Kupang untuk Semua: Perjuangan Kecil yang Menggerakkan Gelombang Besar

2
321
Kegiatan Audiensi ke Dukcapil Kota Kupang. (Dok. Foto IMoF NTT)

Saya tidak pernah memaksa orang untuk memahami saya. Tapi saya percaya, semua orang bisa belajar. Dan kadang, perubahan itu dimulai dari mendengarkan. – Ridho Herewila

Saya Ridho Herewila biasa di panggil  Idho. Saya lahir dan tumbuh di Kupang, kota kecil yang sering dianggap jauh dari pusat perubahan. Tapi bagi saya, justru di tempat seperti inilah perubahan itu harus dimulai karena semakin sunyi sebuah ruang, semakin keras kita harus menyuarakan harapan.

Bersama IMoF NTT, saya dan teman-teman selama ini merintis jalan yang tidak mudah. Jalan yang penuh stigma, diskriminasi, dan pengucilan. Tapi juga jalan yang kalau kita cukup sabar dan strategis bisa berubah menjadi jembatan keadilan. Kami menyebutnya: advokasi untuk hidup yang setara.

Kami memulai dengan hal yang dianggap “kecil” namun sangat penting yaitu administrasi kependudukan. Banyak teman-teman LGBTQ+, terutama transpuan, kesulitan mengakses layanan dasar seperti pembuatan KTP, KK, atau akta kelahiran karena takut dipermalukan atau ditolak.

Melalui dukungan dari yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dan kerja advokasi yang konsisten, kami akhirnya diterima baik oleh Dinas Dukcapil Kota Kupang. Tak hanya kepala dinas yang membuka ruang, tapi seluruh kepala bagian ikut duduk bersama kami, mereka mendengarkan, mencatat, dan membuka jalur layanan khusus. Kini, teman-teman bisa mengakses layanan dengan lebih aman, tanpa rasa takut. Saya tidak membawa nama “IMoF” sebagai pengganti negara. Saya datang mewakili hak warga negara yang selama ini tertinggal.

Meretas Jalan untuk Bantuan Sosial dan Usaha Mandiri

Akses terhadap bantuan sosial bukan hanya soal uang. Ini soal pengakuan. Dulu, nyaris mustahil bagi teman-teman LGBTQ+ untuk masuk dalam data DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Tapi setelah audiensi kami dengan Dinas Sosial dan Sentra Efata Kementerian Sosial, akhirnya pintu itu terbuka.

Sebanyak 24 transpuan kini mendapatkan bantuan modal usaha senilai Rp5 juta per orang. Ini bukan angka yang asal diminta. Saya tawar-menawar langsung dengan Kemensos, menjelaskan bahwa harga alat salon, kursi hidrolik, atau bahkan alat cukur profesional tidak bisa dibeli dengan dua juta rupiah. Dan mereka mendengarkan.

Lebih dari itu, kami membuktikan pertanggungjawaban. Teman-teman membangun usaha kecil: dari salon, warung kopi, sampai kios kelontong dan ternak unggas dan babi. Kami tunjukkan bahwa ketika diberi kesempatan dan kepercayaan, mereka bisa bangkit dengan martabat.

Kegiatan Pertemuan Forum Pelangi Kasih. (Dok. Foto IMoF NTT)

Forum Pelangi Kasih: Rumah Bagi Orang Tua yang Belajar Menerima

Bagi banyak orang, keluarga adalah pelindung. Tapi bagi sebagian teman LGBTQ+, keluarga justru menjadi ruang paling menyakitkan. Karena itu, kami bentuk Forum Pelangi Kasih sebagai wadah bagi para orang tua yang anaknya berada dalam spektrum keberagaman seksual dan gender.

Awalnya hanya satu-dua orang tua yang datang. Tapi perlahan, ruang ini menjadi tempat berbagi, menangis, memaafkan, dan belajar saling menerima. Saya ingat satu momen ketika seorang ibu berkata:

“Walau anakku sudah tidak ada, tapi semua anak-anak IMoF ini adalah anak-anakku juga.”

Kalimat itu meruntuhkan banyak tembok. Kami tidak pernah menyangka bahwa forum ini bisa menjadi kekuatan baru dimana orang tua menjadi tameng, menjadi jembatan perubahan. Bahkan beberapa dari mereka kini aktif menjadi narasumber untuk dialog dengan dinas, sekolah, dan kampung-kampung.

Tantangan Terbesar: Ketika Sistem Masih Bertumpu pada Representasi

Tapi perjuangan belum selesai. Tantangan terbesarnya hari ini adalah: layanan publik yang hanya terbuka ketika dibawa oleh IMoF. Banyak instansi kini percaya pada kami. Tapi bagaimana dengan teman-teman yang tidak tergabung atau tinggal di luar jangkauan?

Itulah kenapa saya mendorong kaderisasi dan sistem rujukan. Kami bangun ulang sistem keanggotaan IMoF, termasuk SOP perlindungan anak dan sistem pelaporan kekerasan berbasis komunitas. Kami juga mengedukasi teman-teman untuk menjadi penghubung antara komunitas dan instansi.

Saya ingin kelak, layanan ini tidak butuh “Bang Idho” untuk bisa diakses. Tapi cukup dengan keberanian mereka datang sendiri dan diterima dengan ramah.

Replikasi: Bisa, Tapi Harus Sesuai Konteks

Saya sering ditanya, apakah model advokasi ini bisa direplikasi di daerah lain? Jawab saya: bisa, tapi harus memahami konteks lokal.

Di Kupang, pendekatan kami banyak bersandar pada relasi personal, komunikasi yang tulus, dan kepercayaan jangka panjang. Saya tidak datang dengan dokumen rapi dan bahasa formal. Saya datang sebagai sesama orang Kupang, duduk, cerita, dan menawarkan solusi nyata. Karena itu, di manapun praktik ini mau diterapkan, jangan lupakan kekuatan mendengarkan. Edukasi bisa dimulai dari obrolan. Advokasi bisa lahir dari pelukan.

Kita Dilahirkan dari Rahim yang Berbeda

Saya sering bilang “Saya dan adik-adik saya lahir dari rahim yang sama, tapi kami berbeda karakter. Apalagi kita yang lahir dari rahim yang berbeda-beda. Wajar jika berbeda, yang tidak wajar adalah jika karena berbeda, kita saling menyakiti.”

Saya tidak ingin mengubah semua orang menjadi seperti saya. Saya hanya ingin dunia ini belajar bahwa keberagaman itu bukan ancaman. Bahwa setiap manusia, apapun orientasi dan identitas gendernya, punya hak untuk hidup, belajar, bekerja, dan dicintai. Kupang mungkin kecil di peta. Tapi dari kota kecil ini, kami sedang menyusun cerita yang lebih besar: bahwa perubahan bisa terjadi, asal kita berani memulainya.

Ditulis oleh Rose Merry berdasarkan wawancara online bersama Bang Ridho Herewila pada 15 Juli 2025.

2 KOMENTAR

  1. Sedikit cerita dari semua banyak cerita perjalanan dan perjuangan yang saya dan IMoF lalui, tapi penulisan cerita ini sevara garis besar mewaliki semua cerita yang telah kita lalui. Dengan membacanya rasa ini bercambur aduk dan jujur sampai meneteskan air mata. Terimakasih Ka Merry, Terimakasih YKPI.. Terimakasih buat semua IMoF NTT

  2. “Terima kasih Bang Idho dan teman-teman IMoF. Kalian adalah suara dari senyap yang tak henti menyala. Terus menyalakan bara perjuangan, memperjuangkan keadilan dan kesetaraan di Kupang. Praktik baik ini harus terus disuarakan agar semakin banyak yang mendengar dan bergerak bersama.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini