerusakan tanah dan air menjadi bukti nyata dampak buruk proyek ini yang justru dapat menggagalkan program hilirisasi non-tambang yang diusung Gubernur NTT.[4]
Kematian Vian Ruma bukan sekadar hilangnya seorang aktivis, tetapi merupakan pukulan bagi demokrasi dan ruang kritik di Indonesia. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menegaskan bahwa tidak boleh ada intimidasi, kekerasan, atau kriminalisasi terhadap suara masyarakat yang kritis.
“Tidak boleh ada praktik intimidasi, kekerasan, atau kriminalisasi terhadap suara masyarakat yang kritis terhadap proyek-proyek strategis,” tegas Daniel Johan.[5]
Kematian Vian harus menjadi momentum untuk mengevaluasi semua proyek geothermal di NTT. Transparansi, dialog yang inklusif dengan masyarakat adat, dan kajian lingkungan yang independen mutlak diperlukan.
Perjuangan Vian tidak boleh berakhir sia-sia. Kita semua dapat melanjutkan estafet perjuangannya dengan edukasi diri dan masyarakat, bagaimana kita perlu pelajari lebih dalam dampak geothermal dan alternatif energi terbarukan lainnya seperti tenaga surya, angin, dan gelombang untuk Flores. Upaya lain adalah terus bersuara, kita bisa memanfaatkan platform media sosial dan media alternatif lainnya untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan keadilan bagi Vian Ruma. Dukung investigasi independent, bagaimana kita terus mendorong dan mengawasi aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kematian Vian Ruma secara transparan dan independen. Kita juga bisa advokasi pemerintah dengan mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk mengutamakan pendekatan dialog, menghormati hak-hak masyarakat adat, dan mempertimbangkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Masa depan Flores yang hijau dan berkelanjutan adalah warisan untuk generasi mendatang. Mari jaga alam NTT, seperti yang telah diperjuangkan Vian Ruma hingga titik nadir hidupnya. Suaramu Penting. Aksi Nyatamu Lebih Berarti.
[1] https://radarsurabaya.jawapos.com/nasional/776546702/aktivis-penolak-geothermal-di-ntt-vian-ruma-ditemukan-tewas-mengenaskan
[2] https://www.sergap.id/profil-aktivis-tolak-geothermal-yang-ditemukan-tewas-di-pondok-bambu/
[3] https://www.kompasiana.com/alfredbenediktusjogoena3063/67ff7ca3ed641522682dd753/geothermal-di-flores-antara-energi-terbarukan-kerusakan-alam-dan-ajaran-gereja
[4]https://betahita.id/news/detail/11082/walhi-ntt-setop-semua-proyek-geothermal-di-flores-.html?v=1746749502
[5] https://daerah.sindonews.com/read/1618107/174/vian-ruma-aktivis-penolak-geotermal-ditemukan-tewas-dpr-tidak-boleh-ada-kekerasan-terhadap-suara-kritis-rakyat-1757462989?showpage=all

