Firda Ainun, koordinator atau social leader Banguntapan Rumah Bersama, adalah sosok penggerak yang tak kenal lelah. Di tengah tantangan pasca pandemi, ia berhasil membangun jejaring anak muda lintas iman di Banguntapan. Berbagai kegiatan seperti FGD, sarasehan, diskusi sampah, hingga rutin sowan ke tokoh masyarakat dan kalurahan, berhasil dikonsolidasikannya.
“Kita mungkin tertatih-tatih, tapi fokus mengumpulkan kekuatan,” ujar Ainun dalam refleksi satu tahun pendampingan. Kepemimpinannya berhasil merangkul dukungan dari berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan pemerintah kalurahan yang awalnya sempat mengira Gusdurian adalah penjual durian. “Sekarang Pak Lurah malah mengenalkan kami ke Bupati,” ungkapnya dengan bangga.
Perjalanan Ainun tak mulus. Ia mengakui sempat hampir menyerah karena kerja pendampingan di Banguntapan terasa lebih menantang dibanding daerah lain seperti Gunungkidul atau Sleman. “Butuh tim yang solid. Pernah sampai memakai uang komunitas karena merasa tidak enak,” tuturnya jujur. Dari situ, ia belajar tentang kepemimpinan yang adaptif, menyadari setiap anggota tim punya kepribadian berbeda yang membutuhkan pendekatan khusus.
Sebagai sosialiter Gusdurian Jogja, Ainun memikul peran dan tanggung jawab besar: mengelola dan memastikan output serta outcome pendampingan berjalan, bertanggung jawab atas manajemen tim internal agar tetap kuat dan konsisten, mengkoordinasikan dan memfasilitasi pertemuan serta diskusi multi pihak (pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda), serta aktif berkoordinasi dan berkonsultasi dengan senior-senior Gusdurian yang berpengalaman.
Tak mudah bagi Ainun menjalankan perannya. Ia menghadapi tantangan berlapis, baik sebagai perempuan maupun penggerak komunitas. Secara internal, kondisi fisik seperti menstruasi terkadang memaksanya absen saat harus menjadi penangungjawab atau PIC. “Sebagai PIC kok aku enggak hadir, gitu-gitu ngerasain,” akunya. Untungnya, dukungan tim mengingatkannya bahwa tubuh punya hak untuk beristirahat. Secara eksternal, ia kerap merasakan sorotan berbeda, terutama saat menjadi satu-satunya perempuan di forum yang didominasi bapak-bapak. Meski bisa diatasi berkat kekuatan komunitas, pengalaman itu tetap meninggalkan kesan mendalam.
Tak hanya itu, menggerakkan multi pihak juga penuh rintangan. Sebagian tokoh agama atau rumah ibadah sulit diajak berkolaborasi lintas lokasi secara aktif, meski terbuka untuk agenda di tempat mereka sendiri. Menjangkau anak muda Banguntapan pun bukan hal sederhana. Banyak pemuda karang taruna tak melanjutkan pendidikan tinggi, dan ada prasangka terselubung saat diajak bergabung dengan Gusdurian yang dianggap “lebih pintar”. “Mereka tuh udah naruh prasangka duluan… padahal enggak juga,” ujar Ainun. Tantangan terberat justru menjembatani kesenjangan generasi: generasi senior yang merasa tak dipercaya anak muda, sementara mereka sendiri kesulitan mendorong pemuda di lingkupnya untuk bergerak. “Ini jadi pekerjaan rumah (PR) bagi aku sendiri,” aku Ainun.
Perjuangan Ainun tak sia-sia. Pada diri sendiri, ia merasakan peningkatan kepercayaan diri dan kapasitas yang signifikan. “Aku merasa kapasitasku meningkat… aku Jadi semakin percaya diri sama diri sendiri,” katanya. Di tingkat masyarakat, perubahan nyata mulai terlihat. Tokoh agama dan masyarakat perlahan terbiasa melihat perempuan berbicara di ruang publik. “Awalnya terasa aneh, tapi lama-lama akhirnya diterima… itu bagiku… satu pencapaian,” ucapnya. Mereka pun mulai mau mendengarkan dan mempertimbangkan pendapatnya. Yang membanggakan, stigma “penjual durian” pada Gusdurian akhirnya luluh. “Minimal kita tuh udah dikenal sebagai Gusdurian, tidak dianggap jualan durian lagi!” ujar Ainun. Pemerintah kalurahan pun kini aktif mengundang mereka dalam acara seperti Kirab Budaya, membuktikan benih kolaborasi mulai tumbuh. Yang paling substansial, terciptanya ruang aman berkat inisiatifnya: pembalut gratis untuk meringankan beban teman-teman perempuan, hotline pelaporan kekerasan, hingga prosedur ketat izin foto/video dengan form konsen bermaterai yang menghormati hak peserta meminta penghapusan konten. “Kami pikir… penyediaan pembalut gratis… akan meringankan beban,” tegasnya.
Berdasarkan pengalamannya, Ainun menekankan pentingnya dukungan konkret bagi perempuan muda pelopor perdamaian. Pertama, dukungan sensitif gender yang memahami beban berlapis perempuan—mulai dari stigma hingga kebutuhan dasar seperti pembalut. Penyediaan akses gratis menjadi solusi praktis yang sangat meringankan. Kedua, dukungan finansial untuk mendanai terciptanya ekosistem dan ruang aman yang inklusif. Terakhir, dukungan sistem berupa support system berpikiran terbuka (open mindset) yang mudah diajak belajar bersama. “Ekosistemnya mau… tidak fix mindset… sangat membantu mood,” ungkap Ainun. Baginya, kolaborasi dan kerjasama hanya mungkin lahir dari saling memahami.
Kesuksesan: Kepercayaan di Akar Rumput
Kesuksesan terbesar Ainun adalah membangun kepercayaan di tingkat akar rumput. Ia menemukan bahwa dialog paling jujur justru terjadi di ruang-ruang informal, seperti saat berkunjung ke rumah warga GKJ Pangkalan. “Di situlah mereka bercerita tentang masalah sebenarnya dengan tetangga yang berbeda keyakinan,” katanya.
Dengan semangat kolektif care, Ainun terus mendorong agar program kerukunan ini berlanjut. “Di era sekarang, kerja-kerja kerukunan ini justru semakin penting,” tegasnya. Melalui ketekunan dan kepekaannya, Firda Ainun telah membuktikan bahwa membangun kebersamaan di tengah keragaman bukanlah mimpi, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan dengan konsistensi dan hati yang tulus.
Ditulis oleh Rose Merry berdasarkan MSC di laporan akhir program Gusdurian 2025 dan wawancara tertulis dengan Firda Ainun Ula pada 17 Juni 2025.


