Di balik setiap angka dalam laporan keuangan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), tersimpan sebuah visi besar: Anggaran Berkeadilan. Visi ini bukan sekadar slogan, tetapi dijalankan secara nyata oleh para pelaksana di lapangan, salah satunya adalah Nirla Hastari seorang staf admin finance YKPI, yang melihat peran ini sebagai bagian dari misi besar lembaga.
Baginya, gender budgeting bukan teori rumit yang hanya ada di atas kertas. Ia melihatnya sebagai strategi praktis yang menanamkan perspektif gender dan inklusi sosial ke dalam setiap perencanaan dan pengeluaran. Tujuannya jelas—agar setiap rupiah benar-benar menyentuh kebutuhan dan prioritas semua orang: laki-laki, perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, kelompok keragaman gender, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya. Lebih dari sekadar teknis anggaran, proses ini menjadi jembatan menuju pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel.
Dalam menjalankan perannya, Ia menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara tim program dan tim keuangan. “Memastikan anggaran program mencerminkan prinsip Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) bukan kerja satu pihak. Ini hasil kerja sama yang saling mendukung sepanjang siklus program,” jelasnya. Kolaborasi ini mencakup seluruh tahapan: perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pelaporan.
Sebagai admin finance, Ia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan prinsip kehati-hatian diterapkan dalam setiap transaksi. Dana yang dialokasikan untuk GEDSI harus digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Tahap Perencanaan: Dimulai dari Checklist GEDSI
Dalam tahap perencanaan anggaran, YKPI telah menunjukkan komitmen kuat dengan mewajibkan penggunaan checklist GEDSI. Checklist ini menjadi panduan penting baginya dan tim YKPI untuk memastikan kebutuhan kelompok rentan tidak terabaikan. Dimana anggaran disusun secara eksplisit untuk mengakomodasi kebutuhan beragam, dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan dan rasionalitas.
Namun, perjalanan menuju anggaran yang benar-benar inklusif tak selalu mulus. Ia mencatat sejumlah tantangan, antara lain: keterbatasan anggaran, fokus yang masih sempit (misalnya hanya pada jenis disabilitas tertentu), keterbatasan pemahaman SDM soal GEDSI, perubahan kebijakan, belum adanya checklist GEDSI yang mapan di masa lalu, kurangnya perhatian terhadap mitigasi risiko, hingga belum menyeluruhnya penerapan perspektif GEDSI di semua lini.
Implementasi: Adaptif dan Akuntabel
Saat anggaran dijalankan, pengawasan dilakukan secara berkala. Jika di lapangan ditemukan perubahan kebutuhan atau hambatan, tim bisa melakukan realokasi anggaran, selama tetap memegang prinsip akuntabilitas dan rasionalitas. Ia menekankan pentingnya pelacakan khusus melalui monitoring dan evaluasi (M&E) yang rutin, baik dari sisi program maupun keuangan. Audit lembaga pun menjadi bagian dari sistem kontrol untuk memastikan pengeluaran benar-benar berdampak dan mendukung prinsip GEDSI.
Pelaporan: Transparansi yang Mengedepankan Inklusi
Pelaporan keuangan bulanan YKPI dirancang agar transparan dan akuntabel, khususnya dalam mencatat alokasi dana untuk kegiatan berbasis GEDSI. Laporan ini secara eksplisit mencantumkan komponen penganggaran GEDSI dan mengikuti SOP keuangan yang berlaku. Baginya, keberadaan sistem pelaporan yang mampu menganalisis pemanfaatan dana oleh kelompok rentan sangat penting. Di sinilah checklist GEDSI kembali menjadi alat bantu dalam menilai apakah rencana anggaran inklusif benar-benar terlaksana di lapangan.
Refleksi: Masih Ada Tantangan
Dalam refleksinya, Ia menyadari bahwa masih ada kesenjangan. Dana untuk kelompok rentan belum sepenuhnya optimal karena keterbatasan sumber daya dan kurangnya pemahaman mendalam terhadap kebutuhan spesifik kelompok tersebut. Bahkan, sering kali kelompok rentan sendiri belum sepenuhnya menyadari kebutuhan mereka.
Untuk mengatasi hal ini, Ia menyarankan dua langkah krusial: dilakukan asesmen mendalam sebelum perencanaan, dan disusun checklist GEDSI yang komprehensif sebagai acuan baku lembaga dalam merancang program dan anggaran.
Kolaborasi: Kunci Utama
Di akhir, Ia kembali menekankan pentingnya sinergi antara tim program dan admin finance. Fondasi utama keberhasilan penganggaran GEDSI terletak pada pemahaman bersama dan pembaruan pengetahuan secara berkala. Dengan komitmen yang sejalan dan komunikasi yang terbuka, GEDSI tidak hanya menjadi konsep, tetapi nyata hadir dalam setiap kegiatan YKPI.
Baginya, merajut anggaran yang responsif gender dan inklusif adalah tanggung jawab bersama. Ini bukan tugas instan, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut ketelitian, kerja sama, dan semangat keadilan yang tak pernah padam.
Artikel ini ditulis oleh Rose Merry berdasarkan wawancara tertulis dengan Nirla Hastari, Admin Finance Program YKPI pada tanggal 5 Juni 2025.


